Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Ungkapan Cinta


__ADS_3

Tania duduk gabung dengan nenek Gemmy. Sementara Arka oleh papa Rendra diajak berkenalan dengan para kolega bisnis dari Rahardjo Grub.


Arka yang awalnya menolak, pada akhirnya menurut karena Tania lah yang mendorong untuk ikut papa Rendra.


"Kau memang lah penjinak Arka sayang" kata nenek Gemmy sepeninggal Arka.


"Kok begitu nek?" Tania menimpali.


"Sangat susah meminta Arka untuk seperti hari ini. Hampir satu dasawarsa nenek merayu dia. Baru kali ini semua terlaksana. Itu semua berkatmu" jelas nenek Gemmy terharu.


"Nek" peluk Tania ke nenek.


Keakraban Tania dengan nenek Gemmy, banyak juga yang tak suka.


Di antaranya tuan William yang terlihat mengepalkan genggaman tangan. Dan tentu saja Maura Hadinoto tak ketinggalan.


Maura mulai melancarkan aksi. Dia pun mendekat ke meja nenek Gemmy dan Tania.


"Selamat siang nenek" sapanya dengan sok akrab.


Nenek Gemmy memicingkan mata, merasa tak kenal dengan wanita yang berada di hadapannya saat ini.


"Perkenalkan nek, saya Maura Hadinoto teman se tim dengan Nona Tania Fahira" Maura mengulurkan tangan untuk bersalaman.


Ternyata gayung tak bersambut, nenek Gemmy tak menyambut uluran tangan Maura sampai Maura menarik kembali tangannya.


"Aku rasa kita tak seakrab itu. Hingga sampai kau berani memanggilku nenek" tersirat nada tegas di setiap ucapan nenek renta itu.


"Maaf kan kelancangan temanku nek" lerai Tania. Tania sudah mengira, jika nenek sudah tau siapa wanita licik di depannya itu.


Maura kembali ke mejanya karena tak berhasil menjilat ke pemilik perusahaan Rahardjo.


Benzema mendekat ke arah Maura.


"Bagaimana ini sayang, bisa jadi ini akhir karirku? Andai kutahu kalau dia pewaris dari perusahaan tempat aku bekerja" nada sesal di ucapan Benzema.


"Kenapa tanya padaku, pikir aja sendiri" jawab Maura ketus.


Benzema terdiam. Andai yang kucurhati Tania, pasti dia akan membantu memberikan solusi. Batin Benzema. Meski kadang tak kujalani semua, tapi Tania tetap tak memprotesnya.


Di meja Tania, suasana hati nenek Gemmy sudah balik seperti sebelum kedatangan Maura di mejanya.


"Abis ini beneran pulang sama nenek ya?" kata Nenek.


"Apa nggak apa-apa nek? Pasti nantinya banyak yang akan menggunjing" ucap Tania.


"Biar aja, anjing menggonggong kafilah berlalu" kata nenek.


Acara ramah tamah tetap berlangsung. Tapi dengan santainya Arka menggandeng Tania pergi meninggalkan acara. Padahal tokoh utama dalam acara ini adalah Arka Danendra.


"Eh, kita mau ke mana?" telisik Tania.


"Hussssttt...diam sebentar bisa nggak sih?" Arka menaruh telunjuknya di bibir Tania, membuat Tania langsung terdiam. Kaget dengan reaksi Arka yang mulai berani menyentuhnya.


"Tapi nenek?" Tania reflek bertanya, karena dia diajak oleh nenek Gemmy untuk pulang bersama.

__ADS_1


"Bisa diam nggak? Kalau nggak akan kucium bibir kamu yang banyak omong itu" Tania reflek menutup bibirnya.


"Ha...ha...usia sudah tiga puluh an, tapi tingkah bagai cewek belasan" Arka tertawa.


Sebuah cubitan mendarat di lengan Arka.


"Ejek aja terus. Bukannya kau lebih tua dua tahun di atasku?" balas Tania.


"Tapi wajahku kan masih dua puluhan" elak Arka.


"Sudah...sudah...bahas umur nggak bakalan selesai. Anggap aja kita sebaya dan umur tujuh belasan" sahut Tania.


"Setuju...ha...ha..." Arka menanggapi.


Arka menutup mata Tania dengan sehelai kain yang telah disiapkan sebelumnya.


"Tuan muda, anda hendak ke mana?" tanya Pandu yang menjadi asistennya mulai saat ini.


"Jangan coba-coba kau ikuti mobilku. Selesaikan urusan yang belum kuselesaikan" perintah Arka ke Pandu dengan tetap menggandeng Tania.


"Siapa?" tanya Tania saat pendengarannya memastikan kalau ada langkah yang menjauhi mereka.


"Dia Pandu, asistenku" jelas Arka.


"Ternyata kau memang benar-benar tuan muda. Oh...Tania Fahira, apa aku harus bersyukur atau malah sebaliknya?" monolog Tania.


Bersyukur mendapatkan tunangan tampan dan juga mapan, tapi pasti akan banyak rintangan yang akan dihadapi Tania karena banyak para fans yang akan mendekat ke sosok Arka Danendra


Arka membawa Tania masuk ke mobil mewah yang telah disiapkan. Arka sekali lagi menolak sopir yang disiapkan untuknya.


"Sudah boleh dibuka belum nih ikatannya?" tanya Tania saat Arka mengandengnya turun dari mobil.


Hari sudah menjelang sore saat mereka tiba di sana, sehingga suasana tak begitu panas.


Arka membuka ikatan di mata Tania.


Tania mengerjapkan mata untuk melihat sekeliling.


"Bentar...bentar...bukannya ini danau yang juga sering aku datangin" celetuk Tania.


"Tempat favorit kalau lagi ingin menyepi" imbuh Tania.


"Sebelum aku ke Amerika, ini juga tempat favoritku" tukas Arka.


"Oh ya?"


"Heemmm" gumam Arka.


"Sampai suatu sore, aku nggak jadi ke sini karena melihat seorang cewek yang sedang bertengkar dengan pacarnya di sini. Dan berakhir mobilku terkena tendangan mautnya" cerita Arka dengan tawa menghiasi bibirnya.


Tania menengok ke arah Arka, "Jangan bilang kau lihat adeganku menghajar laki-laki br3ngsek itu" ucapnya.


"Rugi dong kalau aku sampai tak melihat" ledek Arka.


"Haisssss...usil juga kau" kata Tania kesal.

__ADS_1


"Sekarang kau cerita juga, kenapa bisa suka dengan danau ini?" tanya Tania.


"Sama seperti kamu, suka kesunyian. Aku ke sini kalau lagi banyak masalah" ungkap Arka.


"Terus sore itu?" telisik Tania.


"Lagi tengkar dengan nenek, karena dipaksa untuk segera mengambil alih Panapion dari tangan papa" jelas Arka.


"Padahal di tangan papa, Panapion masih bertahan walau bisa dikatakan stagnan. Tidak ada kemajuan berarti" lanjut Arka.


Tania masih setia mendengarkan.


"Arka, apa kau yakin dengan keputusan hari ini?" tanya Tania serius.


"Yakin" jawab Arka.


"Alasannya?"


"Karena ada kamu di sisi aku" Arka mengungkapkan alasannya.


"Terus kenapa kau yakin denganku? Padahal aku bukanlah siapa-siapa dibanding keluarga kamu. Coba kasih tau alasan kamu agar aku bisa yakin" Tania lega bisa mengungkapkan keraguannya.


Hubungan delapan tahun aja bisa kandas, apalagi dengan Arka yang belum genap sebulan.


"Apa kau ragu dengan niat baikku?" telisik Arka dengan menatap Tania.


Tania mengangguk.


"Pasti trauma kamu sebelumnya kan yang menjadi alasan?" tebak Arka. Lagi-lagi Tania mengangguk.


"Tania, cinta itu tak butuh alasan seperti yang kuucap sebelumnya" kata Arka.


"Maksudnya?" sela Tania.


"Misal, aku cinta kamu karena kamu baik. Apa kalau kamu tak baik lagi akan membuat cintaku luntur. Kan tidak seperti itu" jelas Arka.


"Tapi, keluarga kita beda Arka" imbuh Tania.


"Cinta juga tidak ada tapi-tapian...he..he..." tambah Arka.


Arka menggenggam erat Tania, "Semakin ke sini aku semakin yakin kalau kamu lah jodoh yang dikirim Tuhan untuk mendampingiku".


Arka merangkul Tania yang duduk di sampingnya.


"I love You Tania Fahira" ucap serius Arka.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir.


Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊


Klik juga dong iklannya

__ADS_1


πŸ’


Vote...vote...vote...πŸ€—πŸ€—


__ADS_2