Boss Gila Ku

Boss Gila Ku
Chapter 67


__ADS_3

Sore hari yang sedikit mendung dan ditambah angin yang sedikit kencang, tidak membuat Chintiya beranjak pergi dari balkon yang ada di kamarnya. Sudah 2 minggu setelah dia mengetahui fakta tentang perusahaan ayahnya dulu, Chintiya menjadi lebih pendiam dan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan berdiri menikmati udara dari balkon kamarnya seperti sekarang ini.


"Ayah, ibu aku sudah mengikhlaskan kalian pergi, aku juga ingin kalian tenang disana. Bantu aku untuk membuat ku berlapang dada menerima fakta ini ayah, ibu. Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan dengan semua yang aku punya saat ini, jujur aku gak menginginkan harta. Kenapa disaat aku sudah lupa, malah fakta itu muncul.


Ya Allah berikan aku ikhlas dan petunjuk. Aku tau ini semua adalah rencanamu dan engkau pasti punya alasan dibalik ini semua ya Allah."


Di tengah lamunannya, dia dikagetkan oleh kedatangan Morens yang tidak dia sadari. Sudah hampir 10 menit Morens mengamati Chintiya yang terlihat berulang kali menghembuskan nafas panjang.


"Sayang"


"Morens!, kamu udah pulang." Chintiya berbalik badan saat Morens memanggil.


"Udah 10 menit yang lalu"


"*Really?"


"Yes sweety*"


"Maaf, aku gak tau." ucap Chintiya lirih.


"Enggak papa sayang, ayo masuk. Anginnya kencang, kayanya mau hujan deh. Nanti kamu masuk angin loh."


"Iya"


"Lagi apa sih tadi, kok serius banget" tanya Morens sambil membalutkan sweeter di pundak Chintiya.


"Enggak, cuma cari angin aja. Abis aku bosen dirumah terus."


"Kalau bosen, kan kamu bisa ke kantor sayang."


"Enggak ah, sama aja bosen." Chintiya menggandeng lengan Morens dan masuk ke dalam kamar.


"Terus mau apa dong?"


"Boleh gak, aku besok ke toko. Kan udah lama nih aku gak ke sana, semenjak aku hamil kan kamu ngelarang aku keluar rumah. Mumpung aku belum lahiran, aku mau liat toko dulu, lagian besok kamu libur jadi bisa antar aku kan!"


Awalnya Morens agak sedikit ragu, namun dengan berbagai pertimbangan akhirnya Morens mengijinkan Chintiya melihat toko roti sekaligus kafenya yang sudah lama tidak dikunjungi.


"Ok, tapi awas jangan kecapean."


"Iya, memangnya aku disana mau ngapain?, kan aku juga paling duduk doang sambil liat laporan dari para pegawai."


"Ya udah bagus kalau gitu, good girl"


Keesokan harinya


Kini Chintiya dan Morens sedang di dalam mobil tengah diperjalanan menuju arah toko.

__ADS_1


"Sayang maaf ya, aku gak bisa temenin kamu. Tadi pagi ada laporan bahwa ada sedikit masalah di proyek, jadi aku harus liat langsung kondisi disana."


"Apa masalahnya serius?"


"Aku juga belum tau."


"Ya udah gak papa, kamu kesana aja. Ntar aku telp supir aja kalau mau pulang."


"Kamu telp aku dulu, kalau aku udah selesai kamu tunggu aku jemput. Tapi kalau aku masih lama baru kamu telp supir ya."


"Siap boss." Jawab Chintiya sambil meletakkan tangannya sebelah di dahi seperti hormat.


"Bagus lanjutkan." ucap Morens terkekeh.


Mereka telah sampai di depan toko


"Aku turun dulu ya, kamu hati-hati."


"Iya sayang" jawab Morens sambil mencium kening Chintiya.


"Assalamualaikum"


"Walaikumsalam"


Setelah mobil Morens pergi, Chintiya masuk ke dalam toko. Terlihat para pegawai sedang sibuk membersihkan dan mempersiapkan toko untuk segera buka, karena jam menunjukan pukul setengah 10 pagi dan toko akan mulai beroperasi pukul 10 pagi.


"Eheem"


Sontak mereka semua menoleh ke sumber suara tersebut.


"Eh mbak Chintiya, kok gak bilang kalau mau dateng?" tanya Ninis yang bertugas menjadi penanggung jawab disana.


"Iya Nis, aku bosen di rumah. Lagian mumpung belum lahiran, ntar kalau baby udah mbrojol mah pasti aku repot deh kalau mau kesini."


"Iya sih."


"Ya udah terusin kerjanya, aku masuk ke ruangan dulu ya."


Chintiya lalu masuk ke ruangannya, di atas meja sudah terdapat beberapa laporan keuangan 3 bulan yang lalu. Selama hamil laporan keuangan akan dikirim oleh Ninis ke rumah Chintiya, sambil sekaligus menjenguk pak Diman ayahnya. Karena Ninis memang tinggal di mes yang disediakan di dalam toko, agar Ninis bisa lebih efisien dan lebih hemat.


Chintiya tengah asik membaca laporan yang di meja saat Ninis mengetuk pintu ruangan itu.


"Maaf mbak, di depan ada mbak Rena." ucap Ninis saat didalam ruangan.


"Suruh kesini aja Nis."


"Ok, oh ya mbak mau dibikinin minuman gak sekalian buat mbak Rena." tawar Ninis.

__ADS_1


"Boleh deh, bikinin jus jeruk 2 ya. Sekalian bawain kue juga ya kesini."


"Ok."


Tak lama terdengar pintu dibuka dan tampaklah Rena dengan senyumannya.


"Hai nek, kangen." ucap Rena sedikit berteriak.


"Ih gelaay." ejek Chintiya.


"Ih gelo." balas Rena


"Semangat amat pagi-pagi lu udah sampai sini!" tanya Chintiya.


Ya karena memang semalam Chintiya mengabari Rena kalau besok dia akan pergi ke toko, dan Rena diminta datang untuk menemaninya. Rena yang memang sangat rindu dengan Chintiya langsung menyetujuinya.


"Iya, abis w bosen dirumah." jawab Rena malas sambil meletakkan tubuhnya di sofa.


"Lu gak jalan gitu sama Roby?"


"Sama Roby!, kenapa harus sama Roby?"


"Loh, bukannya lu lagi deket ya sama dia!"


"Gak tau ah, udah ih jangan bahas dia. Jadi badmood kan gue."


"Ada apa sih?, cerita dong. Maklum aja gue kan udah lama gak ke kantor, terus kalau gue nanya sama Morens soal kalian pasti deh jawabnya nyebelin."


"Emang laki lu jawab apa?"


"Udah ah yang, jangan nanya makhluk jadi-jadian itu. Gengsinya ngalahin puncak Himalaya, ntar ditikung baru nyaho dia." jawab Chintiya menirukan perkataan Morens.


"Laki lu bener kok." jawab Rena sambil pandangan menatap kosong ke segala arah.


"Jelasin dong, jiwa kepo gue ngeronta ronta nih." tanya Chintiya penasaran.


"Gak tau deh, gue juga bingung sama dia. Tiap gue lagi deket sama Boy dia marah dan ngelarang gue, tapi asal gue tanya alasannya apa, dia diam aja. Trus kalau gue lagi muji Boy dia sewot, tapi tiap gue jawab dia bilang gue gak peka."


"Dia itu sebenarnya suka sama lu Ren, tapi bener kata Morens gengsinya gak tahan."


"Gue juga tau sih, tapi kan gue butuh kepastian. Gue gak mau digantung kaya jemuran gak jelas kapan keringnya, berkali-kali gue tanya dia bilang suruh tunggu, dan udah lama gue tunggu. Tapi gue gak tau apa yang sebenarnya gue tunggu dari dia, sedangkan dia gak pernah mau jelasin apa maksudnya. Kalau begini kan pusing pala inces, lama-lama Hayati lelah juga, capcai deh." ucap Rena sambil tepok jidat.


"Hadeeh rumit juga ya tu makhluk satu."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


LOVE U ALL MMMUUUAAACCHHH

__ADS_1


__ADS_2