
Sebuah hubungan yang sehat itu, dilandasi atas dasar kejujuran dan kepercayaan. Tanpa adanya hal itu sebuah hubungan ibarat memakai pakaian yang robek dan banyak lubang dimana-mana, tertutup tapi tetap dapat dilihat dalamnya.
(VHE)
❤❤❤❤❤
Didalam mobil
Chintya kini tengah dalam perjalanan pulang bersama dengan Rena diantar oleh supir perusahaan, Chintiya nampak melamun dan menatap kosong apa yang ada dihadapannya. Rena mengerti apa yang tengah dipikirkan oleh sahabatnya itu.
"Chintya" panggil Rena, namun Chintiya tidak merespon.
"Chintya"panggil Rena lagi, namun kali ini disertai dengan usapan lembut pada pundak Chintiya.
Chintya terlonjak dan tersadar dari lamunannya.
"Mikirin apa?" tanya Rena
Chintya menggeleng lemah "Enggak"
Rena mengusap punggung tangan Chintya, memberikan kekuatan pada Chintiya lewat sentuhannya.
"Dengerin gue, semua yang lu liat tadi gak seperti yang lu pikirin"
"Maksudnya?"
"Percaya sama gue, laki lu gak berbuat yang aneh-aneh, dia itu setia banget sama lu"
"Kok lu bisa mikir gitu?"
"Gue tau, karena sedari awal acara dia keliatan gelisah dan terus ngeliat ke arah pintu masuk ballroom hotel nunggu lu dateng"
"Lu tau dari mana?, bisa aja kan dia lagi nunggu orang lain, koleganya mungkin"
"Aduh, lu tuh ya jadi cewek gak peka banget deh" gemes Rena mencubit pipi Chintiya.
"Aww, sakit gila" umpat Chintiya
"Asal lu tau aja, sekertaris baru laki lu itu ngebet banget sama doi, tapi gak pernah ditanggepin sama laki lu. Selain masalah pekerjaan dia sama sekali gak pernah ngomong sama si Flo, beda banget kalau sama lu dulu, bahkan meja lu dulu dia taruh diluar. Dia bilang dia gak mau satu ruangan selain sama lu"
"Oh namanya Flo, tapi lu tau dari mana secara kan ruangan lu aja jauh dari ruangan Morens, kan lu gak tau dibelakang"
"Dari Roby, lu tau gak waktu Flo pertama kali masuk kerja Roby itu di ceramahin sama laki lu. Udah gitu Roby juga diancem sama laki lu suruh awasin gerak gerik si Flo itu, karena awalnya dia gak setuju kalau sekertarisnya bentukannya kaya Flo"
"Tapi apa hubungannya sama Roby?"
"Karena yang memilih penerimaan karyawan baru kemarin Roby, laki lu gak minat seleksi sekertaris lagi, jadi dia suruh Roby"
"Tapi Ren, lu juga tadi liat kan penampilan mereka di dalam kaya apa. Ya walaupun gue juga agak ragu pas ngeliat kondisi si Flo itu apalagi tangan Morens yang luka itu"
"Kalau soal di dalam sih mending lu tanya langsung sama laki lu, tapi yang gue tau dari awal acara dimulai gue selalu awasin gerakan si Flo, gue ngerasa kayanya ada yang gak beres sama dia. Dan ternyata kecurigaan gue bener"
"Tapi kenapa lu bisa curiga sama dia?"
__ADS_1
"Karena gue pernah ngeliat dia lagi bahas rencanya ke laki lu sama seorang cewek waktu gue lagi makan siang sama Roby di luar. Cuma gue gak kenal sama cewek yang satu itu"
"Itu dia kenapa dulu gue ragu nerima Morens, karena gue tau pasti banyak cewek yang jumpalitan nyari perhatian dia. Tapi gue gak bisa ngelak hati gue, kalau gue nyaman sama dia"
"Ya udah lu tenangin diri dulu, ok"
Chintya mengangguk "Makasih ya Ren"
"Udah semestinya kali, lu kan sahabat gue"
Sementara di tempat lain
Saat ini Morens dan Boy sedang berada di sebuah gudang yang terdapat di belakang rumah milik Boy.
Di dalam sana nampak seorang pria meringkuk dengan tangan dan kaki yang terikat tengah tak sadarkan diri. Morens mendekat dan membangunkan pria itu dengan cara menendang berkali-kali.
Setelah beberapa saat akhirnya pria itu sadar, dan dia terlihat bingung sedang berada dimana dia saat ini.
"Akhirnya bangun juga lu, kenapa lu mau bawa istri gue?" tanya Morens dingin
Pria tadi tidak menjawab, dia hanya melirik tajam kearah Morens. Morens merasa kesal karena tak mendapat jawaban, dia menendang perut pria itu lagi.
"Cepat ngomong, kenapa lu mau bawa istri gue " bentak Morens
Pria itu tetap tidak menjawab, dia malah memberikan senyuman sinis pada Morens.
"Karena istri lu cantik, gue mau main-main sama dia"
"B*NGS*T"
"Stop, lu bisa bikin dia mati"
"Emang gue mau mampusin nih orang"
"Kalau dia koit sekarang, kita gak bakal tau siapa yang udah bayar dia buat bawa istri lu"
"Maksud lu ada yang mau nyulik Chintiya gitu!"
Boy mengangguk "Supir istri lu bilang, sejak dia keluar rumah ada mobil yang mengikuti mereka, namun mobil itu sempat hilang jadi supir lu pikir mobil itu udah pergi tapi ternyata mobil itu datang lagi"
"Oh iya gue lupa, gimana keadaan supir gue. Dia gak kenapa-kenapa kan!"
"Tenang, supir lu udah gue bawa ke rumah sakit dan ada orang yang gue suruh jaga"
Saat mereka sedang berbicara, salah satu dari suruhan Boy datang.
"Kenapa?" tanya Boy
"Saya sudah mengikuti pria yang melarikan diri itu, dan dia terlihat masuk ke dalam rumah mewah di alamat jl merdeka. Saya rasa itu rumah orang yang membayar mereka untuk membawa nona."
Morens yang mendengar alamat yang disebut tadi, memicingkan matanya.
"Kayanya gue tau alamat itu"
__ADS_1
"Maksud lu?" tanya Boy
Morens tidak menjawab, dia mengeluarkan ponselnya ingin menghubungi Roby.
"Periksa siapa pemilik rumah mewah di jalan merdeka" ucap Morens to the point setelah panggilan terhubung
"Siap boss"
"kau sudah mengurus wanita sialan itu kan, inget jangan bikin dia lewat dulu" sarkas Morens
"Lewat mana boss?" goda Roby
"Oh udah bosen hidup rupanya!"
"Eits ya gak lah boss, saya kan belum menikmati surga dunia. Boss sih enak udah coblos mencoblos"
"Hm, surat PHK sudah ada besok di meja saya"
"Eh, enggak boss"
Panggilan langsung diputus oleh Roby.
"Dasar asisten gak bermoral, main tutup aja"
Kemudian Morens dan Boy melanjutkan dengan mengobrol dan minum di rumah Boy hingga dini hari.
Sementara itu, di dalam kamarnya Chintiya terus gelisah melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 1 dini hari, namun Morens belum juga pulang.
Karena terlalu lelah badan dan pikiran akhirnya Chintiya tertidur di sofa dengan masih menggenggam ponselnya, setelah mengirim begitu banyak pesan pada Morens tanpa ada jawaban sama sekali, ya karena ponsel Morens memang kehabisan daya.
Pada pukul 3 dini hari, Morens baru menginjakan kakinya di rumah. Pemandangan pertama yang dia liat begitu masuk kamar adalah sang istri yang tertidur di sofa dengan bersedekap sambil memegang ponsel.
Kemudian dia mendekat dan duduk disebelah Chintiya mengambil ponselnya dan melihat apa yang dilakukan oleh istrinya itu.
Begitu dia membuka ponsel Chintiya yang memang dia tau password-nya, Morens langsung terenyuh mendapati banyaknya pesan yang dikirim ke ponselnya, yang semuanya berisi kekhawatiran pada dirinya. Seketika itu pula dia langsung merasa bersalah karena sudah membuat Chintiya mengkhawatirkan dirinya, terlebih dia mengingat perkataannya sewaktu di hotel tadi.
Sontak saja Morens langsung memeluk Chintiya erat dan menghujani banyak kecupan di kepala Chintiya sambil terus berucap "Maaf sayang". kemudian dia mengangkat tubuh sang istri ke ranjang agar istrinya itu bisa tidur dengan nyenyak.
Karena merasakan suatu pergerakan, akhirnya Chintiya terbangun dan dia melihat Morens yang berbaring disampingnya sambil terisak lirih.
"Morens kamu pulang?"
"Iya sayang" jawabnya dengan suara serak dan lirih
"Morens kamu nangis?"
"Maaf sayang, maafin aku"
❤️❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa jempolnya di aktifkan untuk menekan like, vote dan komen.
Aku sangat menanti komen kalian untuk meramaikan cerita ini.
__ADS_1
Makasih buat yang tetap setia baca cerita aku.
LOVE U ALL ❤️❤️❤️❤️❤️ MMMUUAAACHHH