Boss Gila Ku

Boss Gila Ku
S3 - Chapter 30


__ADS_3

2 Minggu kemudian


Saat ini mereka kembali ke aktivitas masing-masing, Xander sedang melakukan penyelidikan tentang laporan yang diberikan oleh anak buahnya beberapa waktu yang lalu. Sedangkan Mora dan Oxen kini tengah melakukan peninjauan terkait pembangunan proyek yang bekerja sama dengan Grid Construction.


Saat tengah mengamati jalannya proses pembangunan, dia dikejutkan dengan suara yang menegurnya.


"Selamat siang nona Mora."


Mora berbalik badan untuk melihat siapa yang datang dan memanggilnya. "Oh tuan Mark, selamat datang." jawab Mora dengan tersenyum.


"Tidak disangka bisa bertemu nona Mora disini." Mark begitu senang, karena info yang didapat kalau Mora sedang berada di proyek ternyata benar.


"Justru saya yang tidak menyangka bahwa bisa bertemu anda disini, karena setau saya sebelumnya anda tidak pernah terjun langsung ke lapangan." selidik Mora masih dengan sopan dan tersenyum.


Mark terkekeh dan menampilkan senyum menawannya yang mampu membuat para wanita bertekuk lutut padanya. Tapi itu tidak berlaku untuk wanita yang satu ini. "Oh saya begitu tersanjung, ternyata nona Mora begitu mengenal saya dan faham kebiasaan saya."


"Anda salah tuan Mark, siapa yang tidak tau seorang Mark Lincoln. Kehidupan anda sudah menjadi pedoman banyak pengusaha muda di dunia, jadi kalau hanya untuk mengetahui hal tadi, itu sudah seperti rahasia umum."


Mark tersenyum smirk "Apa itu termasuk anda nona!"


"Mohon maaf tuan Mark, tapi pedoman hidup saya cuma satu yaitu Tuhan sang pencipta. Dan untuk dunia bisnis, saya hanya mengikuti ajaran dan pedoman ayah saya. Walaupun beliau bukan pengusaha sukses seperti anda, tapi saya sangat bangga dengan beliau. Karena beliau menjalankan perusahaan dari masih dalam tahap terbawah hingga bisa sampai saat ini." Tutur Mora panjang lebar.


Mark tersenyum, dia begitu kagum dengan wanita satu ini. Dia memang berbeda dari wanita pada umumnya. "Interesting."


Mereka memilih berjalan bersama, lebih tepatnya Mark yang terus mengekor Mora kemanapun. Mora hanya membiarkan Mark mengikutinya, selama dia tidak mengganggu, Mora tidak mempermasalahkan hal itu.


Ketika Mora sedang menapaki tangga menuju lantai 2, tiba-tiba Mark menarik tubuhnya dan Seketika sebuah peluru melesat dihadapannya.


Mora terjatuh tepat diatas tubuh Mark yang menariknya tadi, sekarang posisi mereka kini saling berhadapan masih dengan posisi tertidur.


Oxen yang mendengar suara tembakan, segera mendekat ke arah sumber suara yang ternyata mengarah kepada bossnya.


Oxen berlari ingin mengetahui keadaan bossnya itu, walaupun dia tau bahwa bossnya bisa menjaga diri dengan baik, tapi dia harus tetap memastikan keselamatan atasannya. Karena kalau tidak, bisa-bisa singa Galak pemilik wanita itu akan mengamuk kalau sampai terjadi sesuatu pada wanita pujaannya itu.


"Boss." teriak Oxen sambil berlari.


Mora melihat ke arah suara Oxen.


"BOSS!! AWAS." teriaknya lagi saat melihat di belakang Mora ada 2 orang pria yang mengarahkan pistol ke arah mereka.

__ADS_1


Mora dan Mark segera berguling saat mendengar teriakan Oxen, disusul dengan suara rentetan tembakan yang terus menghujani mereka.


Mora dan Mark terus berguling hingga berhenti di sebuah kolong meja, Mark menggulingkan meja itu untuk menutupi tubuh mereka. Kemudian Mark mengeluarkan sebuah pistol yang berada di belakang pinggangnya yang tertutup oleh Jas.


Mora yang melihat Mark mengeluarkan pistol langsung merebutnya.


"Untukku." ucapnya sambil bersiap dengan posisinya.


"Hei, jangan main-main dengan itu." Mark kaget saat pistol itu sudah berada di tangan Mora.


Mora berdecak "Berisik."


"Tapi itu baha.." Mark berhenti berucap ketika tiba-tiba Mora sudah berguling ke lain arah dan mulai menembaki lawannya.


Mark tercengang melihat itu, dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Bahwa seorang wanita cantik dan elegan ini, bisa menggunakan senjata dan bahkan gerakannya sangat lincah seperti seorang profesional.


"Apa kau mau jadi patung disitu?" teriak Mora menyadarkan Mark yang hanya melongo menatapnya.


"Oh ****!." umpat Mark menyadari kebodohannya.


Dia segera mengeluarkan pistol yang lain dari saku jasnya, mereka mulai saring menyerang dengan adu tembak.


"Bagaimana sekarang?" tanya Mark.


Dia sedang berpikir, siapakah yang menyerang mereka terutama Mora. Dia juga mengumpat kesal, bahwa disaat seperti ini tidak ada satu orang anak buahnya yang hadir. Dia lupa karna terlalu senang ingin bertemu Mora, dia sampai tidak memberi tau kepada Dennis kemana dia pergi.


"Kalau sudah begini apa boleh buat." ucap Mora sambil melepas blazer yang dia gunakan.


"Maksudmu?"


"Kita hadapi secara face to face." Mora menyingsingkan lengan kemejanya ke siku.


"What!!, kamu yakin!!"


"Kalau kamu gak berani, sudah diam saja disitu. Gunakan sebaik mungkin sisa peluru kita."


"Hah!!" Mark menganga tidak percaya, baru kali ini dia diremehkan oleh seseorang, dan itu seorang wanita.


"Bagaimana?"

__ADS_1


"Ok, kita hadapi dengan tangan kosong. Tapi jangan menangis kalau wajahmu terluka." goda Mark.


"Kau juga jangan menyesal, kalau sampai kau dikalahkan oleh seorang wanita." cibir Mora dan langsung melompat ke beberapa pria yang menyerangnya.


Mora melompat agar pistol di tangan mereka terlepas, saat pistol sudah terlepas semua, Mark menyerang mereka dalam peperangan jarak dekat, terjadilah perkelahian antara 2 melawan 6.


Walaupun jumlah mereka tidak sama, tapi mereka bertarung dengan seimbang. Tinggal 2 orang pria yang masih bertahan melawan Mora dan Mark, mereka hampir saja memenangi perkelahian itu jika saja Mark tidak tergelincir karena menginjak sebuah pipa dan terpeleset.


Mora membantu Mark yang jatuh dan terluka, hingga salah satu dari para pria itu mengeluarkan pistol dan menembak mereka.


Suara letusan pistol terdengar nyaring, namun tiba-tiba pria yang memegang pistol itu terjungkal ke depan dan bersimbah darah. Ternyata yang menembak itu adalah Xander.


Saat itu Mora tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk melumpuhkan sisa satu pria disana, Mora merampas pistol di tangan pria yang terkapar itu. Dia bersiap untuk menembakan peluru yang sudah siap melesat sesaat sebelum sebuah suara yang dia kenal mencegahnya.


"TUNGGU!!"


Mora menoleh ke asal sumber suara itu, dia tersenyum tipis saat melihat siapa yang datang disaat yang tepat seperti sekarang ini.


"Xan."


"Biarkan dia hidup." ucap Xan berjalan menghampiri Mora dengan gagah.


"Kenapa?"


"Jangan kotori tangan kamu yang cantik ini." Xander menggenggam tangan Mora dan mengecup nya "Lagi pula kita butuh dia untuk mengorek informasi."


"Kamu benar."


Xander memberi kode kepada para anak buahnya untuk membawa para penjahat itu, kemudian dia menggendong Mora ala bridal style ke arah mobil.


"Oxen, urus tuan Mark." ucap Xander sambil berjalan tanpa menghiraukan yang lainnya.


......................


......................


TBC


LOVE U ALL MMMUUUAAACCHHH

__ADS_1


💜💜💜


__ADS_2