
"Apa yang kalian lakukan disini?" sarkas Morens menatap tajam Roby dan Rena
"Eh... anu"
Morens bangun dari jongkok dan beralih duduk di sofa sebelah Chintiya.
"Roby, bisa jelasin kalian itu kenapa?"
"Eh itu boss, anu"
"Kok kamu mendadak gagu"
"Bukan gagu boss tapi amnesia"
Morens menatap jengah, lalu tatapannya beralih ke arah Rena.
"Rena, ada apa keperluan apa?"
"I... Ini boss, saya mau menyerahkan laporan keuangan yang boss minta tadi pagi"
"Trus kenapa kalian masuk seperti orang dikejar DC (Debt Colector)"
"Maaf boss, tadi saya panik saya pikir kalian ..." Rena tertunduk takut
"Apa yang kalian pikirkan?" Chintya menyaut
"I...Itu"
"Kalian gak mikir macem-macem kan, aku kasih tau sama kalian. Biarpun boss kalian ini sedikit gila, tapi kami gak akan lakuin hal gila di kantor" ucap Chintiya tegas
Morens melirik Cynthia tajam, tapi Chintiya tak peduli.
"Maaf"ucap Rena "Soalnya tadi pak Roby bilang, kalau di dalam mmmpph"
Roby langsung menghentikan perkataan Rena dengan membekap mulut Rena dengan tangannya.
"Maaf boss, urusan kami sudah selesai kami undur diri boss" Roby menyela dan keluar sambil menarik Rena bersamanya.
"Mmmpph, lepas" Rena terbata-bata
Rena kesal, akhirnya dia menggigit tangan Roby dan bekapannya sontak terlepas.
"Aaww, Rena kamu gila ya. Sakit tau"
"Kamu yang gila"
Omel Rena sambil berjalan menuju lift, Roby merasa tidak terima dan akhirnya dia mengikuti Rena memasuki lift.
"Seenaknya ya kamu gigit tangan aku" omel Roby
__ADS_1
"Itu pantas, karena kamu sudah bikin aku sesak napas dengan di bekap seperti itu"
Pintu lift terbuka dan Rena keluar menuju ke ruangannya dengan Roby yang masih ikut di belakang Rena. Mereka masih berdebat hingga di dalam ruangan Rena.
"Kalau kamu gak di bekap, pasti tuh mulut ngegas, terus ngomong ke boss. Kamu mau gak dapet cuti kerja!"
"Ya tapi gak pake di bekap gitu juga kali, udah mending cuma gigit tangan, tadinya aku mau tendang adik kamu tapi aku masih kasian takut berpengaruh sama masa depan kamu"
"Kalau kamu sampe bener lakuin itu, terus aku gak bisa coblos mencoblos maka kamu harus tanggung jawab" emosi Roby sudah diubun-ubun
"Ih ogah banget, yang ada kamu yang harus tanggung jawab masa aku, gak kebalik tuh. Kalau ngomong tuh dipikir dulu,. tadi siapa yang bilang ada adegan sadis, giliran ...."
Ucap Rena tergantung karena Roby mendekap dan mencium bibir Rena secara tiba-tiba, Roby sudah menahan emosi yang dipucuk dia merasa sekarang Rena lebih banyak bicara dari pada awal bekerja disini dan dia harus menghentikan ocehan Rena sebelum tambah runyam.
Chintya yang mendapat serangan tiba-tiba, hanya melongo sambil terkejut diam beberapa saat sambil mencerna apa yang terjadi, tak lama kemudian Roby melepaskan ciuman itu sambil menyeringai dan menjauh.
"Apa kamu masih bisa bicara sekarang hah" ejek Roby merasa menang sudah berhasil membuat Rena terdiam
Dada Rena naik turun masih menahan amarahnya yang belum tersalurkan semua, ditambah perlakuan Roby.
"Oh jadi kamu menantangku, kamu pikir aku sudah selesai bicara, oh tidak semudah itu folgoso"
Kemudian Rena kembali mendekat dan mengikis jarak mereka, hingga wajah mereka nyaris bertubrukan. Sepersekian detik Rena langsung menampar wajah Roby kemudian menarik dagu Roby dan membalas ciuman Roby tadi dengan tak kalah liar.
Roby yang merasa kesal melampiaskan dengan mengeratkan ciumannya secara kasar, mereka saling membalas dengan membabi buta dan sangat liar. Perlahan ritme ciuman mereka melambat dan saling menikmati bertaut lidah saling mengisi rongga mulut mereka, perlahan Rena melingkarkan tangannya ke leher Roby sambil meremas rambut Roby dan Roby menyudutkan Rena ke tembok, kedua tangannya menahan pada tembok itu. Ciuman itu semakin memanas dengan semakin mengeratkan pelukan masing-masing, sampai ciuman itu berakhir karena suara dering telepon milik Roby. Dia melepaskan pelukan dan mundur beberapa langkah menatap Rena yang tertunduk malu untuk sesaat sebelum menjawab panggilan itu, di lihat di layar tertera nama BOSS ABSURD.
"Dimana, kenapa tidak ada di ruangan, kenapa ngos-ngosan?" rentetan pertanyaan Morens
"Ada apa ?" Roby menanggapi pertanyaan Morens
"Aku pulang sekarang dengan istriku, cepat kembali ambil alih disini"
"Ok"
Roby memutuskan panggilan itu sepihak, tidak perduli dengan yang disebrang telp memaki-maki dirinya. Kemudian Roby menatap Rena yang masih tertunduk.
"Maafkan aku" Roby berucap kemudian pergi dari ruangan itu.
Selepas Roby keluar, Rena terduduk di lantai dengan memegangi dadanya yang merasakan detak jantungnya berdetak ubnormal, tidak jauh berbeda dengan Rena, Roby langsung menjatuhkan diri di sofa ruangannya lalu mendongakkan kepalanya sambil terpejam.
"Apa yang w lakuin, w kaya pria gak bermoral sembarang nyentuh gadis. Aaarggghhh" Roby menjambak rambutnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di tempat lain
Morens menarik tangan Chintya masuk ke rumah dengan tergesa-gesa, tanpa memperdulikan ART yang bekerja.
"Hei, kenapa sih pake tarik-tarik segala" Chintiya mengomel tapi Morens hanya diam.
__ADS_1
Sampai di kamar Morens langsung mengunci pintu dan membuang jasnya sembarang, Chintiya yang melihat kelakuan Morens sangat terheran.
"Wow, kau kenapa sih?" Chintya bingung
dan keduanya kini duduk di ranjang
"Aku udah nahan dari tadi, aku juga mau hukum kamu karena omongan kamu tadi"
"Omongan yang mana?" Chintya mengernyitkan keningnya
"Kamu ngomong di depan mereka kalau aku sedikit gila, asal kamu tau sweety, aku gila cuma sama kamu doang dan sekarang aku mau buktiin kegilaan aku"
Morens mulai menciumi leher Chintiya
"Eh tunggu, aku cuma bercanda kok tadi" Chintiya bergidik merasakan jilatan di lehernya.
"Sayangnya aku gak nona"
Morens langsung mencium bibir Chintiya dengan lembut dan menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Chintiya dan akhirnya Chintiya mendapatkan hukuman yang bisa dibilang sakit membawa nikmat.
2 minggu kemudian
Roby dan Rena kini sama-sama saling menghindar, sebisa mungkin mereka meminimalisir frekuensi bertemu. Roby kini tengah berjalan menuju ruangan bossnya, setelah mendapat perintah masuk Roby langsung masuk dan duduk di sofa.
"Ada apa?" Morens masih menatap layar laptopnya
"Calon sekretaris yang baru sudah ada,. seperti yang boss bilang aku yang berkewajiban penuh memilih, semoga pilihan ku gak mengecewakan"
"Apa sudah ada hari ini?"masih tetap fokus
"Sudah, apa mau suruh kesini sekarang"
"Boleh, mumpung lagi gak ada meeting"
Roby keluar memanggil sekertaris itu, setelah 10 menit mereka datang.
"Boss, ini orangnya" ucap Roby
Morens masih asik berkutat dengan laptopnya. "Coba aku liat CV nya dulu"
Roby meletakkan map di meja Morens, lalu Morens mulai membuka map tersebut dan membaca biodata sekertarisnya. Kemudian dia mulai melihat sekertaris baru itu, terlihat wanita cantik nan sexy dengan rok sepan selutut, tinggi semampai ber-make up tebal dengan rambut yang kecoklatan dan mata yang hijau memakai softlens.
"Sing boss, perkenalkan saya Florence Mandey panggil saya Flo" ucapnya dengan tersenyum nakal dan menyalurkan tangan
Morens menatap penampilan Flo dari atas ke bawah dengan teliti dan tanpa suara, sebelum akhirnya dia mengusap wajahnya kasar dan menarik nafas panjang.. Kemudian dia menyalami sekertarisnya itu.
TBC
LOVE U ALL UNTUK KAKAK READER SEMUA MMMUUAAACHHH ❤❤❤❤❤
__ADS_1