
Setelah menyelesaikan makan siang mereka berdua langsung menuju tempat parkir untuk segera kembali ke kantor, namun sebelum sampai di tempat parkir Chintiya berucap.
"Morens, aku ke toilet dulu ya"
"Apa mau ku antar?"
"Eh enggak usah"
"Ya udah aku tunggu di mobil ya"
Chintya melangkah cepat sambil mengacungkan jempol menuju ke arah toilet.
Chintya baru saja keluar dari toilet, tapi sesaat kemudian ada sebuah tangan yang menariknya menuju ke sebuah lorong.
"Sandi, kamu sedang apa disini?. Lepasin tangan aku sih" Sandi masih tetap menggenggam tangan Chintiya.
"Aku mau ngobrol sama kamu"
"Iya, tapi lepasin dulu tangan aku"
"Ok aku lepas" Sandi membuang nafasnya kasar untuk menetralkan perasaannya yang tengah campur aduk.
"Chin, kenapa sekarang no telepon kamu ga bisa dihubungi?"
"Em itu aku ganti nomor, nomor yang lama banyak nomor asing" bohong Chintiya.
"Kamu juga sekarang seperti menghindar dariku!!"
"Masa sih, perasaan aku biasa aja" alasan Chintiya.
Sandi terdiam sejenak kemudian dia menghela nafas dengan berat
"Apa aku benar-benar tidak punya kesempatan untuk menjadi seorang yang spesial buatmu?, apa kau ragu padaku?, aku sayang kamu Chintiya"
Chintya mengangkat kepalanya, menatap mata Sandi sejenak kemudian pandangannya di alihkan ke arah lain.
"Maaf Sandi, dari awal aku hanya menganggapmu sebagai sahabat yang bisa sekaligus menjadi kakak.. Karena aku lihat sikap dan perilakumu sangat dewasa, maafkan aku yang seperti memberi harapan palsu"
Sandi menggenggam kedua tangan Chintya.
"Apa aku tidak punya kesempatan?"
"A... aku sudah"
__ADS_1
Ucapan Chintiya terhenti karena sebuah suara tegas mengejutkan Sandi dan Chintiya.
"Ada apa ini?" Morens menatap Sandi dengan tajam.
"Selamat siang tuan Morens" Sandi menyapa.
"Apa ada sesuatu yang kalian bicarakan?" Morens bertanya dengan ketus.
"Mohon maaf tuan Morens, saya menyita waktu Chintiya sedikit. Saya ada urusan yang sedikit pribadi dengannya"
"Apa aku boleh tau itu apa?"
"Maaf tuan tapi saya rasa anda tidak punya hak untuk tau, karena ini menyangkut hal pribadi bukan tentang pekerjaan"
Morens menatap tajam Chintiya untuk beberapa saat, kemudian dia kembali menatap wajah Sandi. Chintya hanya diam tidak bisa berkata apa-apa, karena dia melihat raut wajah Morens yang sangat berbeda dari biasanya.
"Justru karena menyangkut hal pribadi aku wajib tau"
"Anda tidak punya hak atas itu tuan" Sandi menjawab dengan nada menantang.
"Oh rupanya kau belum tau ya, kuberi tahu satu hal. Mulai detik ini jangan coba menemui Chintiya lagi untuk urusan apapun, karena dia sekarang adalah sekertarisku dan juga calon istriku. Apa sudah jelas" Morens berkata dengan lantang dan tegas.
Sandi terkesiap tubuhnya seketika melemas seakan kakinya tidak bisa menopang tubuhnya, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Calon istri, itu berarti kesempatannya semakin kecil. Dia sontak melihat ke arah Chintiya dan bertanya akan kebenarannya.
"Itu benar Sandi, kamu gak salah dengar. Maaf aku gak bisa membalas perasaan kamu, karena dari awal rasa itu hanya sebatas teman" Chintiya menjawab dengan lirih.
"Kau sudah dengar bukan!!" Morens berkata kepada Sandi.
Kemudian dia langsung menarik tangan Chintya untuk segera kembali ke kantor.
Di sepanjang perjalanan Morens masih terlihat menahan marah dan tidak berkata apa-apa atau melihat ke arah Chintiya. Setelah 15 menit akhirnya mereka tiba di kantor, Morens langsung memarkir mobilnya dengan cantik dia turun namun Chintiya tetap duduk di mobil.
"Apa kau ingin tidur di mobil?" Sarkas Morens.
"Kau marah padaku?" Chintya bertanya.
"Cepat turun"
"Morens, apa kau marah padaku?"
"Aku bilang cepat turun" Morens berkata dengan tegas dan menatap Chintiya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Dengan gelisah akhirnya Chintiya turun dari mobil, setelah Chintiya turun Morens langsung menarik tangan Chintya menuju ke ruangan dan masih tetap diam tanpa bicara apa-apa.
MORENS POV
__ADS_1
Setelah ±20 menit Chintiya belum juga kembali dari toilet. Di tengah kegelisahannya Morens menangkap sosok yang dia kenal sedang berjalan masuk ke dalam mall, karena penasaran akhirnya Morens turun dari mobil dan mengikutinya dari belakang.
Awalnya dia melihat semuanya normal tidak ada yang perlu di khawatirkan, akhirnya Morens berbalik arah dan memutuskan menunggu Chintiya di lorong ujung toilet.
Namun hatinya mendadak memanas, ketika melihat Chintiya yang keluar dari toilet tiba-tiba ditarik oleh Sandi.
Dia mengikuti Sandi, kemana dia membawa Chintiya dan apa yang ingin dia perbuat. Morens sudah tidak dapat menahan kesabarannya saat melihat Sandi menggenggam kedua tangan Chintya dan terus saja bertanya soal perasaan, sontak Morens langsung menghampiri mereka.
AUTHOR POV
Setelah sampai di ruangan mereka, Morens langsung menghempaskan Chintiya ke sofa kemudian dia duduk di samping Chintiya dan menarik pinggang Chintiya, mendekapnya dengan erat. Tatapan matanya begitu tajam dan mengisaratkan bahwa kau adalah milikku dan aku tidak suka ada orang lain menyentuhmu walaupun sedikit. Kemudian Morens membelai wajah Chintya lalu mendekatkan wajahnya dan perlahan mulai mencium bibir Chintiya dengan lembut. Chintya menerima semua perlakuan Morens dan tidak berkata apa-apa, karena dia tau saat ini Morens sedang di penuhi dengan emosi, jadi dia tidak ingin memperpanjang masalah.
Ciuman Morens yang awalnya lembut perlahan semakin menuntut, Chintiya merasa Morens sedang melampiaskan emosinya lewat ciuman itu. Chintya sudah mulai kehabisan nafas lalu Morens mulai menjelajah leher jenjang Chintiya, dia memberi sentuhan hampir di seluruh leher itu. Chintya mulai terbawa suasana dia memejamkan mata dan meremas rambut Morens, kemudian Morens mengangkat Chintiya dan didudukkan di pangkuannya sambil terus menciumi leher Chintiya, nafas Morens semakin menggebu dan disaat itulah kesadaran Chintiya kembali.
"Emmm... Morens sudah cukup, kita bisa lebih jauh nanti"
Morens langsung menghentikan aktivitasnya, dengan nafas yang masih tersengal-sengal.
"Maaf" ucap Morens tertunduk lesu.
"Aku yang harusnya minta maaf, apa kamu masih marah sama aku?" Chintya menangkup wajah Morens dengan kedua tangannya.
"Enggak, aku hanya gak suka ada pria lain menyentuhmu, aku juga takut hatimu akan goyah dan meninggalkanku"
"Apa kau percaya padaku?"
"Iya sweety, dan aku juga sangat mencintaimu"
"Aku juga mencintaimu, jadi jangan pernah berpikir aku akan meninggalkanmu. Kalau aku mau dari awal aku sudah menjalin hubungan dengan Sandi karena dia yang lebih dulu dekat denganku, tapi nyatanya gak kan. Itu karena memang aku gak punya perasaan yang lebih padanya"
"Maaf tadi aku sudah kasar sama kamu"
"Its ok, aku tau itu karena kamu cemburu bukan. Dan aku senang, itu berarti kau benar-benar sayang sama aku"
"Ok, kalau begitu nanti malam kita bertemu dengan mommy dan daddy untuk membicarakan tentang pernikahan, mereka pasti akan sangat senang"
"Baiklah, terserah kau saja"
"Terima kasih."
TBC
LOVE U ALL MMMUUUAAACCHHH
__ADS_1