
"Oh My God."
Oxen terbelalak kaget melihat keadaan di dalam ruangan bossnya itu, apalagi saat melihat posisi dari boss dan juga asisten bossnya itu.
Mora bangun dari tubuh Xander, kemudian dia merapihkan kemejanya yang sudah sedikit berantakan.
"Apa yang kau liat?, cepat bereskan kekacauan ini." Mora mengambil tas dan juga ponselnya, kemudian melangkah menuju ke luar.
"Tapi rapatnya?"
"Batalkan semua, aku mau pulang. Tubuhku gatal semua dekat-dekat ulat bulu." jawab Mora sambil berlalu pergi diikuti Xander dibelakangnya.
"Dasar boss gila dan asisten stress. Bisa-bisanya mereka bermain perang-perangan disini sampai membuat gempa bumi lokal." umpat Oxen setelah mereka berdua pergi.
Mora sudah berada di loby saat Xander berlari menyusulnya.
"Pulang sama aku." Xander menahan Mora yang hendak naik ke dalam mobilnya.
"Gak Sudi." cibir Mora.
"Tidak terima penolakan." Xander langsung menggendong Mora menuju ke mobil miliknya.
"Sialan." umpat Mora yang sudah malas berdebat.
Di sepanjang perjalanan Mora hanya duduk terdiam sambil bersandar di pintu mobil seraya memejamkan matanya. Xander berkali-kali melirik Mora yang tampak tenang seperti tidak terjadi apa-apa.
"****." kesal Xander yang tidak suka dengan situasi yang seperti ini.
"Mengumpatlah, sebelum mengumpat itu di larang." timpal Mora yang mendengar itu, masih dengan memejamkan mata.
60 menit kemudian, mobil terasa berhenti dan membuat Mora membuka mata.
"Dimana ini?" tanya Mora skeptis saat melihat sebuah bangunan megah di tengah-tengah perkebunan.
"Kamu gak perlu tau." jawab Xander datar.
Mora berdecih "Kamu mau culik aku?, Cih murahan banget." cibir Mora.
"Ya, aku culik kamu buat aku jadikan istriku." jawab Xander sambil menarik tangan Mora masuk ke dalam rumah itu.
Begitu tiba di dalam, suasana sangat terasa hening. Karena memang rumah ini hanya dijadikan tempat singgah oleh Xander. Dan seorang pekerja yang datang 3 hari sekali untuk membersihkan rumah itu.
Xander menuntun Mora untuk duduk di sofa, kemudian dia berjongkok dihadapan Mora dan menggenggam tangan Mora. Tak ada penolakan dan perlawanan dari wanita itu, karena Mora ingin tau apa yang akan dilakukan oleh Xander.
__ADS_1
Xander menengadah kepalanya dan menatap wajah Mora yang juga sedang menatapnya dengan tatapan datar. Xander menghembuskan nafas kasar.
"Aku mau bicara."
"Silahkan." jawab Mora singkat.
"Sebenarnya kamu kenapa?" tanya Xander lembut.
"Aku!,,,, Kenapa sama aku?" Mora menjawab pertanyaan Xander dengan pertanyaan.
"Sudah seminggu ini kamu galak banget sama aku, bahkan kamu menjauhi dan menjaga jarak sama aku."
"Menjauhi!,,, menjaga jarak!"
"Hm." Xander mengecup punggung tangan Mora, Xander sungguh tidak bisa tanpa bermanja-manja pada Mora.
Entah apa yang terjadi dengannya?, dia juga bingung kenapa dia bisa sangat bergantung pada gadis Galak ini. Mungkin karena hanya Mora yang sangat sulit dia dekati dan begitu membuat dia penasaran. Mora juga sangat mandiri dan tidak manja seperti wanita yang lain, mungkin itulah sebabnya Xander sangat menyukai wanita yang dijuluki boss gila oleh para pegawainya termasuk dia sendiri.
"Tuan Xander yang terhormat, dengerin aku.
Pertama, kita ini atasan dan bawahan, jadi kita memang harus menjaga jarak antara urusan pekerjaan dan urusan pribadi. Kita harus bersikap seprofesional mungkin agar hasil yang didapat juga maksimal.
Dan yang kedua, selama ini kita memang gak terlalu dekat dan juga gak begitu akrab. Jadi gak ada yang namanya menjauhi, karena dari awal memang sudah kaya gitu.
"Kamu pikir aku percaya, aku tau kamu sembunyiin sesuatu dari aku." cibir Xander.
"Terserah kamu mau percaya atau nggak, karena aku gak peduli sama hal itu." jawab Mora mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kamu yakin?, tatap mata aku Mora. Apa kamu masih ragu sama perasaan aku?" Xander menangkup wajah Mora dengan kedua tangannya.
"Perasaan apa yang kamu maksud?" selidik Mora.
"Apa aku harus ulangi lagi!, ok. Aku katakan sekali lagi sama kamu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa begitu penasaran sama seorang cewek. Aku juga merasa hariku lebih berwarna setelah ketemu sama kamu.
Walaupun hampir setiap hari kita berdebat, berselisih paham dan bertengkar. Tapi itulah yang selalu bikin aku pengen deket kamu terus, rasanya aku pengen terus lindungi kamu dari orang-orang yang berniat jahat sama kamu.
Apa yang mesti aku lakuin biar kamu percaya kalau aku itu sayang dan cinta sama kamu." ucap Xander mencoba meyakinkan Mora.
"Percaya!!, bagaimana aku bisa percaya?. Kalau belum apa-apa saja kamu udah main belakang, kamu pikir bisa mengelabui aku. Huh dasar penipu ulung." cibir Mora.
Xander menautkan alisnya
"Maksud kamu apa?, main belakang!,, mengelabui!!... Apa maksudnya itu?" tanya Xander yang bingung dengan maksud ucapan Mora. Karena sejatinya dia tidak bermain-main dengan Mora.
__ADS_1
Dia tau Mora ini wanita keras kepala dan bermental baja, jangankan bermain-main, untuk hal yang serius saja Xander harus ekstra hati-hati mengatakannya. Jadi mana mungkin dia berani macam-macam dengan ratu macan yang satu ini.
"Pikir saja sendiri!"
Xander terdiam untuk beberapa saat, dia mencoba untuk memikirkan apa yang dimaksud Mora sebenarnya. Tapi Xander benar-benar buntu akan hal itu.
"Tapi aku benar-benar gak tau!"
Mora berdecak malas
"Aku tanya sama kamu, sebenarnya apa yang kamu lakukan selama satu Minggu ini?. Kamu selalu datang telat, selalu menolak tugas bertemu klien di luar jam kerja.
Kalau kamu memang sudah tidak bisa mengikuti kegiatan yang aku tugaskan, kamu bisa bilang sama aku. Atau kamu bisa mengajukan Resign padaku."
"Apa maksud kamu Mora?" Xander tersulut emosi mendengar ucapan Mora yang seakan memojokkan dirinya. "Aku ada urusan penting sehingga aku datang telat ke kantor, dan aku udah bilang ke kamu bukan."
"Urusan apa?, dan dengan siapa kamu berurusan?" tanya Mora dengan menatap tajam Xander.
"Kalau untuk itu, aku belum bisa kasih tau kamu. Aku harus selidiki dulu, dan aku berurusan dengan orang yang sangat penting untuk ini." jelas Xander ambigu.
"Aku tau kamu bertemu dengan siapa setiap hari, dan aku juga tau kamu pergi kemana setiap pulang kerja dan sama siapa."
"Kamu menguntit aku!"
"Cih, emangnya aku kurang kerjaan sampai harus ngikutin kamu. Lagi pula, sepintar apapun kamu menutupi sesuatu, pasti suatu saat pasti akan ketahuan juga. Sok paling mengerti hati, segala bilang cinta. Bulshit."
Xander tersenyum mendengar ucapan Mora, kini dia tau apa penyebab Mora menjadi begitu beringas. Rupanya wanitanya ini tengah cemburu pada dirinya karena sering bertemu dengan seorang wanita yang begitu penting baginya saat ini.
"Oh,,, jadi kamu cemburu sama aku."
goda Xander.
"Persetan."
......................
......................
TBC
LOVE U ALL MMMUUUAAACCHHH
💜💜💜
__ADS_1