Boss Gila Ku

Boss Gila Ku
S3 - Chapter 33


__ADS_3

Sepulangnya Mora dari Grid Contruction, dia langsung menuju ke tempat pertemuan dengan koleganya di salah satu resto ternama di kota ini.


Baru saja akan memasuki gedung itu, tiba-tiba tangannya di tarik oleh seseorang dan membawanya mundur kembali ke tempat parkir.


"Xan!, kamu disini?"


"Masuklah ke mobil." titah Xan tegas.


Mora mengikuti perintah Xander, dia masuk kedalam mobil milik X-men si pahlawan supernya. Begitu duduk Mora bertanya pada Xander.


"Ada apa?"


"Kau lihat 2 orang pria yang berdiri dekat pintu itu." tunjuk Xander pada 2 orang pria yang terlihat sedang mengobrol biasa, hanya saja mereka nampak tengah mengawasi sesuatu.


"Hm."


"Mereka membuntutimu dari kamu turun dari mobil."


"Aku tau." jawab Mora santai.


"CK, dasar wanita menyebalkan. Apa kamu gak bisa sedikit aja berakting dan pura-pura gak tau." kesal Xander karena respon Mora yang terlihat biasa saja.


"Aku bukan aktris, terus aku mesti ngapain?" Mora mengedip-ngedipkan matanya.


"Kamu bisa pura-pura kaget kan, misalnya (Apa?, ada yang Mengikutiku. Sayang aku takut.)" Xander mengajarkan sedikit kepada Mora yang nampak asik memperhatikan Xander bak produser.


"Aku malah lebih kaget karena kamu tiba-tiba muncul, datang gak di jemput pulang di usir." ledek Mora.


"Emang aku Jai,,,, Jai,,, Jai apa sih itu namanya." Xander lupa menyebutkan nama salah satu tokoh urban legend yang ada di Indonesia.


"Jailani!"tebak Mora.


"Bukan."


"Jainudin." jawabnya semakin asal.


"Yang satu lagi." Xander memijit keningnya mencoba mengingat nama itu.


"Siapa sih?, Jai mera dil." ucap Mora makin ngelantur. Dia sengaja menggoda Xander.


"Ish, kamu kan asli Indonesia. Masa gak tau sih nama hantu yang populer itu." kesal Xander.


Mora sekuat tenaga menahan tawanya yang sudah memuncak kala melihat raut wajah bingung dan kesal yang ditampilkan Xander.


"Aku kan bukan parabola, mana tau masalah begituan."


"Paranormal sayaaaang." Xander gemas sekaligus kesal dengan Mora, dia mencium pipi wanitanya itu dengan sedikit penekanan.


"Aw aw aw, sakit tau. Kamu mah kasar banget sih." Mora memajukan bibirnya sebagai tanda protes.


"Abisnya kamu nyebelin banget sih hari ini." Xander mencubit hidung mancung Mora.


"Tau ah, sekarang gimana ini sama janji temu aku?"

__ADS_1


"Udah dihandle sama Oxen, sekarang kita pulang aja. Aku mau kasih kamu hukuman udah bikin aku naik darah."


"Terus mobil aku."


"Nanti dibawa sama anak buah aku."


"Oh, kamu benar-benar bisa diandalkan dan banyak keahlian." puji Mora tanpa sadar.


"Kamu akan tau keahlian aku yang lain nanti di rumah." Xander menyeringai dan langsung menstater mobilnya.


"Eh."


Setelah 45 menit berkendara, akhirnya mereka tiba di apartemen Xander.


"Kok kita kesini?" tanya Mora begitu mereka berhenti di parkiran apartemen Xander.


"Aku mau kasih tau keahlian aku yang lain sama kamu, aku udah bilang kan tadi." Xander mengedipkan matanya sebelah.


"Jangan macam-macam." ancam Mora.


"Justru ini akan menghasilkan banyak macam di dalam nanti."


Mora berdecak sebal, bicara dengan Xander saat mode gombalnya on, akan membuat tensi darah Mora naik turun bak jungkat jungkit di sekolah TK.


"WHATEVER."


Xander terkekeh, lalu dia membantu Mora melepaskan seatbelt milik Mora dan melepaskan miliknya. Xander turun dan berjalan menuju pintu samping untuk membukakan pintu Mora.


Sepanjang jalan menuju ke unitnya, Xander tak melepaskan genggamannya pada tangan Mora sambil tersenyum manis. Bahkan Mora yang melihatnya saja sedikit merinding, pasalnya selama ini Xander terkesan cuek dan berwajah datar bila berhadapan dengan orang lain, kecuali padanya dan orang-orang yang dekat dengannya.


Entah karena nyaman atau lelah, Mora tanpa sengaja tertidur pulas. Namun saat dia membuka matanya, dia terkejut karena wajah Xander tepat berada diatasnya.


"Mau apa?, aku udah bilang jangan macem-macem." hardik Mora.


"Kamu tuh ya!. Aku cuma mau taruh bantal di kepala kamu biar gak sakit, tapi malah udah keburu bangun. Padahal tadi aku mau sekalian me..."


"Sekalian apa?" Mora menatap tajam Xander yang tersenyum smirk.


"Sekalian menyelimuti kamu." Xander menunjukan bantal dan selimut yang dia bawa tadi dari kamar.


"Gak usah, aku cuma ketiduran aja." Mora bangkit dan kemudian duduk di sofa.


Xander menyerahkan sebuah minuman jus dalam kaleng pada Mora "Minum dulu nih biar fokus."


Mora menerima minuman itu "Makasih."


"Kalau begitu, sekarang kamu udah siap melihat keahlian aku bukan!"


"Ya aku udah gak sabar."


Xander tersenyum "Aku suka itu."


Kemudian dia membuka 3 kancing kemejanya juga kancing lengannya dan menggulungnya hingga ke siku.

__ADS_1


Mora hanya memperhatikan Xander sambil mengerut dahi, dia menunggu apa yang akan dilakukan oleh pria posesif ini.


Seketika Xander mengeluarkan sebuah hardisk dari dalam kemejanya itu, kemudian dia memasukan disk itu kedalam laptop yang sudah dia siapkan tadi. Lalu mereka mulai menyaksikan apa yang ada di dalam disk itu.


"Kamu tau sayang!, dalang dari penyerangan terhadap kamu adalah orang yang sama yang mencelakai aunty Sera mu yaitu Bernard Alfonso. Dan kamu juga harus dengar ini."


Xander menunjukan sebuah rekaman percakapan antara 2 orang pria yang tak lain adalah Bernard dan Mark beberapa saat yang lalu.


"Mark ternyata bekerja sama dengan Bernard, jadi aku minta kamu jauhi Mark itu."


"Aku tau." Mora masih bicara dengan santai, Xander derdecih kesal. Kenapa wanita itu tau segalanya "Tapi, dari mana kamu dapat percakapan ini?"


"Aku menyadap ponsel Mark."


"Terus sekarang bagaimana kondisi aunty?"


"Dia baik, aku juga sudah menemukan penawar efek dari racun yang ada di tubuh nyonya Sera."


"Ah syukurlah." Mora bernafas dengan lega.


"Tapi yang jadi masalah adalah, sampai sekarang aku masih belum tau wajahnya Bernard yang sekarang. Karena selama ini, dia berkomunikasi cuma lewat telepon tanpa pernah bertatap muka. Paling dia cuma mengutus orang kepercayaannya buat melakukan sesuatu."


Mora mengusap pipi Xander lembut "Tenang aja, sebentar lagi kita akan tau bagaimana dia yang sekarang."


Xander menautkan kedua alisnya "Dari mana?"


"Dari Mark."


"APA?, aku udah bilang jauhi Mark. Dia itu bekerja sama dengan Bernard buat melenyapkan kamu." tegas Xander yang kesal karena Mora masih saja dekat dengan Mark.


"Hei, relaks. Tenang sayang." Mora menggenggam tangan Xander yang mengepal.


"Tenang!!, bagaimana aku bisa tenang kalau tau kamu dalam bahaya. Kamu ini benar-benar ...."


"Dengerin aku dulu, aku juga punya alasan kenapa masih mau berurusan dengan Mark. Karena..."


Mora akhirnya menceritakan semua kejadian yang terjadi di kantor milik Mark tadi siang.


"Huh, Ok aku menyerah. Tapi kamu harus terus hati-hati sama dia, dan selalu bilang sama aku apapun itu, aku gak mau kecolongan lagi." ucap Xander pasrah.


"Siap kapten."


...----------------...


...----------------...


Up kedua.


Jangan lupa besok Senin, VOTENYA dan hadiahnya jangan lupa dikencengin.


Kalau suka ceritanya, tolong dukung othor dengan like dan komen ya kesayangan.


TBC

__ADS_1


LOVE U ALL MMMUUUAAACCHHH


💜💜💜


__ADS_2