
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, dan saat ini Chintiya tengah menunggu Morens untuk datang menjemputnya, sedangkan Rena masih setia menemaninya.
Setelah 30 menit berlalu Morens pun tiba, dia langsung menuju ke ruangan Chintiya untuk segera mengajaknya pulang. Morens tidak ingin Istrinya itu kelelahan, karena kondisi tubuhnya yang untuk berjalan saja sudah sangat sulit.
"Assalamualaikum" Ucap Morens saat membuka pintu.
"Walaikumsalam" jawab Chintiya dan Rena bersamaan dan menoleh ke sumber suara.
"Sore bos."
"Loh kamu disini Ren?"
"Iya, tadi Chintiya minta saya kesini."
Morens hanya mengangguk-angguk tanpa membalas perkataan Rena.
"Udah selesai sayang?" tanya Morens pada Chintiya sambil berdiri di samping istrinya.
"Udah dari tadi kok, ya udah yuk langsung pulang aja. Punggungku pegel banget, kayanya kalau rebahan enak banget kali ya."
"Emang dari tadi kamu duduk aja?"
"Begitulah."
"Kenapa gak rebahan dulu kalau pegel, kan ada sofa panjang disini."
"Gak enak sempit, kamu kan tau sendiri kalau sekarang badan aku tuh udah kaya karet direndam di minyak tanah, melar jadinya. Persis kaya bolu yang kebanyakan fermipan jadi mengembang."
"Iya bener, makanya aku jadi greget pengen gigit soalnya empuk kaya bolu." goda Morens.
"Hello!!!, remember me." ucap Rena.
" Oh iya lupa ada jomblowati disini." ejek Chintiya.
"Oh ya di depan ada Roby, udah temenin jangan dianggurin ntar di lalerin lagi." timpal Morens sambil tersenyum mengejek.
"Laki bini sama aja nyebelin, biarin ntar aku santet online kalian." Rena merajuk sambil melangkah keluar meninggalkan mereka di dalam.
Setelah Rena keluar, tak lama Morens dan Chintiya menyusulnya keluar. Morens berdecak malas melihat Rena dan Roby hanya duduk terdiam dan sibuk dengan ponselnya masing-masing.
"Gengsi aja tuh gedein." ucap Morens sambil berjalan melewati Rena dan Roby yang hanya bengong mendengar ocehan bossnya.
"Ayo sayang kita pulang, jangan hiraukan 2 menekin itu." sindir Morens.
"Hei, kalian mau jadi satpam disitu." ejek Chintiya.
Roby dan Rena hanya saling pandang sesaat kemudian masuk kedalam mobil, Morens dan Chintiya duduk dibelakang sedangkan Roby dan Rena duduk di kursi depan. Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan di dalam mobil, karena Chintiya yang biasanya cerewet kini tengah asik terlelap karena Morens yang terus mengusap punggungnya yang merasa pegal. Sedangkan Roby dan Rena saling terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Eheem." Morens berdehem sengaja untuk memecah keheningan.
__ADS_1
"Roby, kamu lagi puasa ya!" tanya Morens.
"Enggak kok, kan tadi saya nemenin boss minum di kafe."
"Iya, tapi kamu puasa ngomong kan."
"Lah ini saya lagi ngomong!" Roby terlihat bingung.
"Kamu puasa ngomong sama Rena."
"Saya biasa aja kok, kita gak ngomong karena emang gak ada yang perlu diomongin. Ya kan Ren." ucap Roby mencari pembelaan.
"Eh, i...iya." jawab Rena terbata karena dia tidak siap menerima pernyataan yang diucapkan Roby padanya secara tiba-tiba.
"Oh." Morens hanya oh saja sambil mengangguk-angguk kepalanya.
Setelah itu keadaan kembali hening, karena Morens memilih untuk memejamkan mata disamping istrinya. Karena sebenarnya dia juga merasa lelah, hari libur yang seharusnya dipakai untuk beristirahat dan menemani istrinya tapi harus dia gunakan untuk pekerjaan juga.
Morens memang sengaja menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu, karena 1 minggu lagi dia ingin mengambil cuti untuk mempersiapkan persalinan sang buah hati yang sangat dinantikan.
Akhirnya mereka sampai di kediaman Hadinata.
"Roby, kamu bawa saja dulu mobil ini untuk pulang. Tapi ingat besok pagi kamu kesini dulu menjemputku." Ucap Morens sambil berusaha membangunkan Chintiya dengan lembut.
"Ah udah sampai ya, maaf aku ketiduran, abisnya keenakan di elus-elus sama kamu." ucap Chintiya merasa bersalah kepada Morens.
"Kayanya kamu capek banget, mending sekarang kita turun terus kamu lanjutin tidurnya."
"Gak jelas." umpat Roby.
"Ren, aku turun dulu ya. Roby inget ya, jangan sampai lecet tuh temenku." ancam Chintiya.
"Gak cewek gak cowok sama aja, kepo." cibir Roby.
Rena hanya tersenyum getir, tak berniat menimpali ocehan mereka. Semenjak masuk kedalam mobil tadi, dia sudah merasa tak nyaman dengan sikap Roby yang dia rasa makin hari makin dingin padanya.
Mobil kembali melaju meninggalkan kediaman Hadinata, sunyi dan senyap melanda kondisi di dalam mobil antara mereka berdua. Sampai akhirnya Roby angkat bicara untuk memecah kecanggungan diantara mereka.
"Kamu udah makan?" tanya Roby tanpa melihat ke arah Rena.
"Belum." jawab Rena datar.
"Kita makan dulu." masih tetap fokus menyetir tak memalingkan wajah dari kaca depan.
"Tidak usah, saya makan di rumah aja. Lagian ini udah sore, saya gak mau ngerepotin kamu." tolak Rena halus.
"Gak ada penolakan."
Rena menghela nafas "Terserah kamu."
__ADS_1
Merekapun tiba di sebuah restoran, lalu mereka pun turun. Roby jalan terlebih dahulu disusul oleh Rena. Setelah duduk dan memesan makanan, mereka hanya terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Rena merasa tidak nyaman dalam situasi yang dingin seperti ini, membuat dia enggan bicara karena takut akan berakhir dengan perdebatan. Sedangkan Roby berpikir kenapa sekarang Rena bersikap sangat datar padanya, mereka sangat terlihat seperti rekan bisnis, bahkan bicara pun sangat formal padanya.
Lamunan mereka terputus saat pelayan membawakan pesanan, mereka makan dalam diam tanpa ada yang bersuara sedikitpun. Akhirnya Roby bicara, karena dia sudah tidak tahan dengan kondisi yang sangat kaku ini.
"Rena." panggil Roby sambil menatap Rena.
"Ya." Rena mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk.
"Kamu kenapa?"
"Saya gak kenapa-kenapa."
"Tapi sekarang kamu jarang ngomong sama saya."
"Seperti yang kamu bilang tadi, karena gak ada yang perlu dibicarakan jadi saya tidak bicara."
"Stop Ren, kenapa jadi formal begini sih?" Roby bicara sedikit membentak karena merasa kesal dengan Rena.
"Ya kan kita ini cuma rekan kerja kan."
"Pleass Ren, aku mau kita kaya biasa lagi." ucap Roby sedikit frustasi.
"Tapi saya juga udah biasa kok."
"Ren kamu..."
Ucapan Roby terhenti karena mereka mendengar seorang memanggil Roby.
"Roby, ah untung ketemu kamu disini. Jadi aku gak perlu tunggu di apartemen kamu." ucap seorang wanita dengan nada manja dan langsung duduk disamping Roby dan bergelayut manja.
"Gaby!, ngapain kamu disini?" tanya Roby.
"Nyusul kamu, aku kangen tau gak!"
"Buat apa nyusul aku kesini?"
"Kamu udah lama gak ke LA, jadi terpaksa aku kesini. Oh ya ini siapa?" tanya Gaby pada Roby dengan tatapan menyelidik.
Sebelum Roby sempat menjawab, Rena langsung menyela.
"Saya Rena, rekan kantor pak Roby. Oh ya pak Roby saya duluan ya."
Rena langsung beranjak pergi, setelah sebelumnya tersenyum dengan Gaby.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
TBC
__ADS_1
LOVE U ALL MMMMUUUAAACCCHHH