Boss Gila Ku

Boss Gila Ku
S2 - Chapter 77


__ADS_3

"Dad" panggil Chintiya dengan bersandar di dada Morens, sambil menikmati suasana sore di taman belakang rumah mereka dan menemani princess Mora yang tengah tertidur setelah dimandikan.


"Yes sweety."


"Aku mau mengunjungi makam ayah dan ibu, boleh gak?"


"Of course sweety, tapi tunggu kamu benar-benar pulih ya." Morens membelai rambut Chintiya dengan lembut.


"Ok." ucap Chintiya sambil memejamkan mata seraya menikmati usapan tangan Morens di rambutnya.


"Sayang." panggil Morens lirih.


"Hm." jawab Chintiya masih dengan mata terpejam.


"Soal ayahmu, aku benar-benar minta maaf. Jujur aku akui, sebelum ketemu sama kamu, dulu aku tuh cowok pengecut yang selalu lari dari masalah. Aku gak pernah bisa ambil sikap yang tegas. Aku benar-benar minta maaf, karena aku, kamu harus jalanin hidup yang sulit." ucap Morens sambil mencium puncak kepala Chintiya dengan lama di akhir kalimat.


Chintiya masih tetap terpejam dan terdiam, tidak memberikan respon apapun.


" Sayang, ngomong dong. Kamu boleh kok marah sama aku, asal jangan ngomel. Kamu juga boleh pukul aku sepuasnya pake bantal guling. Atau kalau kamu suruh aku tidur di kamar tamu, aku terima kok asal sama kamu." ucap Morens dengan nada yang serius.


Mendengar perkataan Morens, Chintiya langsung membuka mata dan menatap tajam Morens. Ingin sekali dia mengunci mulut suaminya itu, kemudian kuncinya dia lemparkan ke mulut buaya. Agar Morens tidak bisa bicara seenaknya lagi.


"Kamu tuh ya, udah salah masih aja ngeselin."


"Kan aku dari dulu udah ngeselin, tapi buktinya kamu masih tetap cinta kan sama aku. Secara pesona aku terlalu menyilaukan mata."


"Iya, saking silaunya sampai aku gak bisa liat tingkah absurd kamu." ucap Chintiya sambil melotot.


"Absurd tapi tampan kan." Morens menaik turunkan alisnya.


"Kamu ih benar-benar ya, makhluk paling nyebelin yang pernah aku kenal."


"Dan kamu makhluk paling cantik yang aku kenal."


"Morens!!!!!"teriak Chintiya gemas.


"Sayang!!!!!"balas Morens menirukan Chintiya.


"Nyebelin kamu nyebelin." ucap Chintiya gemas, sambil mencubiti lengan Morens.


"Aww, aww, aww... Kamu kaya kepiting betina tau gak!"


"Bodo, abis aku tuh greget sama kamu. Bercanda terus."


"Iya sayang, aku tau kalau aku makhluk paling nyebelin, aku juga sering bikin kamu nangis dan aku juga makhluk paling tampan." goda Morens.


"Morens!!!!!"


"Iya iya iya, udah ya jangan sedih lagi. Aku tuh gak bisa kalau liat kamu nangis, maafin aku ya." Morens menangkup wajah Chintiya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Sebenarnya aku sempat marah dan kecewa sama kamu dan daddy Richard. Mungkin itu sebabnya aku mengalami preklamsia , tekanan darahku tiba-tiba naik tinggi karena stres yang berlebihan.


Tapi setelah aku pikir-pikir, dalam hal ini daddy tidak ada sangkut pautnya, dan dia juga enggak tau menau apa yang dilakukan sama adiknya itu. Sedangkan kamu, aku tau kalau kamu gak sengaja menabrak ayah.


Mungkin kalau ayah dan ibu masih hidup, aku tidak akan bertemu dan menikah sama kamu, dan Mora juga tidak akan terlahir ke dunia."


"Iya sayang, terima kasih karena kamu udah mau ngerti aku."


...----------------...


...----------------...


Sementara di tempat lain, Serena kini berada di butik untuk mencari gaun yang akan dia gunakan pada acara launching produk terbaru RENS CORP. Dia akan datang untuk menemani Morens dan menggantikan Chintiya yang memang keadaannya belum pulih total.


Dia berkeliling butik untuk mencari gaun yang dirasa cocok untuknya, hingga pandangannya jatuh pada gaun berwarna merah yang sangat cantik nan elegan.


Saat akan mengambil gaun itu, tiba-tiba seorang wanita mengambilnya lebih dulu.


"Permisi, maaf. Itu milikku" ucap Serena dengan sopan.


"Ups sorry, tapi aku yang mendapatkannya." jawab wanita itu sombong.


"Hei, tapi aku yang lebih dulu datang." Serena tidak mau kalah.


"Tapi faktanya aku yang memegang gaun ini."


Terjadilah perdebatan antara mereka, sampai mereka menjadi tontonan para pengunjung butik yang lain karena suara mereka yang benar-benar mengalahkan paduan suara seriosa dengan oktaf 6.5 dan melengking dengan kuat. Pihak butik pun sudah berkali-kali mencoba menengahi mereka, namun mereka sama-sama keras kepala dan tidak ada yang mau mengalah.


"Hei berhenti, ada apa ini?" tanya wanita paru baya itu.


"Tante, dia yang memulai lebih dulu." adu wanita tadi dengan suara nyaring.


"Nitta, bisa pelankan suaramu?. Kupingku sakit mendengar suara falsmu." ucap wanita paru baya itu.


Serena menahan tawa mendengar ucapan wanita paru baya itu.


"Nak, sebenarnya ada apa?" tanya tante itu pada Serena.


"Maaf ibu, ini hanya salah paham. Maaf kami sudah bikin keributan." ucap Serena mengalah.


"Nah kan, dia ngaku salah. Dari tadi kek." timpal Nitta.


"Nitta, kamu bisa diem gak?" lalu tatapan wanita paru baya itu beralih pada Serena. "Bukannya kamu Serena ya?"


"Iya, apa tante kenal sama saya?" tanya Serena.


"Saya tante Ayu."


"Tante Ayu!!"

__ADS_1


"Iya tante Ayu, yang waktu itu hampir tertimpa tumpukan tas."


"Ah iya tante Ayu, maaf saya lupa. Soalnya saya baru 3 bulan kembali ke Indonesia."


"Emang kamu dari mana?"


"Saya baru selesai pendidikan di Jerman."


"Oh ya Serena, maaf ya atas tingkah Nitta. Dia itu memang anak manja, saya juga heran kenapa anak saya mau sama dia. Padahal tadinya saya mau kenalin kamu ke anak saya."


"Ih tante kok ngomong gitu sih!, aku kan pacarnya Sandi."


"Sandi!!, apa Sandi yang di maksud adalah Sandi?, ah sudahlah. Ngapain sih aku mikirin dia, cowok gak jelas gitu. Mungkin aja ini Sandi yang lain. Di dunia ini nama Sandi kan banyak pake banget." batin Serena.


"Its ok tante, kalau gitu saya permisi dulu ya."


"Kita makan malam bareng dulu yuk." pinta Ayu.


"Maaf tante, mungkin lain kali. Saya udah terlalu lama pergi, nanti mom dan dad khawatir."


"Oh ya udah deh, eh tapi boleh gak tante minta no ponsel kamu. Biar ntar kalau tante mau ketemu kamu, jadi gampang hubunginya."


Mereka pun saling bertukar no ponsel, lalu Serena segera pergi dari butik itu tanpa mendapatkan satu gaun pun.


Tak lama Serena pergi, Sandi datang menjemput tante Ayu dan Nitta di butik setelah mendapat telpon dari tante Ayu yang tak lain ibu dari Sandi.


"Mah, udah selesai belanjanya?" tanya Sandi saat sudah berada di hadapan ibunya dan mencium punggung tangan Ayu.


"Huh, belanja apaan?. Yang ada mamah jadi malu."


"Malu!, kenapa malu?" tanya Sandi.


"Tuh, dia malah berantem sama perempuan yang waktu itu mamah ceritain ke kamu. Malu maluin aja." Adu tante Ayu.


"Kamu bikin ulah lagi?" tanya Sandi menatap tajam Nitta.


"Ih enggak kok."elak Nitta.


"Oh ya San, ternyata perempuan itu baru kembali dari Jerman. Pantes aja mamah gak bisa ketemu sama dia kemarin-kemarin."


"Jerman!"


JANGAN LUPA MAMPIR DI PEMBANTUKU SUPERSTAR DAN TAKDIR CINTA ANDREA.


...****************...


...****************...


...****************...

__ADS_1


TBC


LOVE U ALL MMMUUUAAACCHHH💝💝💝💝💝


__ADS_2