
Oxen mengantarkan Mark ke rumah sakit sesuai perintah dari Xander, dia juga sudah menghubungi Dennis tentang apa yang dialami oleh Mark.
"Apa tuan sudah lebih baik?" tanya Oxen begitu dokter keluar dari ruangan rawat setelah mengobati luka di kaki Mark.
"Aku baik-baik saja, ini bukan apa-apa untukku." jawab Mark sedikit sombong, dia tidak mau di kasihani oleh orang lain.
Sebenarnya Mark bisa saja melawan para penjahat tadi, hanya saja dia kehilangan fokus menyaksikan kelihaian Mora dalam menggunakan senjata dan juga bela diri.
Mark terus berpikir, sebenarnya Mora itu wanita seperti apa. Mora sungguh memiliki banyak kejutan untuknya. Mark semakin tertarik dan penasaran pada Mora.
"Baguslah, kalau begitu saya akan pamit dan kembali ke kantor. Karena nona Mora pasti tidak akan kembali kesana dan saya harus menghandle semuanya... Saya pamit tuan Mark." pamit Oxen sambil setengah membungkukkan badannya.
"Tunggu!!"
"Ada apa tuan?"
"Aku ingin tau tentang bossmu, sepertinya dia bukan wanita biasa. Aku begitu terpesona padanya hari ini."
Oxen tersenyum tipis "Anda benar tuan Mark, nona Mora memang bukan seperti wanita yang lainnya, dan anda pasti akan tambah terkejut jika anda tau bagaimana sebenarnya nona Mora."
"Oh ya!!, aku makin penasaran. Bisakah kau beritahu aku tentang dia." pinta Mark bersungguh-sungguh.
"Mohon maaf tuan Mark, saya tidak mau kehilangan pekerjaan dan nyawa saya sebelum waktunya dengan mengatakan tentang beliau." tolak Oxen secara halus.
Dia tidak bisa sembarangan menceritakan tentang kebiasaan dan kesukaan bossnya itu, kalau tidak. Mora pasti akan memecatnya saat itu juga, dan yang tak ketinggalan adalah, asisten sekaligus pawang Mora yaitu Xander pasti akan mengulitinya hidup-hidup.
Dia bergidik ngeri membayangkan hal itu, bagaimana bisa dia menjadi pengangguran dengan masih berstatus jomblo abadi.
"Benarkah!!, apa dia semenakutkan itu?" Mark menyeringai membayangkan apa yang dikatakan oleh sekertaris dari wanita incarannya itu.
"Tuan bisa mencoba sendiri."
"Ok baiklah, terima kasih atas info yang sangat menarik ini."
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi." Oxen keluar dari ruangan itu.
Disaat menutup pintu, dia bertemu dengan Dennis Lincoln yang baru saja datang setelah dikabari oleh Oxen.
"Tuan Dennis." sapa Oxen sopan.
"Tuan Oxen, terima kasih telah membawa kakak saya ke rumah sakit." jawab Dennis dengan tulus.
"Tidak masalah tuan, tapi mohon maaf saya harus segera pergi."
"Baiklah, sekali lagi terima kasih."
__ADS_1
Setelah Oxen pergi, Dennis masuk kedalam ruang rawat Mark. Disitu dia melihat sang kakak sekaligus bossnya itu tengah melamun sampai dia tidak menyadari kedatangan Dennis disana.
"Eheem." Dennis berdehem untuk menyadarkan lamunan Mark.
"Dennis!!, kamu dari kapan ada disini?" tanya Mark yang kaget karena Dennis yang tiba-tiba ada disana. Karena seingatnya tadi dia hanya sendiri setelah Oxen pergi.
"Emm, udah 2 jam yang lalu."
Mark tidak menjawab ucapan Dennis yang dia tau sedang mengada-ada, dia hanya menunjukan jari tengahnya kepada Dennis.
Dennis terkekeh "Bagaimana bisa kau ada disini?" tanyanya mulai serius.
"Cuma insiden kecil."
"memangnya berapa orang yang kau lawan?" Dennis duduk di sofa di dalam ruangan itu.
"6 Orang.
" Cuma 6!!, kenapa bisa sampai berahir di tempat ini?" Dennis penasaran, karena biasanya Mark mampu melawan lebih dari 6 orang seorang diri.
"Aku kehilangan fokus." jawab Mark seraya mengingat-ingat wajah cantik Mora yang bertambah berkali-kali lipat disaat seperti tadi.
"Karena apa?" Dennis memicingkan matanya.
Mark menceritakan semua kronologi kejadian di peninjauan proyek tadi, sambil sesekali tersenyum manis.
"Aku terlalu bersemangat untuk bertemu Mora, jadi aku lupa memberitahumu. Lagipula, aku gak mau waktuku bersama Mora akan terganggu dengan kehadiran para penguntitku."
"Tapi apa yang kakak katakan itu benar?" Dennis sedikit tidak percaya pada apa yang dikatakan Mark. Karena menurut dari penglihatannya, Mora begitu anggun, memang gaya bicaranya sedikit ketus, tapi itu masih terbilang wajar.
"Kamu gak akan percaya sebelum kamu lihat sendiri."
...****************...
Di tempat lain
Sepasang kekasih baru tengah berdebat akibat insiden yang baru saja dialami oleh Mora.
Xander merasa kesal, karena Mora begitu ceroboh karena pergi tanpa memberi tau padanya terlebih dahulu. Walaupun dia tau, Mora bisa menjaga diri, tapi tetap saja dia merasa perlu melindungi Mora.
Apalagi melihat kejadian tadi, Xander bertambah kesal. Kalau saja Oxen tidak memberi tau dan dia datang sedikit terlambat. Entah apa yang akan terjadi pada kekasihnya itu.
"Mau sampai kapan menggerutu?" tanya Mora yang bosan.
Karena sejak mereka tiba di apartemen Xander, pria itu terus saja mengomel seperti emak-emak yang sedang berdemo meminta penurunan harga kolor, eh penurunan harga sembako.
__ADS_1
"Apa kamu begitu semangat mau ketemu sama Mark itu?, sampai kamu gak kasih tau aku bahwa kamu mau pergi meninjau proyek.
Kalau kamu bilang mau kesana, aku gak bakal keluar kantor tadi." ucap Xander sambil menatap tajam Mora.
Mora hanya bisa menghela nafas, ternyata begini rasanya menghadapi pria yang sedang cemburu. Sangat menguji kesabaran Mora.
"Harus berapa kali aku bilang, aku gak sengaja ketemu sama dia."
"Tapi keliatannya gak kaya gitu."
"Terus gimana kamu liatnya?" jawab Mora sengaja memancing kecemburuan Xander semakin bertambah.
"Kalian keliatan mesra banget." Xander menjatuhkan tubuhnya di sofa yang berhadapan dengan Mora setelah sedari tadi dia berdiri.
"Apa kami keliatan cocok?"
"Ya." jawab Xander tanpa sadar.
Mora tersenyum manis.
"Kenapa senyum begitu?" Xander menatap curiga senyuman Mora.
"Makasih ya, kamu udah jujur kalau aku sama Mark itu cocok. Itu artinya sekarang aku udah gak bingung lagi buat cari pasangan, karena aku udah ketemu yang cocok." ucap Mora sumringah.
Xander menegakkan tubuhnya dan Seketika berdiri lalu berpindah duduk disebelah Mora " Eh,,, mana bisa begitu. Gak ada, gak ada. Enak aja, kalian tuh gak ada cocok-cocoknya."
"Lah tadi kamu bilang!"
"Mana ada aku ngomong gitu!" elak Xander.
Mora terkekeh melihat ekspresi kesal sekaligus cemburu milik Xander "Kamu cemburu!"
"Ngapain cemburu, yang ngantri buat aku juga banyak kali."
"Kalau gitu gak masalah dong aku sama dia." Mora mencubit hidung mancung Xander.
Xander menangkap tangan Mora yang mencubit hidungnya, lalu dia menarik tubuh Mora merapat padanya. "Gak ada yang boleh milikin kamu, karena kamu cuma punya aku. Sampai kapanpun."
Mora menatap mata Xander yang nampak begitu serius dengan ucapannya, Mora tersenyum manis dan mencium bibir Xander sesaat "Aku tau."
...----------------...
...----------------...
TBC
__ADS_1
LOVE U ALL MMMUUUAAACCHHH
💜💜💜