
"Jawabanku adalah tidak." Mora menatap tajam Xander.
"Apa?, kamu gak mau nikah sama aku!!" Xander terperangah mendengar jawaban dari Mora.
"Ya, aku gak mau nikah sama kamu..." ucapan Mora terhenti karena Xander menyela lebih dulu.
"Kamu masih gak percaya sama aku, setelah semua yang kita hadapi. Aku harus bagaimana lagi buat yakinin kamu?" cecar Xander.
Mora memukul lengan Xander kencang "AW, kok malah dipukul sih." titah Xander karena memang kali ini Mora memukul dengan sekuat tenaga.
"Abisnya, orang belum selesai ngomong udah di sela duluan." Mora menepuk kedua telapak tangannya seperti menghilangkan debu "Aku tuh gak mau nikah sama kamu, kalau kamu gak ajak aku buat ikut ke Afrika."
"What?" Xander mendelik tajam. "Kamu apa-apaan sih, gak ada."
"Ya udah kalau aku gak boleh ikut, aku gak mau nikah." Mora melengos dari pandangan Xander.
Mereka semua terkekeh melihat kelakuan wanita arogan satu itu, terkecuali Xander yang menghela nafas kasar menanggapi permintaan dari Mora.
"Sayang, bukan kaya gitu. Kamu tau bukan!, kalau aku kesana dalam misi berbahaya dan aku tidak mau terbebani bila kau berada disana."
"Jadi!!, kamu merasa aku ini cuma beban buat kamu. Kalau begitu kita tidak perlu melanjutkan pembicaraan ini, dan tidak akan ada pernikahan." Mora membuang muka.
"Bukan gitu..." Xander menggaruk kepalanya asal.
Morens mendekati Mora dan menepuk pundaknya "Bicarakan baik-baik dulu, sebaiknya kalian pergi dulu ke taman."
"Itu gak perlu."
"Sayang, benar kata Daddy. Kalian harus bicara pelan-pelan." Chintya menimpali ucapan Morens.
"But mom." baru saja Mora hendak protes, Chintya terlebih dahulu bicara.
"Son, kalian pergilah." Chintya menatap Xander.
"Ok."
"Mom, dad!!" protes Mora pada kedua orang tuanya.
Xander segera mendorong kursi roda Mora ke taman rumah sakit, benar apa yang di bilang oleh Morens dan Chintya. Mereka harus bicara pelan-pelan dan dari hati ke hati.
__ADS_1
Sesampainya disana, Xander menghentikan kursi roda Mora di bawah sebuah pohon rindang. Kemudian dia berjongkok di hadapan Mora yang membuang muka tak mau menatap Xander.
"Baby." Xander menggenggam tangan Mora.
"Udahlah Xan, apa yang kamu bilang itu bener kok. Sekarang ini aku cuma jadi beban buat kamu, bahkan berjalan saja harus dengan bantuan orang lain."
"Sayang, siapa yang bilang kamu itu beban buat aku. Aku akan melakukan apa aja buat kamu."
"Gak usah memaksa, aku sadar diri. Sekarang mending kita balik ke kamar aunty, atau antar aku pulang aja. Itupun kalau kamu gak merasa keberatan."
Xander berdecak "Baby, what do you talking about?" tidak ada jawaban dari Mora.
"Dengar aku sayang, maksud aku tadi itu adalah, aku gak mau bawa kamu kesana karena. Aku gak mau sampai kamu kenapa-kenapa disana, karena kali ini misi yang aku lakukan sangat berbahaya, dan aku gak mau fokusku teralihkan akan keberadaan kamu disana.
Dengan adanya kamu disana, pergerakan aku akan terbatasi. Dan kalau sampai mereka tau aku membawa istriku, mereka pasti akan menargetkan dirimu sebagai kelemahanku.
Lagi pula, aku lebih tenang kalau kamu ada disini bersama keluargamu sampai kondisimu benar-benar pulih." ucap Xander panjang lebar, namun tidak ada tanggapan apapun dari Mora.
Xander mengecup bibir Mora tiba-tiba hingga membuat sang empunya bibir mendelik tajam."Xan, ngaco kamu ya. Ini di tempat umum tau gak!!"
"Abisnya aku gemes tau gak sama kamu, aku gak tahan liat kamu diem begitu ke aku."
"Ya terus aku harus lakuin apa?"
"Jadi kamu seneng kalau aku kaya gini!!, kamu bisa bebas pergi kemanapun gitu."
Xander menyentil kening Mora pelan. "Kamu tuh ya, pasti deh mikirnya aneh-aneh."
"Ya terus, benerkan kata aku." jawab Mora seraya mengusap kening yang disentil oleh Xander.
"Aku tuh bersyukur karena, dengan keadaan kamu yang kaya gini. Aku selalu dibutuhkan sama kamu, aku bisa terus dekat sama kamu.
Aku merasa jadi lebih berguna karena bisa melakukan sesuatu buat kamu, karena kamu itu kan wanita mandiri dan biasanya kamu itu kan selalu melakukan apapun sesuka kamu.
Dengan begini, kamu jadi lebih penurut dan manis. Seperti macan betina yang sudah jinak."
"Tapi Xan, aku benar-benar khawatir soal kepergian kamu ke Afrika. Aku merasa ada firasat gak enak tentang kamu." Mora menatap sendu Xander.
Xander menangkupkan kedua tangannya di wajah Mora. "Jangan percaya dengan firasat yang belum pasti seperti itu, doakan saja semoga misiku berjalan lancar dan segera pulang untuk berkumpul lagi bersama kamu." Mora mengangguk lemah menanggapi ucapan Xander.
__ADS_1
Jujur, di dalam hatinya. Mora masih merasakan sedikit keraguan, namun sebisa mungkin dia berusaha menepis semua perasaan dan firasat buruk yang dia rasakan.
Mora yakin Xander pasti akan baik-baik saja dan kembali padanya dengan selamat.
Merekapun kembali ke kamar rawat inap Serena, dimana kali ini Serena sudah terbangun dari tidurnya. Mora langsung meminta Xander untuk mendekatkan dirinya dengan aunty kesayangannya itu.
Setelah puas bercengkrama dan melepas rindu, Mora mengatakan keputusan apa yang akan dia ambil untuk hidupnya.
"Dad, mom." panggil Mora
"Iya, sayang." jawab Chintya mengusap rambut panjangnya.
"Bagaimana keputusanmu sayang?" tanya Morens.
Mora menghela nafas panjang sebelum menjawab "Aku akan menikah dengan Xander, tapi..."
"Tapi apa lagi sih?, kamu tuh terlalu banyak tapi deh." celetuk Sandi yang gemas dengan ucapan Mora, hingga dihadiahi cubitan maut di pahanya dari Serena.
"Cerewet!!" jawab Mora kesal.
"Lanjutkan saja sayang, jangan dengarkan unclemu yang kepo ini." ucap Serena lemah.
"Jadi aku akan menikah dengan Xander, tapi aku gak mau ada pesta besar. Kami akan menikah di hadapan keluarga saja." ucap Mora yakin.
"Loh!!, kenapa begitu?" tanya Chintya heran, karena biasanya wanita itu akan sangat antusias menyambut hari pernikahan mereka dengan pesta yang meriah.
"Kami akan mengadakan pesta pernikahan setelah Xander kembali dari Afrika, dan setelah aku bisa berjalan normal kembali." Mora menatap Xander "Kamu gak keberatan kan!!" tanyanya pada Xander.
"Terserah kamu, aku sih yang penting nikah."
"Wuh!!, dasar kebelet kawin." goda Sandi lagi.
"Eleh!!, kaya kamu dulu gak aja. Inget gak tuh, siapa yang dulu mulutnya sampai dilakban di hari akad." sindir Morens.
"Gak usah bahas itu bisa gak sih!!" protes Sandi tak terima karena Morens sudah mengingatkan kejadian paling memalukan dalam sejarah hidupnya, yang di buat oleh ibunya sendiri.
"Kalau begitu, pernikahan akan dilakukan 3 hari lagi."
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
TBC