Boss Gila Ku

Boss Gila Ku
S3 - Chapter 27


__ADS_3

Mora dan Xander segera kembali ke Indonesia untuk bicara dengan ayah dan kakeknya. Sedangkan Sandi tetap berada disana menemani Serena menjalani proses penyembuhan, tentunya dengan pengawalan ketat dari beberapa orang suruhan Xander yang didatangkan langsung dari kesatuannya.


Mariene juga untuk sementara harus merelakan beberapa kontrak kerja pemotretan dibatalkan, karena kini dia harus menemani Sandi untuk bergantian menjaga Serena. Sedangkan Marlon, menggantikan Sandi di perusahaan ditemani oleh Mike sekertaris Sandi yang sudah sangat lama bekerja di PT Gagal Jaya. Mau tidak mau Sandi harus menceritakan kondisi Serena pada anak-anaknya.


...----------------...


Begitu tiba di Jakarta, Mora pulang kerumah pribadinya terlebih dahulu. Sedangkan Xander dia pergi ke apartemennya untuk mengambil beberapa barang yang akan dia bawa besok untuk bertemu dengan Morens dan Richard.


Keesokan harinya


Mora sudah menunggu Xander menjemputnya untuk bersama pergi ke mansion keluarga Hadinata yang kini ditempati oleh Richard dan juga Lexi menjalani hari tuanya.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 60 menit, akhirnya mereka tiba di sana dan sudah ditunggu oleh Richard dan juga Lexi.


"Hallo princess, oma kangen banget sama kamu." Lexi merentangkan tangannya menyambut kedatangan cucunya yang paling anti mainstreem ini.


Lexi memeluk dan mencium wajah Mora bertubi-tubi seperti 15 tahun yang lalu saat mora masih kecil.


"Oma stop, kau menghancurkan make up ku." Mora mencebik mendapat perlakuan Lexi yang masih menganggapnya seperti anak kecil.


"Cucu grandma yang kecil dan cantik ini sekarang sudah pintar bermake up ya." Mora berdecak malas menanggapi Lexi.


"Ayo masuk, jangan berdiri saja disana." ajak Richard yang datang dari dalam.


Merekapun masuk ke dalam ruang keluarga dan duduk di sofa yang melingkar, Richard duduk di sofa single dan Mora berada disamping Lexi. Sedangkan Xander duduk seorang diri berhadapan dengan mereka.


"Dimana daddy?" Mora bertanya karena tak melihat keberadaan Morens disana.


"Daddymu belum datang, nah itu dia." tunjuk Lexi dengan dagunya pada Morens yang baru saja datang dengan Roby.


"Hai dad." Mora mencium pipi Morens.


"Uncle Roby, long time no see." Mora memeluk Roby yang masih terlihat gagah diusia yang tak lagi muda sama seperti daddy-nya.


"Uncle baik cantik, bagaimana kabar Rosie?"


"Dia baik, cuma sekarang dia malas gerak." ucap mora sedih mengingat peliharaannya yang ada dirumah.


"Mungkin udah tua, jadinya udah gak gesit lagi." Roby memberi penjelasan pada Mora.


"Iya ya, biasanya kalau udah tua kan udah gak gesit lagi."


"Eh siapa bilang, daddy makin tua makin energik." timpal Morens.


"Oh iya ya lupa, daddykan udah tua."

__ADS_1


"Kamu merasa tua, daddy aja gak tuh. Iya gak Rob?" ejek Richard.


"Pasti Om, kita mah selalu muda tak luntur dimakan usia." timpal Roby yang senang karena Richard mulai menggoda Morens seperti dulu.


Morens berdecih "Gak sadar usia." cibir Morens.


"Udah udah jangan ribut, tua bangka gak inget umur berkelamin terus." Lexi melerai perdebatan mereka.


"BERKELAHI!!!" ucap mereka serentak meralat ucapan Lexi.


"Oh, udah ganti toh rupanya."


"Ih mommy, kok ketularan daddy sih." Morens menepuk jidatnya.


"Udah ah, ini kapan mulai bicaranya." celetuk Mora yang sudah jengah mendengar percakapan absurd para generasi jaman dulu. Sedangkan Xander hanya menyaksikan sambil sesekali tersenyum tipis.


"Eh, tunggu dulu. Kamu siapa?" Richard menatap Xander tajam dan mencoba mengintimidasi Xander.


Namun itu tidak berlaku untuknya, Xander sudah biasa menghadapi yang seperti itu "Saya Xander Cloud Manson. Asisten nona Mora."


"Manson!!" Richard mengerutkan keningnya.


"Kenapa dad?, apa daddy kenal?" tanya Morens.


"Saya cucunya."


"Ow, interesting."


"Ada apa dad?" Morens penasaran, karena sepertinya Xander ini bukan orang sembarangan.


"Nanti daddy ceritakan, sekarang yang terpenting kita harus mencari jalan keluar untuk masalah Mora dan Serena. Ayo kita ke ruang kerjaku." ajak Richard berjalan lebih dulu, diikuti oleh yang lain kecuali Lexi yang berlalu pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan dan minuman. Karena dia tau bahwa pembicaraan ini sepertinya akan memakan waktu lama.


Richard memulai pembicaraan lebih dulu saat semua sudah duduk di tempat masing-masing.


"Jadi apa rencanamu?" tanya Richard to the point.


Karena sebelumnya, Mora sudah lebih dulu menceritakan tentang itu semua pada Morens dan Richard melalui converence call.


"Maaf tuan Richard sebelumnya saya sudah lancang, saya ingin minta bantuan anda untuk mengumpulkan pasukan khusus yang anda pimpin dulu dalam masalah ini."


"Apa itu perlu?"


"Sangat perlu tuan, karena mereka ini ternyata bukan hanya sekedar pedagang gelap. Tapi juga, kelompok mafia. Sedangkan yang dulu Mora lawan, itu adalah kru perdagangan gelap.


Dari info yang saya dapat, kini mereka tengah mengumpulkan anggota terbaiknya untuk melenyapkan nona Mora yang sudah berani menggagalkan rencananya."

__ADS_1


"Tapi kenapa sampai harus melibatkan banyak pihak?" tanya Morens yang sudah mulai paham situasinya.


"Beberapa waktu yang lalu, mereka sempat ingin melakukan penyerangan terhadap non Mora, namun ada yang mencoba melindungi nona Mora dari mereka. Itu sebabnya mereka mulai menyadari bahwa nona Mora ini tidak bisa diremehkan."


"Tapi siapa yang mencoba melindungi ku?, dan kapan penyerangan itu di lakukan?" selidik Mora, karena dia sendiri tidak sadar bahwa ada yang mencoba mencelakainya beberapa waktu yang lalu.


"Waktu kamu menghadiri acara di Grid Contructuin, saat itu aku datang kesana untuk mengawasimu. Saat itu aku tau ada yang membuntutimu, tapi begitu aku mau bertindak ternyata ada beberapa orang yang sudah menghalau para penjahat itu lebih dulu."


"Tapi siapa mereka?"


"Untuk sementara aku masih belum mendapat informasi lagi."


"Untuk masalah itu, kita bisa selidiki lain kali. Sekarang yang terpenting kita harus menyusun rencana menghadapi mafia ini." Jelas Morens.


"Kalau boleh tau, apa nama kelompok mafia itu. Karena aku sempat ikut anggota mafia, jadi siapa tau aku tau soal itu." Roby bertanya, setelah sedari tadi menyimak.


"Mereka The Suddent Dead."


"Suddent Dead, dari Jerman!!"


"Ya betul."


"Kayanya ini masalah serius, karena kelompok ini terkenal mahir memanipulasi segala hal. Baik data diri, wajah, kekayaan dan kondisi yang lain." Roby memberi tau info yang dia punya.


"Itu juga salah satunya, aku sudah menyuruh orang menyelidiki tentang Bernard Alfonso yang kini merubah wajahnya. Saya khawatir dia berada di dalam perusahaan milik tuan Sandi, karena nyonya Serena terakhir kali bertemu dengannya sebelum jatuh sakit."


"Berarti kita harus susun strategi sekarang." Richard berdiri untuk mengambil kertas dan pulpen di lemari arsipnya.


Namun secara tidak sengaja, dia menyenggol sebuah guci besar yang berada di sebelah lemari tersebut. Guci itu oleng dan perlahan terjatuh ke arah tempat Mora yang duduk tepat diujung sofa disebelah guci tersebut.


"AAAAA."


......................


......................


Pengganti beberapa hari gak up.


Mana dong tanda cintanya.


TBC


LOVE U ALL MMMUUUAAACCHHH


💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2