Boss Gila Ku

Boss Gila Ku
S3 - Chapter 6


__ADS_3

"Hallo uncle, bagaimana kabar uncle?" tanya Mora sambil mendaratkan tubuhnya di sebuah kursi.


Saat ini Mora sedang berada di sebuah kafe untuk bertemu dengan Sandi, entah ada apa Sandi ingin bertemu dengannya.


"Uncle baik Mora, bagaimana dengan daddy dan mommy?" tanya Sandi balik sambil mencium pipi Mora.


"Everything,s okey uncle. Oh ya, kenapa uncle mau ketemu Mora disini?. Kenapa gak ke kantor aja?"


"Sabar sayang, sebaiknya kita pesen minum dulu okey."


"Terserah uncle aja."


Sandi memanggil pelayan untuk mencatat apa yang mau mereka pesan, setelah itu pelayan kembali meninggalkan mereka berdua.


"Begini Mora, uncle minta tolong kamu buat bujuk Marlon supaya mau mengurus perusahaan uncle." ucap Sandi serius.


"Loh bukannya Marlon udah setuju untuk itu ya."


Baru saja Sandi ingin menjawab, namun pelayan terlebih dahulu datang mengantarkan pesanan mereka.


Setelah pelayan itu pergi, Sandi melanjutkan kembali pembicaraan yang tadi tertunda.


"Itu emang benar, tapi Marlon minta untuk menunggu 2 tahun lagi. Sedangkan Uncle gak bisa menunggu selama itu."


"Kenapa emangny?" tanya Mora sambil menyeruput kopi yang tadi di pesan.


Sandi menarik nafas dalam-dalam


"Uncle akan memberi tau sesuatu, tapi uncle minta, kamu jangan memberi tau pada daddy dan mommy ataupun oma dan apa."


"Sebenarnya, ada apa sih?. Jangan setengah-setengah gini dong. Mora jadi penasaran nih."


Sandi terkekeh, Mora memang tidak berubah. Dia tetap gadis bawel yang sangat besar rasa ingin tahunya.


"Seminggu yang lalu, aunty pingsan. Uncle membawanya ke rumah sakit, dan dokter mengatakan bahwa aunty mengalami gangguan pada jantungnya." jelas Sandi dengan sedikit menitikan air mata.


"Apa?, trus gimana keadaan aunty Sera sekarang?"


"Kamu gak usah terlalu khawatir."


"Gimana aku gak khawatir uncle, aku harus kasih tau daddy dan mommy." sela Mora cepat.


"Mora jangan!, dengerin uncle. Aunty yang minta untuk gak kasih tau pada semua. Hari ini, uncle akan membawa aunty ke Amerika untuk pengobatan."


"Apa aunty masih bisa sembuh?"


"Doakan saja, dokter bilang aunty masih bisa diobati. Karena kondisinya belum terlalu parah, dan disana ada seorang dokter yang biasa menangani masalah jantung seperti itu."


"Lalu, apa yang harus Mora lakukan sekarang?"

__ADS_1


"Kamu tinggal merahasiakan hal ini, termasuk dari Marlon dan Mariene."


"Jadi, mereka belum tau!"


"Belum, dan uncle harap mereka gak tau sampai uncle dan aunty kembali. Jadi sekarang kamu tinggal membujuk Marlon untuk memimpin perusahaan uncle mulai besok."pinta Sandi dengan menggenggam tangan Mora.


" Ok, Mora bakal ngomong lagi sama Marlon."


"Makasih ya Mora, kalau gitu uncle pamit dulu. Karena uncle harus bersiap untuk berangkat nanti sore, inget ya Mora, kalau mereka tanya. Bilang uncle dan aunty sedang liburan."


"Siip."


"Kamu mau ikut pulang?, biar uncle antar kamu." tawar Sandi.


"Gak usah, Mora bawa mobil sendiri. Lagian Mora sekalian mampir ke salon dulu, mumpung di luar."


"Kamu gak balik lagi ke kantor?"


"Gak, aku udah males."


"Ha-ha-ha, kamu persis seperti Morens."


"Ya iyalah, kan aku cetakannya."


"Ya udah, uncle pergi ya." pamit Sandi sambil mencium pipi Mora.


Karena pekerjaan yang menumpuk dan tidak adanya asisten, itu membuat Mora tidak mempunyai waktu untuk sekedar merilekskan tubuh dan otot-otot yang kaku.


Mumpung dia sedang di luar, jadi Mora tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Setelah memakan waktu 3 jam lamanya, akhirnya Mora selesai dengan seluruh ritual perawatan diri.


Mora merasa dirinya lebih rileks dan juga lebih segar, setelah itu Mora berniat mengunjungi sebuah butik, Mora ingin membelikan sebuah gaun untuk sang ibu.


Namun baru saja dia hendak masuk kedalam sebuah butik, Mora mendengar suara teriakan minta tolong dari sebuah toko perhiasan yang letaknya berjarak 2 blok dari butik yang akan dia singgahi.


Mora menggagalkan niatnya untuk masuk ke butik dan berubah haluan menuju ke toko perhiasan itu. Disana Mora melihat 2 orang pria membawa pistol di tangannya tengah mengarahkannya kepada pegawai toko perhiasan itu.


Karena tak kunjung mendapatkan apa yang mereka minta, salah satu pria itu menembakan pistol kedap suara itu kearah etalase dan membuat kaca yang menjadi penghalang etalase hancur berantakan, dan pria yang satunya memasukan semua perhiasan kedalam sebuah kantung berukuran besar.


Karena letak toko perhiasan yang berada di ujung, membuat sedikit orang yang tau akan kejadian itu.


Saat kedua pria tadi ingin keluar, Mora berdiri di depan pintu menghalangi mereka.


"Upss, kayanya aku datang disaat yang tidak tepat ya." ucap Mora sambil melirik ke arah 2 pria itu.


"Minggir, atau kuledakan kepalamu."


ancam pria itu.


"Uhh, takut." cibir Mora.

__ADS_1


"Kamu benar-benar mau mati ya." bentak salah satunya.


"Bagaimana bila kalian saja yang mati?" ejek Mora sambil membenarkan tatanan rambutnya yang agak sedikit berantakan.


"Sialan." salah satu pria itu mengangkat kakinya ingin menendang Mora.


Namun sebelum itu terjadi, Mora lebih dulu berputar dengan gerakan cepat dan menendang kedua pria itu secara bersamaan.


"Aku benci ini, kalian membuatku berkeringat setelah berjam-jam aku melakukan perawatan. Sungguh sesuatu yang sia-sia." umpat Mora sambil berdecak.


Kedua pria itu geram dan ingin menembak Mora, tapi lagi-lagi Mora lebih dulu membaca pergerakan mereka. Mora menginjak tangan pria yang membawa pistol, hingga pistol itu terlepas. Kemudian Mora menendang pistol itu hingga jauh dari jangkauan mereka.


"Kurang ajar." umpat pria itu dan bergegas bangkit.


"Karena itu kalian harus diberi pelajaran."


Terjadilah baku hantam antara Mora dan kedua pria tadi, tanpa Mora sadari, ternyata 2 orang teman mereka masuk kedalam karena terlalu lama menunggu di dalam mobil.


Melihat kedua teman mereka sedang dianiaya oleh Mora, kedua pria yang baru datang langsung memukul Mora dari belakang.


Mora yang tidak siap dengan serangan mendadak itu terhuyung karena merasakan sedikit pusing.


"Oh, kalian meminta bala bantuan ya. Payah sekali." cibir Mora.


"Banyak omong."


Mereka kembali terlibat dalam baku hantam dan kini 1:4. Saat tengah sibuk melawan mereka, salah satu dari pria itu mengeluarkan pisau dari balik sakunya.


Dia berjalan mendekati Mora dan hendak menancapkan pisau itu pada Mora. Dan.


"Aaahhhh." suara teriakan terdengar diantara mereka.


Semua melihat ke arah sumber suara, dan terlihat bahwa pria yang tadi hendak menusuk Mora sedang terkapar tertancap pisaunya sendiri.


Mora melihat kebelakang, dan dia melihat seorang pria yang dia kenal. Pria yang belakangan ini sering mengganggunya.


"Kau."


...----------------...


...----------------...


...----------------...


TBC


LOVE U ALL MMMUUUAAACCHHH


💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2