Boss Gila Ku

Boss Gila Ku
Chapter 64


__ADS_3

"Hallo" ucap Serena.


"Kamu sibuk gak?"


"Enggak, kenapa San?" tanya Serena lirih.


"Bisa ketemu gak?"


"Em,,, ada yang penting kah?"


"Enggak sih, aku suntuk aja pengen jalan-jalan sebentar"


"Ok, tapi aku gak bisa lama"


"Its ok, mau aku jemput?"


"Gak usah, kita ketemu ditempat aja" ucap Serena lirih.


"Ok, aku share location ya"


Sebenarnya saat ini Serena sedang istirahat, karena dia merasakan kurang enak badan. Namun dia tidak bisa menolak permintaan Sandi, karena Sandi selalu menyempatkan waktu untuk menemaninya jalan-jalan Seperti janjinya.


Tapi Serena juga malas karena dia mengingat peristiwa 4 hari yang lalu saat sedang bersama Sandi. Dengan setengah hati Serena menemui Sandi di tempat yang sudah disepakati.


Setelah tiba disana dan menemukan keberadaan Sandi, dia langsung menarik kursi untuk duduk. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam dan dalam keadaan kurang fit, akhirnya dia datang dengan menggunakan sweater Hoodie, topi, celana jeans dan sepatu skate.


"Hai" Sapa Sandi.


"Kamu udah lama"jawab Serena sambil duduk.


"Enggak kok, aku juga baru sampai."


"Ada apa San?" tanya Serena to the point.


"Hei, sabar dong. Buru-buru banget sih, aku pesenin minum dulu ya. Kamu mau minum apa?"


"Jus alpukat" jawabnya singkat sambil menatap layar ponselnya.


"Ser"


"Hm" jawab Serena tanpa menatap Sandi.


"Sera"


"Apa?" jawab Serena dengan nada malas.


"Serena"


"Iya, kenapa sih?" jawab Serena dengan nada yang mulai meninggi.


"Loh kok marah?, ada apa sih?" tanya Sandi.


"Oh, gak ada apa-apa kok. Sorry" Sera menunduk, dia malas melihat wajah Sandi.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih nunduk terus?"


"Aku... Aku gak papa kok."


"Kamu marah sama aku!" Sandi memegang tangan Serena yang diletakkan di meja.


"Marah!, buat apa aku marah?" jawab Serena menatap kelain arah.


"Kalau gak marah, liat aku dong. Jangan buang muka gitu"


Akhirnya Serena menatap kearah Sandi "Aku gak marah, sekarang kamu mau apa?" tanyanya dengan nada datar.


Sandi melihat wajah Serena yang nampak pucat dan layu.


"Ser, kamu sakit?"


"Don't worry, im ok." jawab Serena dengan senyum tipis.


"Tapi kami pucat ser"


"Aku cuma kurang istirahat aja, karena terlalu banyak jalan-jalan."


"Kita ke rumah sakit ya"


"Gak perlu"


"Tapi Ser.."


"Aku bilang gak perlu, sebenarnya kenapa kamu mau ketemu sama aku?"


"Kenapa minta maaf?" Serena menautkan alisnya.


"Karena masalah kemarin" Sandi menatap sendu Serena, entah kenapa peristiwa 4 hari yang lalu membuat Sandi terus merasa bersalah pada Serena.


"Emang kita punya masalah ya!, lagi pula buat apa kamu minta maaf" ucapa Serena datar.


"Maaf ser, aku gak bermaksud seperti itu kemarin. Aku juga bingung kenapa aku kayak gitu."


"Udah gak usah dibahas, aku udah gak mau inget itu lagi. Itu hak kamu mau ngapain aja, toh kita ini bukan siapa-siapa kan!" jawab Serena sambil bersedekap.


"Tapi aku tetep mau minta maaf sama kamu"


Serena menghembuskan nafas kasar "Iya, aku maafin kamu."


"Makasih kamu udah mau maafin aku."


"Apa masih ada yang lain?, kalau gak ada, aku mau pulang dulu ya kepalaku pusing"


"Ok, aku antar"


"Gak usah, aku telpon supir aku aja" Serene mulai lemas.


"Ser please, jangan nolak. Aku khawatir sama kamu, lagian kalau tunggu supir kamu pasti lama."

__ADS_1


"Terserah"


Serena ingin berjalan terlebih dahulu tapi diurungkan karena dia mendengar suara dering ponsel milik Sandi.


"Sebentar ya Ser" Sandi meminta ijin untuk menjawab panggilan itu kepada Serena dan berjalan menjauh dari Serena, namun Serena hanya terdiam. Dia sangat tidak berselera hari ini.


Setelah menunggu hingga 10 menit, Sandi masih belum selesai dengan ponselnya. Serena yang sudah sangat ingin beristirahat karena pusingnya semakin menjadi, akhirnya dia melangkah pergi tanpa pamit pada Sandi. Karena dia melihat Sandi masih sibuk dengan panggilan telepon tadi.


Baru berjalan 5 langkah, Serena tiba-tiba pingsan. Sandi yang melihat kerumunan orang mulai penasaran dan dia mencari-cari keberadaan Serena. Sandi mengakhiri panggilan telepon tersebut dan menghampiri kerumunan orang tadi, wajahnya seketika langsung pias melihat bahwa Serena lah yang tergeletak disana.


Dia langsung menggendong Serena menuju ke mobilnya, Serena yang merasakan tubuhnya terguncang mulai sadarkan diri.


"Sa... Sandi turunin aku" ucap Serena lemah.


"Enggak, kita kerumah sakit"


"Aku gak mau San" Serena tetep kekeh tidak ingin dibawa ke rumah sakit, karena bila dia ke rumah sakit pasti otomatis dia akan menginap disana. Dia tidak mau menunda keberangkatannya ke Jerman.


"Kamu harus Ser"


"Kalau kamu maksa, aku pastiin kamu gak bakal ketemu sama aku lagi"


"Ngomong apa sih kamu, ok aku gak bawa kamu ke rumah sakit. Tapi aku antar pulang ya"


"Jangan San, Aku gak mau mommy jadi khawatir kalau liat aku kayak gini"


"Trus kamu mau kemana?"


"Anter aku ke hotel aja, aku istirahat disana aja"


Kini mereka telah sampai di parkiran, Sandi menurunkan Serena dan mendudukkannya di kursi depan. Sandi langsung berputar ke arah kemudi dan melakukan mobilnya.


"Enggak, aku gak ijinin. Kamu sendiri disana, aku takut kamu kenapa-napa dan gak ada yang bisa bantu kamu" tegas Sandi.


"Trus!" ucap Serena sambil memejamkan mata kembali.


"Ke apartemen aku aja. Kamu tenang aja, aku gak bakal macem-macem kok"


"Terserah kamu" Setelah berkata demikian, Serena kembali tertidur.


Setelah sampai di apartemen, Sandi kembali menggendong Serena dan menidurkan di ranjangnya. Dia juga mengompres kening Serena dengan hati-hati agar tidak menggangu tidurnya.


Sandi yang lelah, akhirnya memilih tidur di sofa ruang tamu. Serena terbangun pukul 5 pagi, dia mencari keberadaan Sandi yang ternyata tidur di ruang tamu.


Serena berniat untuk pulang dengan menelpon supirnya, sebelum pergi Serena menuliskan memo yang diletakkan y bawah ponsel Sandi yang tergeletak di atas meja.


Saat meletakkan memo itu, Serena melihat ponsel Sandi berdering namun tidak membangunkan Sandi. Dia melihat nama yang tertera di layar ponsel dan tertulis Bennita.


Serena ragu ingin menjawab, baru saja dia ingin menjawab namun suara dering itu berhenti. Dia menggeser icon notifikasi dan melihat banyaknya panggilan dari nama Bennita"


Serena meletakkan kembali ponsel Sandi dan dia langsung pergi dari apartemen Sandi, sebelum sang pemilik rumah terbangun.


"Kenapa aku ini?, jealous!, oh no no no, i Will survive. Itu hak dia mau berbicara sama siapa!"

__ADS_1


Maaf kak dikit part-nya. Mata aku udah super lengket kaya lem power, Sukses terus.


LOVE U ALL ❤️❤️❤️❤️❤️ MMMUUAAACHHH


__ADS_2