
5 bulan setelah kelahiran baby Zemi.
Daddy Richard dan mommy Lexi sedang mempersiapkan sebuah pesta perayaan untuk merayakan hari pernikahan mereka yang ke 40 tahun.
Mereka sengaja merayakannya, karena mereka sekaligus ingin menyambut kelahiran para cucu-cucu barunya.
Mereka merayakan pesta di hotel milik Chintiya, hotel yang dulu juga pernah di kelola oleh Serena. Pesta akan dilaksanakan esok hari mulai pukul 11 pagi jadi malam ini mereka memutuskan untuk menginap di hotel itu juga.
Sandi tengah berjalan santai di area Sport Center, dia merasa bosan karena di kamar dia hanya menatap layar ponselnya dan terkadang membuka email di laptopnya.
Karena Serena tengah sibuk memberi ASI pada si kembar Marlon and Mariene.
Saat mendekati lapangan basket, dia melihat Morens sedang bermain basket seorang diri. Sandi melihat jam di tangannya menunjukkan pukul 9 malam, jadi dia memutuskan untuk bergabung dan bermain bersama Morens.
"Hallo, kakak ipar. Ternyata kakak ipar hebat juga ya main basket." ejek Sandi.
"Gak usah basa-basi, mau apa kau?" sinis Morens.
"Bagaimana kalau kita bertanding?"
"Kamu nantang aku?"
"Enggak, aku cuma menawarkan pilihan."
"Ok, tapi siapa yang kalah, besok dia harus berdandan ala wanita di pesta." tantang Morens.
"Ok, siapa takut. Tapi jangan ingkar janji ya." saut Sandi.
"Pegang kata-katamu."
Merekapun mulai bermain, ponsel dan dompet, mereka titip pada penjaga disana. Mereka bertanding dengan sengit, mereka mempunyai kemampuan yang seimbang dan belum ada yang nampak akan menang.
Setelah bermain ±45 menit, mereka berhenti sejenak dan duduk di pinggiran lapangan. Mereka meminta kepada penjaga untuk membawakan minuman dingin.
Saat sedang asik menegak minuman masing-masing, tiba-tiba pandangan mereka teralihkan kepada 2 orang wanita dengan berpakaian minim dan sexy yang berdiri di hadapan mereka.
"Hai guys, apa kami boleh ikut main sama kalian?" tanya para wanita itu.
Mereka tak langsung menjawab, mereka mengamati kedua wanita itu dari atas hingga ke bawah.
"Bagaimana?, apa kami boleh bergabung?"
"Lihat Sandi, pakaian mereka sangat minim. Apa mereka gak takut masuk angin ya?" bisik Morens.
"Kamu bener kakak ipar. Kalau Serena memakai baju kaya gitu!, aku pasti akan mengurungnya di dalam kamar." ucap Sandi dengan tatapan mata yang tidak bisa diartikan.
Karena kesal tidak mendapatkan jawaban dan hanya melihat Morens dan Sandi saling berbisik, salah satu wanita itu merebut bola yang ada ditangan Sandi.
"Hei, kembalikan bolanya." teriak Sandi karena para wanita itu sudah berlari ke tengah lapangan.
"Mereka benar-benar menguji kesabaranku ya." terdengar bunyi gemelatuk gigi dari Morens.
"Sabar, biar aku yang tangani." Sandi menenangkan Morens.
Mereka berjalan ke tengah lapangan menghampiri kedua wanita itu.
"Hai girl, kembalikan bola itu." ucap Sandi berusaha lembut.
"Kalau gitu, kalian harus tanding dulu sama kami."
"Maaf, tapi kami sudah selesai. Jadi kembalikan bola itu." Sandi masih berusaha sabar.
"Ambil saja kalau bisa."
Kedua wanita itu mulai mendribble bola itu bergantian, Morens yang sudah tidak sabar dan sudah menahan emosi sedari tadi, akhirnya turun tangan.
Morens mulai menjegal wanita yang memegang bola, dan saat wanita itu mau mengoper bola itu ke wanita yang satunya, Morens langsung menangkap kedua tangannya hingga membuat bolanya terlepas tapi tangan Morens tetap menggenggam tangan wanita itu sambil memperhatikan bola yang terlepas tadi.
Sedangkan Sandi menghalangi wanita yang satunya saat akan mengejar bola itu, jadi kini posisi Sandi membentangkan tangannya dan wanita tadi menabrak tubuh Sandi.
Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dari pinggir lapangan.
__ADS_1
"Wah, wah, wah pertandingan yang menarik." ucap Chintiya.
Morens dan Sandi melihat ke arah sumber suara itu, tubuh mereka langsung menegang masih di posisi seperti tadi.
"Ternyata kalian pasangan yang serasi ya, sampai-sampai tidak mau saling melepaskan." ucap Serena yang baru datang karena dia juga mencari Sandi.
Sontak Morens dan Sandi langsung tersadar dengan posisi mereka masing-masing. Seketika itu Morens langsung menggemaskan tangan wanita itu dengan kasar.
Sedangkan Sandi langsung mendorong tubuh si wanita satunya dengan penuh tenaga.
"Sweety." ucap Morens takut-takut.
"Sa... Sayang." panggil Sandi tergagap.
"Udah puas bermainnya?, sampai keringetan gitu!. Tapi itu keringat karena olahraga atau karena dekat-dekat sama cewek sexy." sindir Chintiya.
Mendengar kata wanita, Morens baru tersadar bahwa dua wanita tadi masih disana memperhatikan mereka dengan menahan tawanya.
Morens menatap kedua wanita itu dengan tajam.
"Ini semua karena kalian, cepat ngomong sama mereka kalau kalian itu yang ganggu kami." bentak Morens.
"I,,, iya."jawab mereka gugup.
Namun kedua wanita itu masih tetap diam, karena mereka terkejut akibat bentakan Morens.
Melihat kedua wanita tadi tidak bergerak, membuat Morens kembali emosi.
" Ayo cepet ngomong, kenapa bengong? " bentak Morens untuk kedua kalinya.
Sontak saja kedua wanita tadi langsung mendekat ke arah Chintiya dan Serena.
"Maaf nyonya, kami yang mengganggu mereka. Kami yang memaksa mereka untuk bermain bersama kami." ucap salah satu wanita tadi dengan lirih.
"Udah, kalian pulang aja. Lain kali jangan suka memaksa dengan mengandalkan tubuh kalian." ujar Chintiya menasehati.
"Terima kasih." mereka langsung berlari meninggalkan tempat itu.
"Apa ada yang mau ditambahin dari omongan mereka?"
"Sweety, kamu dengar kan!. Aku itu gak ngapa-ngapain, aku cuma mau ambil bola yang direbut sama mereka."
"Sampai seintim itu?"
"Itu gak sengaja mom."
"Cuma karena bola kamu sampai kaya gitu, bahkan kamu bisa beli 100 bola basket kaya gitu."
"Iya maaf." Morens menunduk.
"Aku juga minta maaf sama kamu."
"Kenapa mom?,"
"Karena malam ini kamu tidur diluar." Setelah berkata seperti itu Chintiya berjalan meninggalkan Morens.
Morens segera berlari mengejar Chintiya, Chintiya sudah memasuki lift dan Morens sudah sampai di depan pintu lift hendak masuk. Namun sesaat sebelum melangkah masuk Chintiya berkata.
"Tunggu!, liat itu." tunjuk Chintiya ke ujung lorong.
Saat Morens melihat arah yang ditunjuk Chintiya, saat itu pula Chintiya menekan pintu lift agar tertutup dan otomatis meninggalkan Morens.
Ketika tiba di kamar dan mengunci pintu, dia menghubungi pegawai yang bertugas malam itu.
"Jangan berikan satu kamar pun untuk tuan Morens dan tuan Sandi."
Sedangkan di lapangan masih tersisa S couple.
"Sayang, ayo masuk. Ini udah malam." rayu Sandi.
"Aku tau."
__ADS_1
"Jangan sampai kamu kedinginan, kasian baby kita ntar cari kamu."Sandi mencoba merangkul Serena.
Namun sebelum tangan Sandi tiba di pinggangnya, Serena lebih dulu mundur.
"Oh,,,, jadi aku capek ngurus anak-anak, kamu enak-enak lagi keringetan sama cewek sexy."
"Bukan gitu maksud aku!, aku kasian sama mereka. Ntar kalau nangis gimana?"
"Jadi kamu cuma kasian sama anak-anak, kamu gak kasian sama aku yang tengah malem harus kebangun buat kasih ASI. Lagian kamu gak usah khawatir, aku udah siapin susu di botol tadi dan aku udah kasi tau si mbak."
"Ih gak gitu sayang maksudnya." Sandi merasa serba salah.
"Dari tadi kamu ngomong bukan gitu maksud aku, enggak gitu maksud aku. Terus maksud kamu itu apa?" geram Serena karena Sandi bicara dengan tidak jelas.
"Aku cuma mau kamu istirahat."
"Aku tau, kamu nyuruh aku istirahat di kamar biar kamu bebas cari yang segar-segar kan."
"Nah itu tau maksud aku."
"Oh!!!, jadi bener kamu mau senang-senang sama cewek lain, iya!" Serena menatap tajam Sandi.
"Eh maksudnya, aku cari angin segar bukan cewek yang masih segar." Sandi merasa frustasi karena terus salah bicara.
"Tau ah."
Serena berjalan kembali ke kamarnya sambil menghubungi seseorang.
"Bawa mereka kemari, aku tunggu di meja resepsionis."
Kemudian dia bicara kepada receptionis yang bertugas saat itu.
"Beri aku satu kamar lagi yang memiliki dua ruang terpisah." ucap Serena.
"Maaf nyonya, tapi untuk siapa?" tanya si pegawai.
"Kenapa memangnya?"
"Tadi nyonya Chintiya berpesan, kami tidak boleh memberikan kamar pada tuan Morens dan tuan Sandi." jelasnya.
Serena mengulum senyum.
"Oh ini untuk baby sisterku."
"Baik nyonya."
Serena tidak menghiraukan Sandi yang terus menatapnya dengan tatapan bingung. Setelah mendapat kunci kamar, Serena berjalan sambil kembali menelpon.
"Bawa ke kamar nomor 234 lantai 3."
Serena tiba di depan kamar itu bertepatan dengan Baby sisternya yang datang bersama The twins.
"Sayang, apa kita pindah ke kamar ini?" tanya Sandi bingung.
"Masuk aja."
Setelah mereka semua masuk.
"Mbak, malam ini kamu tidur di kamar ini bersama The twins dan juga papahnya."
"Hah."
"Apa?"
"Kamu dengerin saya, malam ini biar The twins tidur sama papahnya. Tugas kamu cuma kasih susu yang udah saya siapin ke mereka sesuai jadwalnya, kalau susunya habis kamu temui saya dikamar saya. Harus kamu ya!, dan kamu gak usah takut, karena saya pesen kamar dengan dua ruangan terpisah jadi kamu gak terganggu."
Baby sister itu hanya mengangguk.
"Tapi.sayang."
"Gak ada protes, karena hari ini aku mau tidur tanpa ada gangguan."
__ADS_1
"Nasib-nasib."