
2 tahun kemudian.
Kini Chintiya tengah mengandung anak keduanya yang berusia 3 bulan, sedangkan Mora kini berusia ±4 tahun dan sudah memasuki masa pendidikan anak usia dini.
Untuk semua usaha milik Chintiya, kini dia mempercayakan pada Ninis.
Anak dari supir pribadi kepercayaannya, Ninis dipercaya oleh Chintiya untuk mengelola usahanya. Karena sewaktu dulu Ninis memegang kepercayaan di toko Roti milik Chintiya, toko itu bisa berkembang dengan baik.
Serena juga sudah tidak diperbolehkan melakukan aktivitas terlalu berlebihan oleh Sandi, karena usia kehamilan Serena yang sudah mendekati waktu kelahiran. Oleh sebab itu Serena kembali menyerahkan pada Chintiya.
Sedangkan di gedung RENS CORP
Setelah pengunduran diri Roby, kini yang menggantikan posisinya adalah Asgar Mehmed itupun rekomendasi dari Roby dan Morens menyetujuinya.Karena Morens yakin Roby tidak akan memberikan rekomendasi orang sembarangan.
Asgar Mehmed adalah pria berusia 29 tahun yang berasal dari Mesir dan kini menetap Indonesia.
Asgar adalah sahabat baik Roby dari sejak mereka berkuliah di Oxford university.
Setelah Roby merencanakan mengundurkan diri, Roby menghubungi Asgar memintanya untuk menggantikan posisinya di RENS CORP. Roby juga meminta Asgar untuk mengawasi dan menjaga Rena selama dia tidak disana.
Setelah mendengarkan cerita dan penjelasan dari Roby, akhirnya Asgar menyetujui permintaan Roby.
Sedangkan Rena, setelah 3 bulan Roby resmi berhenti dari RENS CORP. Rena juga mengundurkan diri dan pergi entah kemana, Bahkan Chintiya juga sudah tidak bisa menghubungi ataupun bertemu dengannya.
Chintiya merasa bingung, sebenarnya apa yang sudah terjadi pada sahabatnya Rena. Karena sebelum dia memilih mengundurkan diri dari RENS CORP, Rena tampak sering melamun dan menjadi lebih pendiam.
Chintiya sudah berusaha mendatangi dan mencari keberadaan Rena, namun tidak bisa ditemukan. Rena bagaikan hilang ditelan bumi.
Terdengar suara ketukan di pintu ruangan Morens, dia memberi ijin masuk seseorang yang berada diluar.
"Daddy daddy daddy." terdengar suara berisik begitu pintu dibuka dan menampilkan sosok kecil Mora yang kini semakin lincah dan cerewet.
__ADS_1
"Hei princess, sama siapa kesini?" tanya Morens bangun dan menghampiri Mora.
"Sama pak Diman." jawab Mora merangkul leher Morens manja.
"Sudah bilang mommy belum?" Morens mengajak Mora duduk di sofa.
"Udah dong."
"Kenapa gak pulang dulu ke rumah buat ganti baju, terus ntar balik kesini lagi."
Ya karena saat ini Mora masih mengenakan seragam sekolah, tadi sepulang sekolah Mora minta langsung diantarkan oleh pak Diman ke kantor Morens.
"Enggak ah Mora males."
"Loh kenapa?, ntar mommy marah loh."
"Abisnya sekarang mommy kerjanya tiduran mulu, sambil megangin kepala terus. Mommy udah gak mau nyuapin aku lagi, mommy juga udah gak mau nemenin aku main. Kalau aku minta dibikinin susu pasti langsung muntah. Aku kan jadi kesel dad." keluh Mora.
Karena kehamilan Chintiya yang sekarang ini jauh berbeda seperti saat dia mengandung Mora.
Dia tidak suka mencium bau-bau tertentu, dia juga jadi malas bergerak dan lebih memilih merebahkan diri di sofa. Dia juga mengalami penurunan nafsu makan, sehingga sering membuatnya pusing dan lemah.
Morens sangat mengerti dengan kondisi Chintiya saat ini, jadi dia lebih bersikap mandiri dalam mengerjakan beberapa hal. Morens juga sangat sabar menjaga Chintiya yang tengah malam sering bangun tiba-tiba untuk membuang isi perutnya yang bergejolak.
Morens. sudah memeriksa kondisi Chintiya, dan dokter pun mengatakan itu adalah hal yang wajar dialami oleh ibu hamil diusia kandungan trimester pertama. Dokter hanya memberikan suplemen penguat janin dan vitamin agar sang ibu tidak kekurangan energi.
"Ssstt, gak boleh ngomong gitu. Mommy bukannya gak mau nemenin main lagi, bukan gak mau suapin kamu lagi. Itu semua karena adik bayi yang mau, jadi Mora tuh harusnya bantuin mommy buat bilangin adik bayi supaya jangan bikin mommy kaya gitu." jelas Morens.
"Emang adik bayi di dalam tuh ngapain sih dad?, dia suka main kaya aku gak?" tanya Mora polos.
"Sekarang adik bayi masih sangat kecil, jadi belum bisa main kaya kamu."
__ADS_1
"Berarti aku gak usah ngomong sama dia dong dad."
"Loh kenapa?"
"Kan dia di dalam, kalau Mora ngomong pasti dia gak denger."
"Adik bayi bisa kok denger suara kamu."
"Kok bisa dad!, apa adik bayi punya handphone juga. Jadi aku telpon sia aja kalau mau ngomong sama adik bayi."
Hah, handphone. Apa dia pikir handphonenya ditelan oleh Chintiya, jadi dia bisa berkomunikasi secara langsung.
Memang agak susah ya, kalau bicara dengan anak kecil yang sangat ingin tau sesuatu.
"Princess, mending sekarang kita makan siang dulu ya. Daddy udah laper nih." ajak Morens mengalihkan pembicaraan, karena sudah mulai pusing jika harus terus menerus menjawab pertanyaan dari anak hasil uji cobanya bersama sang istri.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
Segini dulu ya.
Ditunggu aja, masih akan ada Chaptan lagi kok. Jadi stay terus disini.
Kalau mau memberi VOTE, berikan di cerita PENAKLUK SANG ASISTEN aja ya, jangan dicerita ini.
Karena ini hari Senin, jadi dimulai ya yang mau kasih VOTE.
TBC
__ADS_1
LOVE U ALL MMMUUUAAACCHHH
💜💜💜💜💜