Boss Gila Ku

Boss Gila Ku
CHAPTER 31


__ADS_3

Setelah membaca memo yang ditulis Chintiya, Morens segera beranjak pergi ke kantor dengan perasaan kalut, karena dia sudah tau apa yang akan terjadi nanti. Karena kondisi yang belum terlalu padat sehingga Morens dapat melajukan kendaraannya dengan lebih cepat cukup 30 menit dia sudah tiba di perusahaan itu, dia langsung menepikan mobilnya di tempat parkir yang disediakan khusus untuk CEO. Morens langsung beranjak menuju ke lift dan menekan tombol lantai 10 dimana ruangannya berada, setelah sampai di lantai 10 dia bergegas menuju ke ruangan namun saat tiba di depan pintu dia menarik nafas terlebih dahulu untuk mempersiapkan diri menghadapi sikap keras dari Chintiya. Setelah Morens membuka pintu dan masuk ke dalam dia tidak melihat adanya Chintiya, sontak dia langsung mengeluarkan ponselnya menghubungi Chintiya, namun ternyata ponselnya tertinggal di meja kerjanya kemudian dia keluar ruangan menuju ke pantry disitu hanya terlihat 2 orang OB yang tengah bersiap dengan alat tempurnya, lalu dia beralih menuju ke ruangan Rena disana terlihat ruangan yang masih gelap, pertanda bahwa Rena belum datang kemudian dia mulai menaiki lift dan menuju ke arah kantin, disitu dia melihat ada beberapa pegawai yang tengah sarapan namun tidak nampak keberadaan Chintiya. Morens mulai frustasi dia bingung kemana lagi dia mencari Chintiya, apa dia harus menjelajahi seluruh gedung yang memiliki 12 lantai ini. Hingga tujuan akhir jatuh pada Roby, ya dia belum melihat di ruangan Roby. Dia harus segera menemukan Chintiya untuk menyelesaikan kisruh hubungannya, karena dia yakin Chintiya pasti bertambah kesal karena mengetahui Devia menelpon pagi-pagi sekali. Morens langsung ke ruangan Roby tanpa mengetuk terlebih dahulu dia langsung masuk dengan tergesa-gesa dan otomatis mengejutkan sang pemilik ruangan.


"Roby, apa kau melihat Chintiya?"


"Oh astaga boss, apa tanganmu bengkak hingga tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu. Eh tapi tunggu,,, boss tumben pagi sekali sudah datang, jangan-jangan nanti hujan deras karena boss datang pagi-pagi"


"Berisik, semalam aku menginap di rumah Chintiya. Tapi pagi-pagi dia meninggalkanku dan pergi ke kantor sendiri"


"Kau menginap di rumah Chintiya,,, tapi boss kau tidak...."


"Jangan mikir aneh-aneh, semalam aku tidur di sofa dan sekarang badanku terasa sakit semua"


"Hahahaha, seorang big boss disuruh tidur di sofa. Memang cuma Chintiya yang bisa melakukan itu"


"Sudah diam, kau melihat Chintiya tidak pagi ini?"


"Tidak boss, apa dia tidak ada di ruangan?"


"Jika dia ada disana, aku tidak akan mencarinya bodoh".


"Ah iya ya" Roby nyengir kuda.


"Ya sudah aku kembali, kau tidak berguna" Morens langsung keluar ruangan Roby.


"Eh,, kenapa jadi aku yang salah" gerutu Roby.


Akhirnya Morens kembali ke ruangannya, dia berharap saat tiba disana Chintiya sudah kembali ke ruangannya.


Namun setelah sampai di ruangan, lagi-lagi Morens harus merasakan kekecewaan karena ternyata Chintiya masih belum kembali.


"Kemana dia?"


Saat tengah bingung ponselnya berdering, dengan malas dia menjawab panggilan itu tanpa melihat siapa yang menelepon.


"Hallo"


"Ok, tunggu aku di tempat biasa"


Selepas Morens pergi, tak lama Chintiya kembali dengan membawa setumpuk dokumen yang harus dipelajari dan kemudian diserahkan kepada Morens untuk di cek ulang. Begitu tiba di ruangan dia tidak melihat keberadaan Morens.


"Kemana dia?"


Waktu menunjukkan jam 10 pagi tapi Morens belum juga kembali, padahal jam 10.30 Morens akan melaksanakan meeting dengan divisi pengelolaan. Akhirnya mau tidak mau dan karena profesional kerja Chintiya menghubungi Morens, terdengar nada sambung tapi pada panggilan yang ke 5 baru terdengar jawaban dari Morens.


"Hallo Chintiya, ada apa?"


"Dia memanggil namaku, tidak seperti biasanya. Oh ok aku ikuti permainanmu" batin Chintya


"Maaf pak, 30 menit lagi bapak harus menghadiri meeting dengan divisi pengelolaan"


"Kenapa kamu memanggilku begitu?" Morens tidak senang


"Ya karena.." ucapan Chintiya menggantung, karena dia mendengar suara seorang wanita yang pernah dia dengar.


"Pak bisa lebih cepat, saya tidak bisa bila berlama lama" ucap wanita itu


Chintya semakin bertambah kesal, sontak dia langsung berkata.


"Mohon lebih profesional, jadi saya harap bapak tidak telat"

__ADS_1


"Baiklah sa.." telpon langsung ditutup oleh Chintiya tanpa menunggu jawaban dari Morens.


Morens menghela nafas panjang, kemudian dia langsung pergi dari tempat itu dan menuju kembali ke kantor. Setelah sampai di kantor dia langsung menuju ke ruangannya, disitu dia melihat Chintiya sedang sibuk dengan tumpukan berkas dan agenda. Sebenarnya Chintya tau Morens datang, namun dia tidak menghiraukan.


"Jangan pergi kemanapun, setelah meeting aku ingin bicara" ucap Morens namun Chintiya tidak merespon


"Apa kau mendengarku Chintiya?"


"Hmm"Jawab Chintiya malas


Morens keluar dengan menahan emosi dan perasaan yang berkecamuk. Setelah satu jam meeting pun selesai, Morens langsung pergi dari ruangan itu tanpa menunggu Roby yang tengah merapikan berkas meeting tadi. Begitu tiba di ruangannya dia melihat Chintiya yang masih sibuk dengan agendanya. Sebelum berbicara dengan Chintiya, terlebih dahulu Morens menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan secara kasar.


"Sweety" panggil Morens


Chintiya diam


"Sayang" panggil lagi


masih tetap diam


"Chintya" Morens menaikkan intonasinya


"Hmm" jawab Chintiya malas


"Lihat aku, aku tidak suka jika ada orang yang bicara tapi tidak melihatku"


Sontak saja Chintiya langsung mendongakkan kepalanya dan menatap tajam Morens. "Kenapa sih, gak liat aku lagi kerja?"


"Aku mau ngomong"


"ngomong aja, aku bisa denger kok"


"Duduk di sofa yuk" Morens merendah dan menarik tangan Chintya membawanya ke sofa.


"Kenapa tadi pagi berangkat ga tunggu aku?"


"Aku buru-buru"


"Ok, trus tadi kemana?, pas aku dateng kamu gak ada"


"Dari lantai 3, ambil berkas itu? tunjuk Chintiya ke arah berkas yang ada di meja dengan bibirnya.


Melihat bibir Chintiya Morens menjadi gemas, lalu dia merangkul pinggang Chintiya dan tangan satunya mencubit bibir Chintiya.


"Ih gemes deh, ini bibir seksi banget sih apalagi kalau lagi cemberut jadi pengen nyeruduk tuh bibir" goda Morens namun Chintiya tidak bergeming dan tetap tidak merespon.


"Terus tadi kenapa gak bawa ponsel?"


"Aku lupa" jawabnya datar


"Kamu kenapa sih sayang?, masih marah?"


"Enggak, ngapain marah. Aku gak punya hak buat marah"


"Kok gitu sih ngomongnya!"


"Emang gitu nyatanya, aku kan bukan siapa-siapa kamu"


"Sayang, kamu calon istriku. Jelas kamu punya hak atas aku"

__ADS_1


"Tapi faktanya!, aku gak tau kamu pergi kemana?, aku gak tau kamu pergi sama siapa?, bahkan aku juga gak tau apa yang kamu kerjakan?. Aku tuh cuma sekedar sekertaris kamu yang berstatus calon istri gak lebih"


"Chintya jangan ngomong sembarangan, aku benar-benar sayang sama kamu. Kenapa kamu masih gak percaya setelah semua yang udah aku lakuin buat kamu" Morens mulai emosi


"Awalnya aku percaya banget, tapi sekarang aku mulai ragu. Kamu udah mulai gak jujur dan gak terbuka sama aku"


"Apa yang bikin kamu berpikir kaya gitu?"


"Ok sekarang aku tanya, tadi pagi kamu kemana?"


"Aku ketemu klien aku"


"Kamu ketemu sama Devia kan"


Morens terlihat panik


"Emmm, i.. iya. Kok kamu tau!"


"Tuh kan, begini aja kamu gak terbuka sama aku. Kalau aku gak tanya kamu pasti gak akan bilang"


"Tadi kan kamu gak ada sayang, jadi aku gak bisa bilang"


"Kan kamu bisa kirim pesan, ntar kalau aku udah balik ke ruangan aku pasti baca. Biasa juga kamu begitu, kenapa sama Devia kamu mendadak amnesia hm. Alasan kamu tuh cemen, gak masuk logika"


"Please sayang percaya sama aku, aku gak macem-macem"


"Gak tau ah, udah gak usah bahas itu bikin pengen nelen orang jadinya" Chintiya langsung bangkit hendak beranjak ke mejanya, namun Morens menahan tangan Chintya terlebih dulu.


"Kalau begitu mending kita makan siang yuk" ajak Morens


"Enggak, aku banyak kerjaan"


"Kan bisa di lanjut nanti"


"Aku gak laper"


"Tapi kamu gak boleh telat makan, ntar sakit jadi gak seksi lagi" rayu Morens


"Aku bilang enggak ya enggak" Chintiya menghembuskan tangan Morens.


"CHINTYA,,, kamu kenapa sih keras kepala banget!!" Morens sedikit berteriak.


"Iya, emang aku kaya gini. Kamu baru tau!"


"Ayolah, kita sudah dewasa. Berpikir dengan kepala dingin" Morens melunak


"Jadi kamu mikir aku kaya anak kecil, terus kamu nyesel gitu kenal sama aku. Ya udah sekarang mau kamu gimana?"


"Aku capek ngomong sama kamu"


Morens langsung pergi meninggalkan kantor entah kemana dan Chintiya kembali melanjutkan pekerjaannya dengan emosi yang tertahan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


**INI CHAPTER TERPANJANG YANG PERNAH AKU TULIS 1510 KATA.


KARENA KALAU AKU POTONG, NANTI JADI GANTUNG EPISODENYA.


JADI BUAT KALIAN JANGAN LUPA DUKUNGANNYA.

__ADS_1


LOVE U ALL ❤️❤️❤️ MMMUUAAACHHH


TBC**


__ADS_2