
Tania terbangun dan menggeliat malas di atas tempat tidur.
Tania terlonjak saat mata nya sudah terbuka lebar dan melihat sekeliling.
Kamar dengan nuansa maskulin. Barang di dalam juga tergolong barang mewah semua. Kamar yang sangat luas dan nyaman tentunya.
Pasti yang punya ini termasuk orang kaya. Pikir Tania.
"Di mana ini?" Tania menelisik.
"Apa yang terjadi?" Tania meneliti tubuhnya.
"Aman, bajuku masih sama dan utuh" gumamnya.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Tania segera bangkit dan bersiaga di balik pintu.
Dibukanya pelan pintu kamar.
"Hei, sudah sadar kau ternyata?" ucap Arka sudah bersedekap di dada.
"Apa yang kau lakukan kepadaku?" tanya Tania masih mode siaga.
"Menolongmu" jawab enteng Arka.
"Apa maksudmu?" sela Tania.
"Tentu saja menolongmu karena kau pingsan semalam. Apa yang kau minum?" sahut Arka.
"Hanya latte" Tania menimpali.
"Eh, bentar-bentar...semalam kan Tuan William yang menghampiriku?" Tania mencoba mengingat kejadian semalam.
"Jadi kau berharap bersamanya?" sergah Arka.
"Ya nggak gitu, maksudku bukannya yang mendekat William. Tapi kenapa bisa aku sama kamu?" tanya Tania penasaran.
"Karena aku yang menolongmu" tandas Arka.
"Semalam kau pingsan. Pasti tuh laki yang menjebakmu" kata Arka tanpa ragu.
"Kenapa kau yakin sekali? Kau akan kena pasal pencemaran nama baik jika kata-katamu tidak berdasar" ucap Tania mengingatkan.
"Ha...ha...aku sudah tau macam-macam modus laki-laki model William" Arka terbahak.
Semalam Arga sudah mengirim sampling latte yang diminum oleh Tania ke sebuah laborat ternama. Dan pagi ini telah keluar hasil, bahwa minuman Tania mengandung obat tidur dengan dosis berlebih. Untung saja tidak terjadi henti jantung terhadap Tania.
"Bukannya kau juga mencurigai orang itu?" sela Arka.
"Heemmm" Tania mengangguk.
Tania tidak menceritakan kasus yang sedang ditangani karena itu memang privasi kliennya.
Ponsel Tania berdering bersamaan dengan dering ponsel Arka.
Masing-masing berbalik arah menuju ponsel masing-masing.
"Kau ke mana saja? Semalam kenapa tak pulang? Tau nggak mama cemas sampai nggak bisa tidur? Apa kau masih utuh? Apa kau di sana Tania?" berondong mama Rosa dengan pertanyaan bertubi-tubi.
"I.." Tania berusaha menjawab, tapi sudah di sela oleh mama Rosa.
"Tania, pulang sekarang!!!!!" perintah mama Rosa tak terbantahkan.
"Iya Mah, Tania akan pulang" jawab Tania dengan suara keras.
Bersamaan itu Arka juga mengangkat panggilan dari nenek.
"Arka, semalam kau janji mau menginap di rumah nenek. Kenapa kau tak datang? Apa kau sudah melupakan nenekmu yang renta ini. Jahat kamu...hiks...hiks..." seperti biasa nenek Arka berakting. Itu menurut Arka loh.
__ADS_1
"Iya, Arka akan datang" suara Arka juga dikeraskan.
"Tania, kau sedang dengan cowok?" tanya mama Rosa.
"Arka, kau sedang dengan cewek?" tanya nenek.
Suara mereka menggema bersamaan di ponsel yang berbeda.
Tania dan Arka saling pandang.
"Matih kita" seloroh mereka berdua kompak menepuk jidat.
"Taniaaaaaa..."
"Arkaaaaaa..."
Sungguh nyaring sekali suara di kedua ponsel itu.
Tania langsung menyambar tas yang oleh Arka diletakkan di atas meja.
"Betewe makasih ya atas pertolonganmu" pamit Tania berjalan menjauh dari Arka.
"Emang kau tau pintu keluar?" telisik Arka.
"Enggak" jawab Tania penuh kejujuran, karena memang tak tahu.
"Ha...ha...kau ini cewek yang terlalu percaya diri" sahut Arka terbahak.
Tania mendekat dan menyentil kening Arka, "Bisa diam nggak? Tunjukin sekarang!!!" jengah Tania.
Tania menghentikan langkah, "Eh, kau memang beneran orang kaya ya? Apartemen ini mewah banget" tanya Tania dan mengamati apartemen yang luas itu.
Arka menggaruk kepala yang tak gatal.
"Aku hanya numpang. Ingat temenku yang punya bengkel itu. Ini miliknya" kata Arka berbohong.
"Kau ini seperti anak laki sombong yang kukenal dulu" sambung Tania membuat Arka menautkan alis karena penasaran apa yang dikatakan oleh Tania.
"Kau punya teman juga? Kirain cewek seperti kamu nggak punya teman...wkwkwkwkkkk...?" canda Arka.
"Emang aku nggak punya teman. Selama nyaman sendiri, ngapain cari teman." sergah Tania.
"Idih sombong amat...tapi katanya kau punya kenalan anak laki sombong?" Arka menimpali dan mencoba mengorek cerita Tania.
"Kita nggak dekat ya, ngapain juga aku cerita ke kamu. Buang-buang waktu aja" Tania meninggalkan apartemen Arka dan langsung memesan ojek online untuk mengantarkannya pulang ke rumah.
Untung weekend. Batin Tania.
Setelah Tania menghilang, Arka kembali masuk.
"Dasar cewek aneh" gumamnya dan selanjutnya Arka ingin meneruskan tidur karena sekarang badan terasa sakit semua karena semalam tidur di sofa ruang tengah.
Baru saja hendak menaruh kepala di atas bantal, ponsel nya kembali berdering.
Dan nenek lah yang menelpon. Mana berani Arka mereject panggilan itu.
"Arka, nenek tunggu di rumah. SEKARANG!!!" kata nenek penuh penekanan.
Arka sampai menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Arkaaaaaa" panggil nenek sudah seperti suara konser musik.
"Iya...iya...Arka mandi dulu" ujar Arka dan langsung menutup panggilan dari nenek.
.
Tania masuk rumah mengendap-endap. Pergerakan maling aja kalah halus sama gerakan telapak kaki Tania.
__ADS_1
Karena berjalan sambil membungkuk dan menunduk, tiba-tiba kepalanya menabrak sesuatu yang empuk. Seperti perut mamah, batin Tania.
Tania mendongak. Dan dilihatnya mama Rosa sudah bersedekap menunggu kedatangan Tania.
Tania menggaruk kepala, seperti maling ketangkap basah.
Mama Rosa menatap tajam ke arah putri satu-satunya itu.
"Darimana?" mama Rosa memulai interogasi.
"Undangan tuan Hadinoto" Tania nyengir kuda.
"Acaranya memang sampai pagi?" sorot mata tak berkedip ke arah Tania.
"Enggak" jawab Tania.
"Terus?" mama Rosa mengejar pertanyaan ke Tania.
"Terus aku baru pulang sekarang, mau mandi terus bobok lagi" lanjut Tania enteng.
"Tania Fahira. Anak ayah Bagus Priyanto" nada mama Rosa mulai meninggi.
"He...he...biasa saja Mah. Aku juga dengar" tukas Tania cengengesan.
"Boleh duduk?" sela Tania masih saja tak serius.
"Heemmmmm" mama Rosa bergumam. Rasa marahnya sudah sampai ubun-ubun menghadapi putri tunggalnya itu.
"Cerita!!!" tuntut mama Rosa.
"Apa yang harus diceritakan, putrimu ini masih utuh Mah" Tania mengambil duduk di ruang tengah.
"Awas saja kalau kau mencoreng nama baik keluarga" ancam mama Rosa.
"Bukannya nama baik keluarga kita sudah tak baik ya Mah? Nyatanya keluarga Benzema aja sudah nolak" kata Tania kecut.
"Nggak Tania, mama yakin ayahmu tak bersalah. Suatu saat kau pasti akan tau kebenarannya" nada mama Rosa mulai turun satu oktaf.
"Kalau mama tau kenapa nggak cerita sekarang aja? Aku sudah dewasa Mah" sahut Tania.
"Cerita dulu apa yang terjadi semalam" mama Rosa kembali ke topik awal.
Tania menceritakan apa yang terjadi, mulai kejadian dia dijebak dengan obat tidur dosis tinggi hingga akhirnya menginap di apartemen Arka.
"Yakin, kamu nggak diapa-apain?" mama Rosa meraba seluruh tubuh putrinya itu.
"Idih, apaan sih Mah? Geli tau" Tania menjauhi mama Rosa.
"Kamu harus bawa laki-laki itu ke sini. Mama harus mengenalnya. Berani-beraninya dia membawa putriku ke rumahnya tanpa ijin dariku!" celetuk mama Rosa, tapi sebuah ancaman bagi Tania.
"Sudahlah Mah. Nggak usah diperpanjang" rajuk Tania. Akan panjang urusannya jika bersinggungan dengan Arka Danendra. Batin Tania.
"No, nggak ada penolakan. Besok dia harus sudah berada di hadapan mama" ancam mama Rosa.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote yah supaya popularitas naik dan readers semakin banyak. Senin ditunggu vote nya.
Buat nambah imun othor, biar semangat nulis πππ
Iklan di bawah, di klik boleh loh
Jangan lupa follow IG aku juga dong
@moenaelsa_
__ADS_1
π