
Setelah habis menjadi bahan ejekan oleh keluarganya, Morens hanya duduk di kursi dengan sebuah meja yang menghidangkan buah pisang spesial dengan kualitas terbaik dan ukuran yang mencengangkan.
Dia duduk disana sendiri, karena istri dan anaknya sibuk menikmati pesta perayaan aniversary dan penyambutan anaknya.
Morens memperhatikan istri dan anak-anaknya yang tampak bahagia meski dia tidak bersama mereka.
"Kalian melupakan aku, bahkan kalian terlihat sangat bahagia tanpa aku. Apa aku tidak berarti untuk kalian, kalian benar-benar tega." Morens bermonolog dan berucap dengan sendu.
Untuk meluapkan kekesalannya, Morens memakan buah pisang yang berada dihadapannya dengan sangat cepat.
"Sweety, you forget me. My girl and my Boy kalian tidak sayang dengan daddy kalian yang tampan ini. Kalian tega membiarkan ketampanan daddy terabaikan sia-sia." Morens berbicara dengan masih memakan pisang tadi.
Sampai tiba-tiba dia menghentikan kunyahan di mulutnya.
"Kok pisang yang ini rasanya aneh ya, agak sepet gitu sih." Morens masih tetap menatap ke arah anak dan istrinya sambil tetap melanjutkan makan pisangnya.
"Tapi kok lama-lama jadi pahit ya."
Morens melihat ke arah pisang yang dia pegang, matanya membelalak, dia terkejut begitu tau kalau dari tadi dia memakan pisang tanpa mengupas kulitnya.
Morens langsung berlari menuju ke arah toilet khusus Owner family. Chintiya yang hendak mengantarkan Morens makanan, melihat Morens berlari. Chintiya menyusul Morens, dia takut terjadi sesuatu pada Morens.
Saat masuk kedalam toilet, Chintiya melihat Morens sedang muntah-muntah. Chintiya mendekati Morens dan mengusap punggung Morens dengan perhatian.
"Dad, Are you okey?" tanya Chintiya khawatir. Namun Morens hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu kenapa dad?, kok muntah-muntah gini!" tanya Chintiya lagi sambil tetap mengusap punggung Morens.
Setelah dirasa cukup, Morens mengangkat wajahnya dan menatap Chintiya. Chintiya terkejut begitu melihat wajah Morens yang memerah dan matanya yang terlihat habis menangis.
"Dad, ada apa sih?, kok kamu nangis?" Chintiya semakin khawatir.
"Tadi,,, aku..."
"Tadi aku apa?, ngomong apa yang jelas!" Chintiya tidak sabar menunggu Morens bicara.
"Tadi aku,,, makan pisang."
__ADS_1
"Makan pisang!... Kok sampai muntah-muntah gitu, biasanya juga kamu makan pisang tapi gak kenapa-kenapa. Padahal pisangnya kualitas super loh, aku sendiri Kok yang pilih. Apa jangan-jangan!!!" cerocos Chintiya panjang lebar.
Morens hanya bisa menganga mendengar istrinya yang bicara begitu panjang hanya dengan satu kali tarikan napas. Morens tercengang dan bingung, bagaimana istrinya bisa seperti itu.
"Apa jangan-jangan!!, pisangnya mengandung SIANIDA. Akhir-akhir ini kan banyak banget makanan dan minuman yang mengandung SIANIDA. Kopi bersianida, sate bersianida, nasi goreng bersianida. Nah sekarang ada pisang bersianida. Morens ayo muntahkan lagi yang banyak, abis ini aku panggil dokter buat bantu kamu. Sekarang yang penting kamu muntah dulu." kembali lagi Chintiya bicara dengan panjang kali lebar kali tinggi sama dengan luas. Sambil memijat tengkuk Morens untuk membantu mengeluarkan isi perut Morens.
"Tapi udah gak keluar sayang." tolak Morens.
"Kalau gak keluar, kamu sogok mulut kamu pakai jari kamu. Pasti ntar kamu muntah deh." ucap Chintiya enteng.
Morens melotot mendengar ucapan sang istri yang menyuruhnya untuk menyogok mulutnya dengan jari. Morens tak percaya kalau istrinya bisa terpikir sejauh itu. PISANG BERSIANIDA, benar-benar konyol pikir Morens.
"Kamu tunggu sebentar ya, aku mau telpon dokter dan mau mengajukan komplen sama penyedia catering malam ini."
Chintiya sudah mengeluarkan ponselnya, namun Morens dengan cepat menahannya.
"Gak usah sayang." tolak Morens.
"Gak usah gimana sih!, kamu aja sampai muntah-muntah gitu." Chintiya tidak terima karena Morens melarangnya untuk menghubungi dokter.
"Karena apa?" Chintiya tidak sabar menunggu ucapan Morens.
"Karena,,,,,, kulit pisang." jawab Morens lirih, dia sangat malu pada istrinya itu. Karena dia tau, kalau sampai Chintiya tau hal itu, dia pasti akan ditertawakan habis habisan.
"Kulit pisang!!!" Chintiya mengernyitkan dahinya, dia bingung dengan maksud ucapan Morens.
"Ya,,, tadi aku makan pisang.... Tapi karena aku kesal ngeliat kalian yang tampak bahagia biarpun aku gak ada. Aku jadi gak fokus, sampai-sampai aku makan pisang tanpa dikupas kulitnya." jelas Morens sedikit terbata. Dia merasa kesal sekaligus malu karena ulah keluarganya.
Chintiya terdiam mendengar penjelasan dari Morens, tapi sedetik kemudian Chintiya tertawa terbahak-bahak. Dia tidak habis pikir dengan ulah Morens, suaminya itu kadang-kadang memang bisa membuat Chintiya geleng-geleng kepala.
Morens makin bertambah kesal karena ditertawakan oleh istrinya itu.
"Udah puas belum ketawanya?" tanya Morens sinis.
"Maaf sayang tapi aku..." Chintiya kembali tertawa hingga nafasnya terengah-engah.
Karena kesal melihat Chintiya yang terus tertawa, dengan secepat kilat Morens menyambar bibir Chintiya dengan ciuman mautnya.
__ADS_1
Chintiya yang mendapatkan serangan mendadak, memukul dada Morens. Namun Morens tetap melanjutkan aksinya, hingga akhirnya Chintiya menggigit bibir bawah Morens karena dia sudah sangat kehabisan nafas.
"Kamu mau bikin aku mati, iya!. Terus kamu jadi duda dan busa cari cewek lain gitu." omel Chintiya saat ciumannya terlepas.
"Maaf sayang, abis aku kesel liat kamu puas banget ngetawain aku."
"Ya tapi gak brutal gitu juga kali." protes Chintiya.
"Berarti kalau lembut boleh dong!" tanya Morens penuh maksud.
"Iya, tapi..."
Belum selesai Chintiya bicara, Morens langsung menyambar bibir Chintiya. Kali ini Morens mencium bibir itu dengan lembut, Chintiya membalas ciuman dari Morens.
Lama kelamaan ciuman itu menjadi panas, Morens menginginkan sesuatu yang lebih dari sebuah ciuman. Saat sedang dilanda gairah yang sama-sama tinggi, tiba-tiba pintu toilet terbuka dan menampakan Sandi yang berdiri disana.
"Aaaah, kalian membuat mataku terkontaminasi. Sial sial sial." gerutu Sandi sambil menutup pintu.
Morens dan Chintiya yang mendengar umpatan dari Sandi itu, sama-sama saling menatap. Sedetik kemudian mereka tertawa bersama.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
Hai pembaca setia BOSS GILA KU, setelah aku pertimbangkan, perhitungkan, penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Maka dengan ini saya putuskan. (Ciilah, berasa lagi sidang 😁😁).
Saya akan melanjutkan kisah ini di Season yang ke 3, yang berkisah tentang anak-anak mereka yang sudah dewasa.
Dimana disini Mora yang memiliki sifat perpaduan antara Morens dan Chintiya harus memimpin perusahaan untuk menggantikan Morens.
Dengan tingkah atraktifnya sebagai pimpinan, tidak ada yang sanggup untuk menjadi asisten pribadinya. Hingga dia bertemu dengan seorang pria yang menjadi asisten pribadinya yang beda dari yang lainnya.
Bagaimana kisah mereka, tunggu kisah mereka di BOSS GILA KU Season 3. Aku akan launching sekitar awal bulan depan ya, karena aku masih ada 3 cerita ongoing lainnya.
So stay tune right here and dont go anywhere. See you on the next story. YU DADA BABAY 💜💜💜
__ADS_1