
"APA?, 10 menit. Kak Morens memang benar-benar keterlaluan. San, gimana kalau kita kawin lari aja." ucap Serena merasa kesal pada Morens.
Sandi menggelengkan kepalanya
"Enggak, aku gak mau lakuin itu sayang. Aku juga gak mau Morens tambah membenciku."
"Tapi aku takut Morens akan memisahkan kita dan gak setuju sama hubungan kita, biarpun daddy dan mommy sudah setuju, tapi aku gak mau menentang keputusan Morens." ucap Serena lirih.
"Kalau gitu tugas kita sekarang adalah harus meyakinkan Morens dan membuat Morens menyetujui juga memberi restu pada kita."
"Tapi bagaimana kalau kita masih gak berhasil?"
"Percaya sama aku, sebuah usaha gak akan mengkhianati hasil. Sebuah ketulusan gak akan menghasilkan kekecewaan walaupun hasilnya gak sesuai harapan." ucap Sandi sambil menggenggam tangan Serena.
Serena terdiam, dia hanya merasa takut kalau semua akan berakhir tidak sesuai dengan harapan. Serena memeluk erat Sandi, Sandi mengusap punggung Serena seraya memberikan ketenangan pada Serena.
Pada saat itu mereka dikagetkan dengan Morens yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar inap itu.
"Waktunya habis." ucap Morens tanpa ekspresi.
"Iya, terima kasih."
"Kak." protes Serena.
"Ser." Sandi memanggil Serena sambil menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan agar Serena tidak membantah Morens.
"Morens terima kasih atas waktunya, maaf sudah mengganggu." ucap Sandi tulus.
Lalu tatapan Sandi beralih pada Serena.
"Aku pulang dulu, cepat pulih dan jaga kesehatan."
Sandi bangkit dari duduknya dan beranjak untuk pergi, Serena hanya dapat melihat Sandi dengan mata yang berkaca-kaca.
Begitu Sandi tiba di depan pintu dan memegang handle pintu.
"Tunggu."
Sandi berhenti, kemudian berbalik badan menatap Morens.
"Iya."
"Dengar, aku cuma akan bicara satu kali dan gak akan ada siaran ulang."
Serena sudah merasa was-was akan apa yang akan dikatakan oleh Morens, sedangkan Sandi dia sudah siap mendengarkan apapun yang akan diucapkan oleh Morens.
__ADS_1
"Mulai detik ini kalian tidak boleh bertemu dengan sembunyi-sembunyi, kalian juga tidak boleh berbicara melalui ponsel dan kalian juga tidak boleh bertemu sekali-kali." ucap Morens datar.
"Kak, kenapa kamu tega banget sih sama aku. Selama ini aku selalu nurutin apa mau kakak. Ternyata kakak jahat." Serena berkata dengan sedikit frustasi."
"Ser, jangan ngomong kaya gitu. Biar gimanapun dia itu kakak kamu, dia cuma mau yang terbaik buat kamu."Sandi menasehati Serena.
"Tapi San."
"Udah cukup dramanya, mulai sekarang kalian mau tidak mau mengikuti perintah ku. Kalian harus selalu ketemu dimana saja, kalian juga harus selalu ngobrol secara langsung dan kalian juga harus bertemu secara terbuka. Kalian paham." Morens berkata dengan lantang.
Serena yang tadi hanya menunduk, sontak mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Morens. Serena masih mencoba memahami apa maksud dari ucapan kakaknya itu.
Sedangkan Sandi hanya tersenyum melihat ekspresi bingung dari Serena.
"Maksudnya?" tanya Serena.
"Gak ada siaran ulang." jawab Morens yang terduduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
Sesaat kemudian Serena baru paham apa yang dimaksud Morens, setelah dia melihat Sandi yang menganggukan kepalanya.
"Kak, apa maksudnya?" Serena bertanya dengan manja.
"Berisik."
"I LOVE U brother, you Are the best."
"Hei nakal, hati-hati sama lukamu. Kalau kau sampai hasil dari operasi mu gagal, aku gak mau tanggung jawab kalau Sandi mencari pasangan lain." Morens berkata dengan lembut.
"Hah jahat." Serena terisak sambil bersandar di lengan Morens.
"Terima kasih kak."
"Makasih buat apa?" tanya Morens pura-pura tak acuh.
"Buat semuanya, buat kasih sayangmu, buat perhatianmu, dan buat kepedulian mu. Aku bangga punya kakak kaya kak Morens, ya walaupun agak mesum."
"Oh, masih bisa mencela ya." Morens mencubit hidung Serena.
"Aww, sakit."
Sandi yang menyaksikan pemandangan itu, merasa sangat terharu. Dia ikut merasakan apa itu arti kasih sayang sebuah keluarga terutama kakak adik. Dia merasa sedikit iri pada Morens karena dia mempunyai orang tua yang masih lengkap, adik yang manja dan penurut, juga istri yang sangat menyayanginya.
Sandi segera menepiskan pemikiran itu, karena sebentar lagi dia akan masuk ke dalam keluarga yang istimewa itu. Dengan begitu dia dapat menggantikan rasa kesepian yang dia alami dari remaja, karena dia adalah seorang anak tunggal dan juga sang ayah yang telah pergi sejak lama.
Sandi mendekati Morens dan berjongkok di hadapan Morens. Kemudian dia langsung mencium tangan Morens.
__ADS_1
Morens yang mendapat perlakuan seperti itu sangat terkejut, dia otomatis langsung menarik tangannya yang di genggam dan sempat dicium oleh Sandi. Dia merasa sangat jijik atas hal itu.
Bisa-bisanya Sandi berbuat seperti itu, yang membuat Morens berkali-kali bergidik ngeri.
"Hei, kamu ngapain?. Lepas gak!, aku jijik tau. Asal kamu tau, aku masih sangat normal dan sangat mencintai istriku. Lagi pula, biarpun di dunia ini udah gak ada lagi wanita, aku tetap gak bakal mau sama kamu ya. Aku gak mau ya menjadi pemain anggar dadakan dan saling adu tembak." ucap Morens sambil mengerdikan bahunya serasa geli.
Sandi yang mendengar perkataan Morens itu, hanya bisa tersenyum.
"Terima kasih, Serena sangat beruntung memiliki seorang kakak sepertimu. Yang sangat bertanggung jawab pada keluarga." Sandi berkata dengan tulus.
"Ada yang ketinggalan, aku juga kaya raya, tampan, baik hati, rajin menabung, rajin merayu dan juga tidak sombong." perkataan narsis Morens sambil dagunya sedikit terangkat.
"Wuh,,,, Narsis abis." ejek Serena.
"Iri, bilang siis." jawab Morens dengan mengejek.
Sebenarnya saat Morens memberikan waktu untuk Sandi, dia tidak Benar-benar pergi dari sana. Dia keluar ruangan dengan menutup pintu yang sengaja disisakan sedikit terbuka.
Morens ingin mendengar dengan jelas pembicaraan Sandi dan Serena. Saat itu, Morens dapat melihat sikap dewasa Sandi dengan tidak memaksakan kehendaknya, tidak mencari kesempatan saat genting dan juga tidak mau mengikuti permintaan gila Serena.
Sandi benar-benar ingin berusaha mendapatkan restu dari Morens dengan cara yang benar, dan itu membuat Morens berpikir keras akan keputusan apa yang akan dia ambil.
Dengan segenap pergulatan batin antara hati dan juga egonya, akhirnya Morens bisa menentukan suatu keputusan yang bisa membahagiakan untuk semua.
Setelah dirasa cukup, Morens masuk kembali ke ruang inap Serena yang disana saat ini Sandi ada di dalamnya.
Morens bersikap sedatar mungkin seperti biasanya dan juga tanpa ekspresi yang sekiranya dapat dibaca oleh orang lain, apa yang tengah dia pikirkan.
Men komen komen, EUY.
Jempol gesek-gesek di tombol like', bisa juga di kolom hadiah dan juga VOTE.
Maacih.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
TBC
LOVE U ALL MMMUUUAAACCHHH
💜💜💜💜💜
__ADS_1