
Minta mangap ya man teman, kemarin aku gak up to the dat.
Because karna aku lagi loro, meriang. So today aku up gak akeh-akeh.
Punten anu nulisnya is very sedikit, yang penting aku still bikin jenengan sadayana seneng.
Ta ra reng kyu.
...----------------...
...----------------...
"A. ... Aku" Sandi terdiam tidak melanjutkan perkataannya, dia ragu apakah dia harus bicara jujur tentang masalahnya dengan Morens.
Sandi takut bila dia menceritakan tentang dirinya yang pernah menginginkan Chintiya, itu akan membuat Serena kembali menghindarinya. Tapi bila dia tidak bercerita, dia yakin Serena pasti merasa kecewa atas sikapnya. Walaupun Serena berkata tidak apa-apa, tapi Sandi tau Serena pasti menahan kekecewaan yang amat dalam.
Belum lagi tentang Bennita, Sandi tau Serena pasti masih ragu padanya karena adanya Nita. Dia menjadi pusing sendiri, kenapa dia harus berada di situasi seperti ini.
"San. " Serena memanggil Sandi, karena dia melihat Sandi yang tidak kunjung membuka mulutnya. Serena berpikir bahwa Sandi memang tidak bisa mengatakan apa-apa padanya.
Tapi Sandi masih belum bergeming.
"Ok. Aku ngerti kok. Kamu mungkin belum bisa jujur sama aku. Its ok, kalau gitu aku pulang dulu." Serena pergi tanpa menunggu jawaban dari Sandi.
Setelah beberapa saat Serena pergi, Sandi baru tersadar bahwa Serena sudah tidak ada di sana. Dia merasa sangat kesal pada dirinya sendiri, yang selalu lambat dalam mengambil keputusan.
Sandi langsung berlari keluar restoran untuk mencari keberadaan Serena, dia sangat takut kalau Serena akan pergi lagi meninggalkannya.
Dia mencoba menghubungi Serena, setelah berkali-kali panggilan baru terdengar jawaban dari Serena.
"Halo. " jawab Serena malas.
"Ser kamu dimana?, kenapa kamu tiba-tiba pergi?."
"Aku gak pergi tiba-tiba kok. Aku kan udah pamit sama kamu."
"Yang bener? "
"Iya. Udah dulu ya San. Aku ngantuk. " Serena langsung memutuskan panggilan itu, tanpa menunggu jawaban dari Sandi.
"Ser halo, Serena. Ah sial."
Sandi lalu menghubungi asistennya, untuk melacak keberadaan Serena.
__ADS_1
"Mike, aku mengirimkan nomor seseorang padamu. Coba kamu lacak posisinya dimana?" ucap Sandi.
"Baik pak."
Sandi yakin Serena pasti tidak pulang kerumahnya, dan itu hanya alasan Serena untuk menghindarinya.
Setelah menunggu selama 10 menit, terdengar suara ponsel Sandi berdering.
"Halo dimana dia? " tanya Sandi tidak sabar.
"Dia ada di taman kota pak."
"Ok."
Sandi langsung bergegas menuju kesana, dia tidak mau membuang-buang waktu. Bahkan dia melupakan jadwal meeting sore ini.
Begitu sampai disana, dia melihat seorang wanita sedang duduk di depan kolam buatan sambil termenung seorang diri. Sandi mendekatinya dan langsung memeluknya dari belakang.
"Sedang apa disini?"
Serena terlonjak kaget, begitu tau Sandi ada disana dan sedang memeluknya. Rasanya dia ingin sekali memaki Sandi, namun dia sudah malas berdebat dengan Sandi.
"Hanya bersantai." ucap Serena datar.
"Udah hilang. "
"Ser, kenapa kok main pergi aja?. tadi ngajak ketemu sama aku, tapi malah kabur duluan sih."
"Kan yang penting ketemu, aku pulang dulu. "
Serena bangun dari duduknya hendak beranjak pergi, namun Sandi menahan tangannya lebih dulu.
"Jangan pergi lagi. " ucap Sandi dengan tatapan sendu.
"Aku cuma mau pulang istirahat, aku capek. " jawab Serena malas.
"Kamu belum denger jawaban aku kan."
"Aku rasa kamu gak berniat jawab pertanyaan aku."
"Siapa bilang."
Serena diam, rasanya dia sudah malas meladeni perkataan Sandi yang dirasa sangat plin plan.
__ADS_1
"Duduk dulu, aku akan jawab semua pertanyaan kamu. Tapi sebelum itu, aku mohon kamu gak akan kabur lagi ya." Sandi menghela nafas sekejap sebelum bicara.
"Hm"
"Bennita, biasa aku panggil nita. Waktu itu aku kaget banget pas tau dia niat bunuh diri dengan menabrak kan dirinya sendiri, sampai aku lupain kamu di restoran itu. Setelah aku gak berhasil ketemu sama kamu, aku kembali ke rumah sakit dan menelpon ibuku untuk datang ke rumah sakit.
Dia sempat gak sadar selama 3 hari, setelah dia sadar, aku tanya sama dia apa yang terjadi. Ternyata suaminya selingkuh darinya dan mengabaikannya karena akhirnya suaminya itu tau bahwa dia hanya orang luar dan bukan keluarga kandungku.
Dia pergi mencari keberadaan aku dan ibuku disini, sebulan lebih dia mencari kemana-mana tapi tidak ketemu. Dia merasa frustasi dan akhirnya berniat untuk bunuh diri. "
"Terus sekarang rencana kamu apa?" tanya Serena.
"Aku belum tau."
"Belum tau!, kenapa gak kamu coba cariin kerja atau mungkin kamu kasih pekerjaan di perusahaan kamu, dan beri dia tempat tinggal."
"Aku emang ada niat beliin sebuah rumah. Tapi untuk saat ini aku masih belum bisa ngelepasin dia sendiri. "
"Kenapa?, kamu masih cinta sama dia?"
"Enggak, aku cuma ngerasa waktunya belum pas."
"Terus sampai kapan? "
"Sampai dia dapat pengganti suaminya. "
"Kalau dia gak segera menemukan pengganti, bagaimana? "
"Ya, biar seperti ini saja dulu."
"Apa kamu mau terus nampung dia di rumah kamu!"
"Ya, itu karena aku melakukan tanggung jawab ku."
"Kenapa gak kamu aja yang jadi pengganti suaminya, aku rasa dia juga berharap kaya gitu. "
"Kenapa kamu ngomong kaya gitu?" tanya Sandi tak terima, seraya menatap tajam Serena.
"Terus!, kamu mau nampung dia selamanya di rumah kamu tanpa ada ikatan yang jelas. Apa kamu gak kasian sama ibu kamu, kalau sampai orang lain tau, ada wanita yang tinggal disana tapi bukan mukhrimnya."
Sandi terdiam bingung harus menjawab apa, jujur dia hanya kasian dengan Nita yang sebatang kara. Dia tidak tega kalau harus melepasnya saat ini, dia hanya merasa ada tanggung jawab untuk membahagiakan Nitta.
Tapi di sisi lain, dia juga membenarkan ucapan Serena tadi. Dia juga tau kalau saat ini Serena pasti kecewa padanya. Terlihat dari sorot matanya yang sendu dan raut wajah yang lesu.
__ADS_1