Boss Gila Ku

Boss Gila Ku
S3 - Chapter 40


__ADS_3

DOOR


DOOR


Letusan suara senapan terdengar dari arah belakang Morens, membuat mereka semua menatap asal sumber suara tersebut.


Tampaklah seorang pria yang tersungkur bersimbah darah, sedangkan tak jauh dari sana, nampak Sandi yang berdiri dengan pistol mengarah kepada pria yang tersungkur tadi.


"Sandi."


"Tuan Sandi."


Morens langsung menghampiri Sandi yang nampak terlihat lemas dan sangat kacau. Bajunya berantakan, wajahnya pucat dan terdapat luka lebam di beberapa bagian tubuhnya.


"Kamu kenapa?"tanya Morens khawatir.


" Aku tidak apa-apa. "Sandi terduduk lemas.


Saat Sandi mendengar suara orang yang seperti tengah membuka pintu secara perlahan, dia mencoba mengintip dari sebuah lubang kecil yang terdapat di salah satu bagian pintu.


Sandi penasaran, karena dia yakin jika itu adalah orang yang ditugaskan untuk mengawasi mereka, tidak mungkin mereka membuka pintu pintu secara perlahan. Pasti itu adalah orang dari luar yang berusaha menyelinap masuk, begitu melihat bahwa ada Morens diantara mereka, Sandi berniat untuk keluar bagaimana pun caranya.


Dia mencoba membuat keributan dari dalam kamar tempat dia, Serena dan Mariene di sekap. Akhirnya salah satu dari penjaga disana mendengar dan mencoba masuk untuk melihat apa yang terjadi di dalam.


Begitu pintu dibuka, Sandi yang sedari tadi berdiri di belakang pintu tiba-tiba menendang dengan kuat penjaga itu hingga terjadi baku hantam. Pistol yang dibawa oleh penjaga itu terpental saat mereka tengah adu jotos, Mariene melihat itu dan langsung mengambilnya.


Kemudian dia mengarahkan pistolnya kepada penjaga itu dan menembak kakinya. Walaupun Mariene tidak sehandal Mora dalam penguasaan senjata, tapi Mariene pernah belajar dasar-dasarnya saat menemani Mora latihan.


Begitu penjaga itu tumbang, Sandi keluar dan melihat Morens dan yang lainnya sedang bersusah payah melawan para penjaga tempat itu.


"Dimana Sera?"


"Dia di dalam." jawab Sandi lirih.


"Kalian!!, bantu bawa dia kedalam." titah Morens pada beberapa anak buahnya untuk memapah Sandi kedalam kamar dimana Serena berada.


Di dalam kamar, Morens melihat keadaan adik semata wayangnya tengah terbujur di ranjang dengan wajah yang pucat, bibir membiru, tubuh yang kurus. Entah apa yang sudah mereka lakukan pada adiknya ini, dan kenapa Mora sampai tidak memberi tau tentang masalah yang serius ini.


Mengingat Mora, dia jadi terpikir bagaimana keadaannya sekarang?. Apa Xander sudah berhasil menyelamatkan anak gadisnya itu.


"Permisi tuan, biar saya lihat kondisi nyonya Serena terlebih dahulu." ucap Asgar dari arah belakang.


"Apa kau bisa mengobatinya?" tanya Sandi yang masih nampak lemah.

__ADS_1


"Sebelum kesini, Roby sudah menceritakan tentang kondisi nyonya Sera dari informasi yang diberikan oleh Xander. Jadi saya membawa obat penahan untuk sementara, sampai dia mendapatkan pengobatan yang tepat di rumah sakit."


"Kalau begitu cepatlah!!." ucap Morens tidak sabar.


Asgar duduk di kursi kayu tepat di sisi ranjang tempat Serena berbaring, dia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang didalamnya terdapat beberapa obat yang dia butuhkan.


Asgar menggulung lengan bajunya dan memakai sarung tangan terlebih dahulu, kemudian dia mengeluarkan sebuah alat suntik dan sebuah botol infus kecil untuk sementara waktu. Begitu ingin menyuntikan obat itu pada Serena, Asgar melihat selang infus yang masih menancap pada tangan kiri Serena.


"Ternyata mereka masih memiliki hati nurani, biarpun tidak menyembuhkan, tapi paling tidak obat ini memperlambat laju racun dalam tubuh nyonya agar tidak terlalu cepat menyebar ke seluruh tubuh." Asgar menjelaskan obat yang sebelumnya sudah tertancap di selang infus yang menempel di tangan kirinya.


Sandi juga sempat berpikir seperti itu, kalau memang mereka dendam dengan Serena dan ingin menyakitinya, tapi mengapa saat ini mereka masih memberikan pengobatan pada istrinya itu.


Padahal yang sebenarnya adalah, biar bagaimanapun Bernard masih sedikit menaruh rasa pada Serena, biar bagaimanapun Serena adalah wanita yang sangat dia cintai dulu. Namun karena dendam dan rasa sakit hatinya, hingga Bernard tega membuat Serena tersiksa secara perlahan.


"Cepat berikan obat itu Asgar." titah Morens membuyarkan lamunan Sandi.


"Ya, cepat tolong Serena." timpal Sandi.


"Siap tuan."


Asgar mencabut botol infus yang sebelumnya menancap dan menggantikan dengan obat yang dia bawa.


"Kita harus segera membawa nyonya Serena ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan yang maksimal." ucap Asgar setelah selesai dengan tugasnya.


"Tunggu!!, dimana Mariene?" tanya Sandi yang baru tersadar jika Mariene tidak ada diantara mereka.


"Mariene!!" Morens juga baru ingat kalau Mariene juga ikut di tawan oleh mereka.


Saat mereka tengah dilanda kebingungan, di ambang pintu berdiri Mariene yang di kepalanya di todongkan sebuah pistol oleh salah seorang penjaga yang berhasil menyandera Mariene.


"Mariene!!" teriak Sandi yang marah melihat putri cantiknya dalam bahaya.


"Lepaskan dia." ucap Morens menatap tajam pria yang menyekap Mariene


"Tidak!!, sebelum kalian pergi dari tempat ini dan meninggalkan nyonya Serena dan keluarganya."


"Kalau kami tidak mau bagaimana?" tantang Morens santai.


"Kalau begitu kalian akan melihat wanita ini mati."


"Apa kau berani melakukan itu?"


”Anda mau menguji saya tuan!"

__ADS_1


"Coba saja kalau kau berani!" Morens mencoba mengalihkan fokus pria itu.


Pria itu menyeringai sambil membuka pengunci Pelatuk pada pistol itu, sesaat sebelum Pelatuk itu ditekan pada pistol yang siap mengeluarkan timah panas di kepala Mariene yang sudah menangis, Sandi berteriak.


"JANGAN!!, baiklah. Mereka akan pergi dari sini, tapi jangan sampai dia terluka." Sandi berlutut seraya memohon untuk melepaskan Mariene, tubuhnya sudah sangat lemas dan rasanya dia sudah tidak sanggup bila harus beradu jotos saat ini.


"Aku tidak akan meninggalkan kalian disini." Morens menatap tajam Sandi.


"Sudahlah Morens, sekarang yang penting Sera dan Mariene tidak terluka. Kau bisa cari cara selanjutnya." sela Sandi berucap lirih.


"Tapi... I."


"Aku mohon Morens."


Pria itu sedang asyik melihat perdebatan antara Morens dan Sandi, hingga dia tidak menyadari sesuatu dan tiba-tiba.


BRUGH


Sebuah kursi kayu tepat mengenai kepala pria itu yang dilemparkan oleh Asgar, pria itu ambruk dan tidak sadarkan diri.


Mariene terlepas dan refleks memeluk Asgar. "Tenanglah, sudah tidak apa-apa."


"Terima kasih." ucap Mariene masih mendekap erat Asgar.


"Iya."


Namun ternyata pria tadi tersadar, dia mengarahkan pistolnya pada Asgar dengan tangan yang bergetar.


"AWAS!!" Mariene berkata sambil membalik tubuhnya dan menampilkan bagian punggungnya yang mengarah pada pistol itu.


Asgar tersadar atas apa yang akan dilakukan oleh Mariene, dia mendorong tubuh Mariene dan akhirnya.


"Aarrggghhh."


...----------------...


...----------------...


TBC


LOVE U ALL MMMUUUAAACCHHH


πŸ’œπŸ’œπŸ’œ

__ADS_1


__ADS_2