
Mendengar kepulangan Mora dan Xander disertai dengan adanya anggota baru, yaitu Eren. Mereka semua datang dan berkumpul di rumah kediaman milik Mora.
Baik Morens dan Chintya beserta Zemi yang membawa calon istrinya, juga Sandi dan Serena beserta Marlon. Mariene kini tinggal bersama Asgar di Amerika, dan tak lupa juga sekertaris kesayangan Mora yaitu Oxen. Tak ketinggalan pula Roby dan Rena.
Disana mereka melepas kecemasan sekaligus kerinduan pada pasangan gila ini, setelah 4 tahun mereka berada dalam situasi yang tidak memungkinkan. Apalagi kini ditambah dengan kehadiran si comel Eren.
Tak lupa mereka melakukan panggilan video melalui aplikasi Skype kepada Richard dan juga Lexi yang tidak bisa hadir karena kondisi kesehatan yang sudah tidak memungkinkan.
Rencananya besok mereka akan menginap di mansion milik Richard untuk membahas tentang pernikahan Zemi.
"Oh ya uncle, apa Mariene gak ada niat buat kembali kesini?" tanya Mora pada Sandi di tengah percakapan mereka.
"Hah, uncle udah bicara sama Mariene. Tapi ya, uncle gak bisa maksa. Biar bagaimanapun dia sudah melakukan suatu hal yang benar, dengan ikut kemanapun Asgar berada." jawab Sandi lesu.
Mora merasa ada sesuatu yang terjadi pada pernikahan Mariene dan Ashar disana, ingin rasanya dia bertanya pada Sandi. Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk membahas hal itu, dia akan bertanya di lain waktu.
"Nyonya Sera, bagaimana kondisi mu sekarang?" tanya Xander.
"Hei, jangan panggil nyonya. Kamu itu suami dari keponakanku, bukan pembantuku. Panggil aku seperti Mora memanggilku." tolak Serena.
"Maaf."
"Its ok Hansom, aku sekarang sudah jauh lebih baik. Hanya saja aku masih harus rutin untuk cek up ke dokter." jawab Serena dengan tersenyum manis.
"What!!, kau panggil apa Xander apa?" tanya Sandi menatap tajam Serena.
"Emangnya aku panggil apa?"
"Tadi kamu panggil dia hansom."
"Loh!!, emang dia hansom kok."
__ADS_1
"Dih cemburu nih ye." ledek Morens.
"Lagian kamu tuh inget umur, gak usah pake cemburu. Kalau aku mau, dari dulu aku cari yang lebih ganteng dari kamu." sindir Serena.
"Kok gitu sih, jadi karena aku udah tua gitu. Tapi biar tua, setrumnya masih tinggi."
"Gak usah ngaco."
"Aku gak ngaco kok, perlu bukti. Yuk sekarang." ucap Sandi tanpa sadar dan tiba-tiba sebuah bantal sofa melayang ke lengannya.
"Ngomong sembarangan, gak liat tuh." lirik Morens pada Zemi dan calon istrinya.
"Ups lupa, disini ada yang belum halal ya."
"Lagian ngomong gak disaring dulu." cubit Serena pada paha Sandi.
"Aww," Sandi mengusap pahanya yang dicubit Serena "Minyak kali ah 2x penyaringan."
Semua orang tertawa melihat tingkah laku Sandi yang semakin terlihat konyol saat semakin bertambah usia.
Kini tatapan matanya berakhir pada sosok pria disampingnya yang tengah sibuk beradu argumen dengan adik iparnya yang dulu adalah rivalnya.
Chintya tidak menyangka bahwa pria inilah yang dulu merenggut nyawa orang tuanya, keluarga pria inilah yang merampas kebahagiaan keluarganya dulu. Namun pria ini juga beserta keluarganya yang mengembalikan semua kebahagiaan yang dulu hilang dari masa-masa mudanya.
Sadar jika sedang diperhatikan, Morens melihat ke arah Chintya yang tengah menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Hei sweety, what's wrong?" tanya Morens seraya merangkul pundak sang istri mesra.
"Thanks dad." ucap Chintya lirih seraya menyandarkan kepalanya di pundak Morens.
"Thanks!!, for what sweety?" tanya Morens bingung.
"Thanks for everything."
__ADS_1
"Anything for you sweety, tapi kenapa tiba-tiba bilang makasih. Tumben, jangan-jangan ada maunya ya. Kalau emang mau, tunggu nanti ya, sekarang masih ramai." canda Morens.
"Dad,,,," kesal Chintya.
"Iya iya, aku tau. Gak perlu bilang terima kasih sama aku, karena sejatinya aku yang harus terima kasih sama kamu sayang.
Kamu sudah mau memaafkan kesalahan aku dan juga keluargaku, kamu juga udah bisa melupakan segala kenangan buruk yang aku dan keluargaku perbuat. Bahkan kamu juga masih bersedia menerima dan menyayangi aku dengan tulus.
Kamu tau sayang!!, aku merasa hidupku sekarang lengkap. Aku mempunyai istri yang cantik dan pengertian, anak-anak yang istimewa dan juga seorang cucu yang menggemaskan. Ini semua berkat kamu sayang. I love U." ucap Morens mesra disertai bisikan di akhir kalimat.
"Love U more dad." Chintya memeluk pinggang Morens.
"Ehemm." Sandi berdehem untuk menyadarkan sepasang suami istri yang sedang saling jatuh cinta untuk kedua kalinya. Karena sedari tadi, tanpa mereka sadari semua mata tertuju kepada keromantisan yang ditunjukkan mereka berdua.
"Kenapa?" tanya Morens.
"Inget dong, disini masih banyak orang. Kalau mau mesra-mesraan sana masuk ke kamar." kesal Sandi. Karena sebenarnya dia juga ingin mengajak sang istri ke kamar, tapi Serena masih asik bercengkrama dengan Mora dan Eren.
"Idih, boleh sih. Inikan rumah kami."
"Ini rumahku dad." sela Mora yang membuat semua orang tertawa.
...----------------...
...----------------...
Cerita ini udah tamat ya kak, terima kasih buat para pembaca dan yang selalu setia menunggu kelanjutan cerita ini. Karena tanpa kalian, aku si othor kecambah ini gak ada apa-apanya.
Cuma mau tanya, sebenarnya aku ada niat buat membuat cerita kisah cinta untuk Mariene dan Asgar. Kisah cinta beda usia yang sangat jauh, Cerita ini bergenre drama romantis, dengan konflik yang gak terlalu berat tapi tetap membuat penasaran.
Apakah sekiranya akak semua tertarik, aku tunggu ya jawabnya di komentar.
__ADS_1
Sekali lagi tararengkyu, atur nuhun buat kalian semua. Sampai jumpa di cerita yang lain, salam dari keluarga BOSS GILAKU.
DADA PAPAY....😘😘😘😘🙏🙏🙏🙏