
Hari launching produk kesehatan terbaru milik RENS CORP pun tiba.
Semua tim penyelenggaraan tengah sibuk mempersiapkan segala sesuatunya, agar tidak mengecewakan para tamu undangan dan juga konsumen.
Tamu undangan terdiri dari para kolega yang bekerja sama dengan RENS CORP, ada juga para petinggi negara, pihak-pihak yang terkait dalam acara dan juga para kerabat.
Mereka akan berkumpul di salah satu ballroom hotel terbesar di kota ini. Waktu saat ini menunjukkan pukul 3 sore, masih tersisa 4 jam menuju acara penyelenggaraan.
Morens memanfaatkan waktu yang tersisa untuk bermain dengan princess Mora terlebih dahulu sebelum berangkat ke tempat acara.
"Sayang." panggil Morens pada Chintiya.
"Iya."
"Apa penampilanku sudah pas?" tanya Morens masih dengan menggendong Mora.
"Sini coba aku lihat."
Chintiya memperhatikan dengan seksama penampilan Morens dari atas ke bawah tanpa ada bagian yang tertinggal. Semenjak kembali bekerja, Morens sudah merapihkan kembali rambut dan juga rambut yang ada di wajahnya. Chintiya juga sudah mulai kembali menyiapkan pakaian untuk Morens, hanya saja untuk menemani Morens pergi ke acara launching, Chintiya masih belum bisa dan Lexi juga belum mengizinkan menantunya itu beraktivitas yang membuat lelah. Paling tidak sampai Mora berumur 1 tahun.
"Sudah." ucap Chintiya pada akhirnya.
"Enggak memalukan kan?" tanya Morens lagi, entah kenapa hari ini dia merasa tidak percaya diri pergi tanpa ditemani Chintiya.
βKenapa?, kamu mau tampil maksimal di depan para wanita cantik. Mumpung aku gak ikut iya." Chintiya kembali teringat kejadian Morens dan Flo, saat dia tidak menemani Morens waktu itu.
"Tuh kan mulai, curiga aja terus yang!"
"Ya abisnya kamu mencurigakan. Nanya pakaian sampai segitunya, biasanya juga aku siapin yang manapun kamu gak ada protes."
"Ih bukan gitu yang. Aku gak pede pergi sendirian tanpa kamu."
"Kan ada Serena yang temenin kamu. Aku juga sebenarnya mau ikut, ya tapi gimana lagi kondisi aku kan belum pulih banget."
"Ya itu, aku jadi gak tenang pergi ninggalin kamu."
"Kan ada mommy."
"Iya sih."
"Ya udah, tuh udah mau jam 4. Kamu berangkat bareng sama daddy dan Serena, atau berangkat sendiri?"
__ADS_1
"Aku berangkat dulu sendiri, aku mau cek persiapan dulu sambil gladi resik. Serena sama daddy ntar nyusul."
"Ya udah kamu hati-hati, semoga acaranya lancar dan banyak konsumennya." ucap Chintiya sambil membenarkan dasi Morens dan mengambil Mora dari Morens.
"Aamiin. Makasih doanya sayang. Aku berangkat dulu ya." Morens mencium kening Chintiya dan pipi Mora.
"Babay daddy." ucap Chintiya sambil mengangkat tangan Mora seraya melambai.
Morens pergi dengan pak Diman supir pribadi Chintiya, karena Chintiya sedang tidak pergi kemana-mana. Lagi pula nanti ada supir pribadi Lexi kesana mengantar Lexi, jadi Morens tidak bingung bila nanti Chintiya butuh sesuatu.
60 menit kemudian Morens baru tiba di hotel tempat acara dilangsungkan. Morens langsung masuk dan disambut oleh para pegawainya yang tengah sibuk melakukan finishing sebelum acara dimulai.
Setelah mengecek kesiapan acara, mereka lalu mengadakan gladi resik. Waktu menunjukkan pukul 6 petang, persiapan telah selesai dan satu persatu tamu undangan mulai nampak memasuki tempat acara.
Tepat jam 7 malam acara dimulai, diawali dengan hiburan dari penyanyi papan atas di Indonesia yang disewa untuk memeriahkan acara ini. Kini berlanjut pada pemberian sambutan yang dilakukan oleh Morens selaku Pemilik dan pimpinan di RENS CORP.
Setelah acara sambutan selesai, kini waktunya acara ramah tamah sebelum acara puncak di mulai. Morens terlihat sedang menyambut para kolega dan kliennya. Sampai pandangannya jatuh pada Sandi Abraham.
Dengan terpaksa Morens menghampiri dan menyambut Sandi sebagai salah satu kliennya. Mau tidak mau harus bersikap profesional dalam dunia bisnis, tidak menyangkut pautkan masalah pribadi di dalamnya. Karena jujur Morens masih teringat Sandi yang sedang memegang tangan Chintya meminta suatu hubungan.
Morens tersenyum sinis saat melihat Sandi datang dengan seorang wanita berjalan disebelahnya.
"Tuan Sandi, apa kabar? lama tidak bertemu." sapa Morens bersikap formal.
"Saya baik, selamat tuan Morens atas peluncuran produk terbarunya. Semoga banyak diminati masyarakat." ucap Sandi tulus sambil tersenyum.
"Terima kasih. Oh ya tuan Sandi, siapa gadis ini?, apa dia calon anda?, saya rasa kalian berdua cocok." doa Morens sungguh-sungguh.
"Ah terima kasih tuan." timpal Nitta tiba-tiba.
"Ah iya, kenalkan dia Nitta." ucap Sandi.
"Saya Morens Hadinata."
"Saya Nitta, apa anda pemilik dari perusahaan ini?"
"Begitulah."
"Wah berarti benar ya, saya sering mendengar bahwa pemilik RENS CORP itu masih muda dan sangat tampan. Karena saya tidak begitu hobi dengan dunia bisnis, jadi saya tidak pernah melihat majalah bisnis yang katanya banyak memuat artikel tentang anda dan RENS CORP yang sedang naik saat ini. ternyata semua itu benar, anda sukses, masih muda dan juga sangat tampan." puji Nitta jujur.
"Terima kasih atas pujiannya, tapi calon anda ini juga sukses, masih muda dan tampan."
__ADS_1
"Ah iya anda benar." Nitta tersenyum senang. Sandi hanya diam memperhatikan mereka, dia merasa tidak berselera menimpali percakapan yang menurutnya makin tidak jelas.
Saat sedang berbincang-bincang, obrolan mereka terhenti karena Morens melihat siapa yang baru saja datang. Sandi melihat morens tersenyum kearah pintu masuk, karena itu dia ikut melihat ke arah pintu, Sandi mengira itu pasti Chintiya yang datang.
Betapa terkejutnya Sandi saat melihat siapa yang datang, seorang wanita yang sudah satu tahun ini dia cari keberadaannya, wanita yang no ponselnya mendadak tidak aktif, wanita yang belakangan ini selalu mengisi hari-hari dan pikirannya, wanita yang tiba-tiba pergi dari kehidupannya kini ada di hadapannya.
"Serena" ucap Sandi lirih
Serena yang baru datang pun melihat siapa yang sedang berdiri dengan kakaknya itu. Dia juga terkejut, tapi dia berusaha semaksimal mungkin bersikap seolah-olah dia tidak mengenal Sandi.
"Hei kalian baru datang?" ucap Morens pada Richard dan Serena sambil berpelukan.
Sandi melihat semua itu merasa heran dan bertanya-tanya. Ada hubungan apa mereka?.
"Ya sorry, jalanan macet jadi kami telat." ucap Serena manja sambil bergelayut di lengan Morens.
"Oh ya kenalkan ini tuan Sandi Abraham dan calonnya." ucapnya pada Richard dan Serena.
Mereka pun berjabat tangan dan saat Sandi menjabat tangan Serena, dia tidak melepaskan tangannya dari tangan Serena, dia hanya memperhatikan wajah Serena yang hanya terus membuang muka dari Sandi.
"Eheem." Morens berdehem karena melihat Sandi tidak melepaskan tangan Serena.
"Oh maaf nona. Oh ya tuan Morens, dimana istri anda?" tanya Sandi.
"Istri saya baru saja melahirkan, jadi tidak bisa menemani saya. Karena itu saya mengajak dia, orang yang juga sangat saya sayangi seperti istri saya." ucap Morens ambigu. Dia sengaja bicara seperti itu, karena tau sepertinya Sandi tertarik dengan Serena.
"Oh ya tuan Sandi, calon anda cantik juga ya seksi lagi. Beruntung ya yang menjadi pasangan anda.!" Serena menimpali.
Sandi hanya terdiam, bingung harus bagaimana bersikap. Jujur dia tidak suka berada dalam situasi kesalahan pahaman seperti ini.
...****************...
...****************...
...****************...
TBC
LOVE U ALL MMMUUUAAACCHHH
πππππ
__ADS_1