
Tania yang sedang berada dalam mobil sendirian, mencari cara untuk membantu mereka secara tidak langsung.
"Tapi bagaimana caranya ya?" pikir Tania.
"Tak mungkin suamiku akan membiarkan aku begitu saja" gumam Tania.
Kebetulan dilihatnya anak buah Smith yang disuruh beli pembalut barusan datang.
"Husssttt....hussstttt..." panggil Tania dengan kaca mobil yang sedikit terbuka.
Orang dengan tampang garang itupun menoleh.
"Kesini!" panggil Tania tanpa rasa takut sedikitpun.
Orang yang dipanggilpun mendekat, dia terlihat mengkerutkan dahi. Merasa aneh mungkin karena Tania berada dalam mobil sambil duduk manis.
"Mana pembalut yang aku pesan, urgen nih! Perutku juga sakit" kata Tania sungguh pintar beralasan.
"Bagaimana kamu bisa di sini nyonya?" tanyanya masih merasa aneh.
"Nggak tahu, aku disuruh tuan mu tadi untuk menunggu di sini" bilang Tania.
"Nggak mungkin tuan Smith menyuruh anda di sini" kata orang itu tak percaya.
"Ya sudah kalau nggak percaya, nyatanya aku terkunci di sini dan nggak bisa keluar" kata Tania pura-pura sewot.
Padahal sama Dewa, meski disuruh tetap diam tapi nggak mungkin juga Dewa meninggalkan Tania dalam keadaan terkunci di sana.
"Mana pembalutku" pinta Tania dengan menengadahkan tangan lewat kaca mobil yang terbuka sedikit.
"Nih, bikin repot aja" gerutu orang itu tapi tetap menyerahkan apa yang diminta Tania.
"Oh ya, Smith tadi bilang kalau kamu datang suruh belikan aku makanan" lanjut Tania.
"Hah? Nggak mungkin tuan Smith menyuruhku seperti itu?" katanya menanggapi.
"Kalau nggak percaya, masuk sana" hardik Tania.
"Meski Smith menculikku, dia juga butuh aku lho. Kalau aku melarikan diri tak mungkin dia terima bayaran dari tuan Arkan. Apalagi engkau, pasti zonk nggak akan dapat apa-apa" imbuh Tania semakin banyak bicara.
Dia diam memikirkan kata-kata Tania.
"Oke, aku belikan. Daripada aku nggak dapat komisi. Minta apa?" orang itu menyanggupi permintaan Tania.
Terlihat sudut bibir Tania terangkat, tanpa terlihat oleh orang yang disuruhnya.
"Belikan nasi padang lauk rendang dan ayam goreng" pinta Tania.
Tanpa menjawab orang itu berlalu begitu saja dan meraih kembali sepeda motor terparkir yang tadi dibawanya.
Tania terkekeh sendirian, "Mau saja kubodohi...hi...hi...".
.
Sementara di dalam Arka dan Sebastian sedang menggertak Smith untuk segera menghubungi Arkan.
"Tak akan kulakukan" kata Smith dengan senyum sinis.
"Ha...ha...kamu masih saja berani melawan perintah kami" ucap Sebastian.
Dewa menunjukkan sebuah video yang dikirim Bara barusan.
Nampak di sana istri dan anak Smith tengah berada di suatu tempat.
"Sialan kalian. Jangan apa-apakan keluarga ku" umpat Smith.
"Ha...ha....kamu sekarang tidak berada dalam posisi menguntungkan" Arka pun ikutan tertawa.
"Cepat kamu hubungi bos kamu! Suruh dia kemari dan bilang kalau Tania sudah berada dalam pengawasan kamu" suruh Arka.
__ADS_1
Dewa mendekatkan ponsel Smith yang dibawanya.
"Paswordnya???" kata Dewa.
Di bawah todongan senjata, Smith mengatakan pasword ponsel miliknya.
"Hubungi dia!" kali ini Sebastian yang menyuruh.
Mau tak mau Smith pun akhirnya menuruti orang-orang yang menyuruhnya.
"Halo Smith. Apa kamu sudah berhasil dengan tugasmu?" terdengar suara bariton Arkan di sana.
"Be...benar Arkan. Apa kamu nggak ke sini? Atau mau kuapakan wanita yang sudah buat repot ini" celetukan Smith membuat Arka mendelik ke arahnya. Enak saja bilang istriku buat repot.
"Aku nggak akan ke situ. Bawa saja wanita itu di stasiun kota dekat pembelian loket. Suruh saja orang kamu mengantarnya, agar tak mencurigakan" suruh Arkan.
"Terus?" kata Smith.
"Tunggu perintah dariku selanjutnya" jawab Arkan membuat Smith terduduk lemas. Akan semakin panjang urusan, lantas keselamatan keluargaku bagaimana.
Arkan memutus panggilan Smith begitu saja.
"Sialan" umpat Arka.
"Licin sekali dia" imbuh Sebastian.
"Apa yang akan kita lakukan?" sela Dewa.
"Sementara kita ikuti apa kata Arkan saja" ucap Tian.
"Apa nggak bahaya buat istri aku?" ucap Arka.
"Tapi kalau berhenti di sini, nanggung. Masalah hanya terselesaikan sebagian. Alias belum tuntas" ucap Dewa.
"Tapi kalau dilanjut, nyonya muda akan berbahaya. Apalagi kondisi pasca melahirkan lagi" Pandu pun menyela.
Arga menatap tajam Smith.
"Tapi kan harus ada nyonya Tania" selanya.
"Nggak bisa. Pikirkan sendiri caranya" tandas Arga.
Sebastian pun menemukan sebuah cara dan membisikkan sesuatu kepada Arka.
"Oke, jangan mau kita dibodohi oleh satu orang" sela Arga.
"Kita tawan orang ini saja" kata Dewa sambil menarik krah baju Smith.
"Jangan bebasin dia sebelum masalah ini selesai" kata Sebastian menegaskan.
"Heemmmmmmm" Arka menyetujui usulan semua sambil manggut-manggut.
Arka balik ke mobil di mana Tania berada, dilihatnya sang istri yang tengah makan dengan lahap seporsi nasi padang.
"Loh?" tatap Arka merasa aneh dan sambil menepuk jidat saat melihat sang istri makan dengan lahap di situasi seperti ini. Dan di belakang mobil ada seorang dengan kondisi terikat.
"Siapa dia?" tanya Arka.
"Anak buah Smith" jawab Tania enteng daq masih saja meneruskan makannya.
"Laper yank" imbuhnya seakan mengerti arti tatapan sang suami
"Ayo pulang!" kata Arka.
"Arkannya kan belum datang?" ucap Tania.
"Mau nungguin Arkan?" ucap Arka sewot.
"Kok sewot sih, katanya mau nangkap si Arkan" sela Tania yang baru saja menyelesaikan suapan terakhir.
__ADS_1
"Nggak jadi, dia licin bagai belut" tutur Arka tanpa menceritakan rencana yang dia buat bersama yang lain.
Tania pun menuruti apa kata suami.
"Oke lah, kita pulang" seru Tania.
Arka mengirimi pesan kepada yang lain, untuk mengantarkan Tania terlebih dahulu. Dan memerintahkan yang lain untuk bergerak terlebih dahulu.
Iring-iringan mobil dalam jumlah lumayan banyak bergeser ke tempat lain.
Smith dan anak buahnya dibawa serta ke markas milik Sebastian, agar tak mambuat Arkan curiga.
Saat di perjalanan, "Yank, apa yang kalian rencanakan?" telisik Tania karena beberapa kali ponsel Arka berbunyi.
"Nggak ada" singkat Arka.
"Nggak mungkin kamu membiarkan begitu saja si Arkan dan Smith. Apalagi sudah ada Sebastian dan Dewa. Mana mereka mau pekerjaan nanggung gitu" celoteh Tania.
"Memang susah kalau punya istri tahu hukum itu" sambung Arka mengusap tengkuknya.
"He...he..." Tania hanya terkekeh menanggapinya.
"Loh, kita ke mansion?" tanya Tania saat tahu arah mobil ke mana.
"Iya lah. Baby A mau dititipkan siapa lagi kalau bukan nenek Gemmy dan mama Rosa" jelas Arka.
"Siap tuan bos" celetuk Tania menanggapi.
Nenek Gemmy memeluk Tania yang barusan datang.
Mama Rosa langsung mencegat Tania dan tak memperbolehkan mendekat ke Baby 'A'.
"Stop, bersihin badan dulu. Abis itu makan" suruh mama Rosa.
Tania memberengut karena larangan sang mama.
"Iya...iya...mandi dulu" ujar Tania.
"Dia nggak makan nek, sudah kenyang habis makan nasi padang" sela Arka memberitahu.
"Owwwhhhh...kok bisa belok duluan. Badan dekil gitu" olok mama.
"Issshhhh mama apaan sih. Siapa yang belok duluan, wong makannya dibelikan sama penculik" terang Tania.
"Haaaahhhh????" mama Rosa dan nenek Gemmy membego mendengar ucapan Tania. Bisa-bisanya makan nasi padang saat diculik.
"Biasa saja nek, Mah" kata Tania berlalu menuju kamar untuk membersihkan diri.
"Yank, aku pergi yaaaa???" pamit Arka sebelum tubuh Tania masuk ke kamar.
"Mau ke mana?" kepala Tania kembali nongol.
"Ntar kukabarin" ucap Arka berlalu begitu saja dari hadapan ketiga wanita di mansion.
"Isssshhhhhh pasti mau 'main-main' sama Tian dan Dewa juga yang lain dech" ucap Tania masuk kamar. Sementara Baby 'A' terdiam dalam gendongan mama Rosa.
Arka menyusul ke markas Sebastian. Kali ini dia meminta anak buahnya untuk mengemudikan mobil. Capek juga sedari tadi nyetir sendiri.
Sambil menyandarkan kepala ke kursi mobil "Tinggal menyelesaikan urusan dengan Arkan saja" batin Arka.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
Klik juga iklannya
__ADS_1
π