Boss Gila Ku

Boss Gila Ku
S3 - Chapter 4


__ADS_3

Mora datang dengan tergopoh-gopoh menuju ke ruangannya, karena 15 menit lagi pertemuan dengan perwakilan perusahaan Takayama Grup akan segera dimulai, dan dia belum sempat mempelajari agenda rapat kali ini.


Hari ini Mora datang agak sedikit terlambat karena dia telat bangun, itu dikarenakan semalam dia dan Marlon menghabiskan waktu dengan berkuda hingga pukul 12 malam.


Begitu tiba di ruangannya, Oxen sudah menunggunya dengan membawa berkas untuk rapat nanti. Sesaat Mora mengatur nafasnya terlebih dahulu, kemudian dia merapihkan penampilannya.


Setelah dirasa cukup, Mora mengambil berkas di tangan Oxen dan berjalan kembali keluar ruangan menuju ke ruang rapat diikuti Oxen dibelakangnya.


"Apa perwakilan Takayama Grup sudah datang?" tanya Mora sambil berjalan dan mempelajari berkas yang diberikan Oxen.


"Sudah, 5 menit yang lalu."


"Apa aku telat?"


"Belum, rapat dimulai 5 menit lagi."


"Baguslah."


Mora berjalan sambil membaca berkas ditangannya, dia terlihat sangat berbeda bila sedang berada dalam mode serius. Tak ada nampak tingkah konyol darinya yang biasa dia lontarkan kepada Oxen sekertaris sekaligus asisten untuk saat ini.


Ya karena sampai sekarang, Oxen masih belum bisa mendapatkan asisten pengganti untuk Mora. Karena diluar sana sudah beredar kabar, bahwa pimpinan RENS CORP saat ini begitu menyukai hal-hal gila dan ekstrem. Jadi mereka sudah insecsure terlebih dahulu sebelum mencoba.


"Selamat pagi, maaf saya terlambat." ucap Mora begitu memasuki ruang rapat.


"Tidak apa-apa nona." jawab seluruh peserta rapat.


"Bisa kita mulai rapatnya?" tanya Mora yang berubah tegas setiap memimpin acara rapat.


Mora pun mulai menjelaskan konsep kerjasama yang akan mereka sepakati nanti, Mora begitu serius dan nampak berwibawa. Dengan menggunakan kaca mata transparan, membuat daya tarik Mora semakin bertambah.


Mora tidak hanya cantik, namun dia itu cerdik, multi talenta, tegas dan juga mempunyai selera humor yang tinggi. Mora itu bisa dibilang paket komplit pake telor yang karetnya dua.


Namun Mora juga adalah sosok yang sulit tersentuh, tidak sembarangan orang bisa dekat dengannya. Bukannya dia sombong, hanya saja dia selalu waspada pada keadaan sekitar. Tidak menutup kemungkinan, orang-orang yang dekat dengannya mempunyai tujuan tertentu. Mereka berpikir karena Mora adalah wanita, maka mereka bisa lebih mudah untuk mendapatkan kepercayaan Mora.


Tapi itu semua salah, Mora bahkan lebih dingin dan tegas dalam bersikap dan memimpin perusahaan dari pada ayahnya.


Mora tidak menyadari bahwa salah satu peserta rapat itu sedang memperhatikan Mora dengan seksama, dia merasa takjub dengan Mora yang berbeda dari wanita lainnya.


"Ternyata dia yang bernama Zimora Rachael Hadinata, pantas saja aku begitu penasaran saat pertama kali bertemu dengannya. Aku memang pernah mendengar desas-desus bahwa kau itu suka hal-hal ekstrem. Aku rasa kita memang berjodoh, kau tidak akan bisa jauh lagi dariku nona Mora." seringai pria itu yang masih saja memperhatikan Mora secara detail.

__ADS_1


"Baiklah, saya rasa rapat kali ini cukup. Untuk selanjutnya, kami akan menginformasikan kepada anda semua." ujar Mora menutup rapat hari ini.


Satu persatu peserta rapat mulai meninggalkan ruang rapat tersebut, kini tinggallah 4 orang didalam sana yaitu Mora, Oxen, dan pria tadi bersama satu rekannya.


"Oxen, bereskan berkas ini." Mora bangkit hendak berjalan keluar dari ruangan itu, namun dia berhenti sejenak dan menatap pria yang sedari tadi masih menatapnya dengan tersenyum.


"Gila." umpat Mora lirih, namun masih terdengar oleh mereka semua. Sambil berlalu pergi.


"Menarik." jawab pria itu, tanpa terdengar Mora.


Begitu tiba di ruangannya, Mora melepaskan kacamatanya dan memijat kepalanya yang sedikit pening.


Tak lama kemudian Oxen masuk dengan membawa berkas hasil rapat tadi.


"Oxen tolong bawakan aku kopi ya. Inget jangan kemanisan." pinta Mora sambil memejamkan matanya.


Oxen berlalu menuju ke pantry dan meminta OB membuatkan kopi untuk Mora. Baru saja Oxen keluar, suara ketukan pintu kembali terdengar. Mora mengira itu adalah yang kembali, hingga Mora berkata dengan nada lantang karena kesal.


"Kalau mau masuk, masuk aja. Gak usah pake ketuk pintu segala." ucap Mora sedikit berteriak masih dengan mata terpejam.


Pintu pun terbuka dan seseorang masuk kedalam ruangan tersebut. Orang itu berdiri tepat di depan meja dimana Mora sedang bersandar sambil memejamkan matanya tanpa bersuara sedikitpun.


Tak mendapat jawaban, akhirnya Mora membuka matanya. Dia terkejut melihat orang yang sedang berdiri itu bukan Oxen. Tapi Mora bisa mengendalikan ekspresinya dan bersikap biasa saja.


"Anda siapa?, apa anda tidak tau sopan santun?. Apa anda memang sudah biasa masuk ruangan orang tanpa izin!" tanya Mora sekali menyindir.


Pria itu tersenyum dan membuka kacamata hitam yang bertengger di hidungnya. Sambil sebelah tangannya masuk kedalam saku celananya.


"Apa anda lupa?, kalau anda yang meminta saya masuk saja. Saya akan ingatkan anda kalau anda lupa nona Mora Hadinata."


Mora kembali mengingat, kalau tadi dia memang bicara seperti itu. Namun tadi dia mengira kalau itu adalah Oxen.


"Ada perlu apa anda menemui saya?" tanya Mora sambil bangkit dari kursinya dan berpindah ke arah sofa.


Pria itu duduk bersebrangan dengan Mora tanpa menunggu Mora mempersilakan dia untuk duduk.


"Aku hanya ingin mengobrol."


"Apa kita sedekat itu, hingga saya harus berbincang-bincang dengan anda."

__ADS_1


"Kita memang belum dekat. Tapi kita akan segera dekat."


"Maaf, tapi saya tidak punya waktu untuk mendekatkan diri dengan anda." Mora menyilangkan tangannya di dada.


"Kalau begitu biar aku yang melakukannya." Pria itu menyilangkan kakinya diatas pahanya.


"Omong kosong." cibir Mora dengan tersenyum sinis.


"Makin penasaran." jawab si pria dengan tersenyum smirk.


"Jika tidak ada yang penting, anda bisa keluar dari sini." Mora bangkit dan berjalan ke arah pintu berniat untuk membukakan pintu agar pria itu segera pergi.


Namun saat berjalan disebelah sofa yang di duduki pria tadi, tiba-tiba tangannya ditarik dan membuat Mora jatuh ke pangkuan pria tadi yang langsung memeluknya.


"Wow,,, ternyata anda sangat agresif nona Mora."


"Kurang ajar." tangan Mora terangkat hendak menampar pria tadi, namun pria itu menangkap tangan Mora lalu mengecup nya dengan lembut.


Namun bukan Mora namanya bila langsung menyerah, Mora membenturkan kepalanya dengan kepala pria itu. Hingga membuat pria itu melepaskan tangan yang tadi menggenggam tangan Mora. Kemudian mengusap kepalanya yang terasa sakit.


"Bagaimana!, apa anda suka dengan keagresifan ku?" cibir Mora dengan senyum kemenangan.


"Aku sangat suka." jawab pria itu dengan tersenyum, membuat Mora semakin bertambah jengkel.


Dan disaat itu Oxen masuk dengan membawa kopi yang tadi dipesan Mora dan melihat posisi Mora bersama pria itu.


"Upps, maaf. Aku tidak sengaja."


...----------------...


...----------------...


...----------------...


TBC


LOVE U ALL MMMUUUAAACCHHH


💜💜💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2