
Sekilas info genks.
Sambil nunggu BOSS GILA KU up, mending mampir dulu yuk ke cerita baru aku yang berjudul Takdir Cinta Andrea dan Pembantuku Superstar. Cerita ini aku ikut sertakan dalam contest You Are writer season 5, mohon dukungannya ya akak semua.
Di jamin ceritanya gak kalah seru dan bikin kalian meleleh bak es krim yang kelamaan kena panas.
Kisah ini adalah 85% diangkat dari kisah nyata yang aku alami dan 15% diberi tambahan bumbu-bumbu kehaluanku, agar kisah ini lebih sedap dibaca dan dinikmati.
Gak lupa juga aku ingatkan sekali lagi, budayakan menekan tombol like setelah membaca. Gak bosan juga aku ingatkan jangan jadi pembaca gelap yang pergi tanpa meninggalkan jejak.
Aku bakal tambah rajin up, kalau kakak sekalian sudi kiranya memberi VOTE atau hadiah untuk cerita aku.
Terima kasih semua.
Sekian sekilas info.
...****************...
...****************...
...****************...
3 bulan sudah berlalu, namun belum juga ada tanda-tanda Chintiya akan tersadar dari tidur panjangnya. Morens masih setia mendampingi Chintiya tanpa melewatkan satu hari pun, bahkan kini Morens membawa pekerjaannya ke rumah sakit.
Morens sadar, dia tidak bisa terus melimpahkan pekerjaannya kepada Roby dan juga Richard. Richard sudah berusia lanjut, bahkan Richard juga masih menghandle semua pekerjaan yang harusnya dilakukan oleh Chintiya. Richard juga masih memegang kendali untuk perusahaannya sendiri.
Sedangkan Roby, tugasnya kini bertambah banyak. Karena Morens yang tidak bisa datang ke kantor, maka otomatis semua rapat dan pertemuan klien di ambil alih olehnya. Kecuali sesuatu yang bersifat urgent, maka mau tidak mau Morens harus turun tangan sendiri. Morens akan bergantian dengan Serena untuk menemani Chintiya.
__ADS_1
Hari libur seperti ini, Morens tidak sendirian menjaga Chintiya di rumah sakit. Karena Lexi, Richard, Serena bahkan si kecil Mora juga ikut menemani Chintiya dan memberi semangat padanya.
Siang hari Rena, Roby dan Boy juga datang untuk ikut menemani Chintiya di rumah sakit. Kali ini Rena tidak pergi dengan Roby, melainkan dia pergi sendirian. Padahal Roby sudah mengajaknya untuk pergi bersama ke rumah sakit, tapi Rena menolak ajakan Roby itu.
Sejak kejadian terakhir di rumah Rena, itu adalah hari terakhir Rena dan Roby bicara mengenai masalah pribadi. Rena benar-benar menjaga jarak dan menghindari Roby. Dia hanya bicara dengan Roby, bila itu menyangkut urusan pekerjaan.
Bukan hanya Roby, Rena juga menghindar dari Boy. Dia tidak mau dibuat pusing oleh tingkah laku kedua makhluk abstrak yang selalu membuat kepalanya cenat cenut.
Sering kali Boy mencoba mendekati Rena, dengan mendatangi gedung RENS CORP dan beralasan bahwa dia hanya mampir setelah selesai mengecek project yang di tangani. Atau Boy menghampiri Rena yang sedang makan siang di sebuah resto, dia beralasan bahwa dia tidak sengaja bertemu.
Rena benar-benar membangun benteng pertahanan untuk hatinya dari laki-laki manapun saat ini, dia hanya fokus bekerja dan mengumpulkan uang untuk modal dia membuka usaha suatu hari nanti.
KEMBALI DI RUANG RAWAT CHINTIYA
"Hai sayang, bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Lexi pada Chintiya yang masih enggan membuka mata.
"Nak, hari ini kami semua berkumpul untuk menemanimu disini." sapa Richard.
"Hai Chintiya, udah lama nih kita gak cuap-cuap bareng. Lu tau gak?, Princess lu ini cantik banget. Kalau lu gak mau bangun juga, gue bakal bawa Mora pergi jauh. Kasian Om dan Tante sudah tua kalau harus urus Mora, Serena juga masih terlalu muda buat jaga Mora. Serena bilang, dia gak mau jaga Mora karena dia takut ntar gak bisa dapetin cowok ganteng karena dikira udah punya anak. Trus ya, boss gila lu itu, sekarang dia sibuk cari cewek baru buat jadi mommy baru Mora, bahkan dia juga sekarang gak pernah dateng ke kantor soalnya sibuk pacaran sama cewek lain." ucap Rena panjang lebar mencoba memancing kesadaran Chintiya.
Chintiya masih tetap diam tidak memberikan respon apapun, sedangkan Morens dia hanya diam saja mendengar semua ucapan yang menjelekan dirinya, kini pandangannya hanya terfokus pada Istrinya yang wajahnya terlihat pucat dan tampak lebih tirus.
Mereka semua terhenyak saat mendengar suara tangisan Mora yang berada di pangkuan Lexi sambil meronta-ronta dan menunjuk ke arah Chintiya.
"Kenapa cantik?, kamu kangen sama mommy ya!" ucap Lexi pada Mora.
Morens langsung bangkit berdiri dan mengangkat tubuh Mora, kemudian dia berjalan menghampiri Chintiya dan meletakan Mora tepat disebelah wajah Chintiya.
"Sayang, liat. Ini Mora, dia cantik bukan!. Dia mirip banget sama kamu sayang. Sayang ayo bangun, Mora mau di gendong dan main sama kamu. Kamu gak kasian sama Mora dan kami semua. Sayang aku tau kamu kuat, aku yakin kamu bisa melewati ini." ucap Morens dengan tubuh bergetar dan suara yang serak menahan tangis yang siap akan meledak.
__ADS_1
Sekuat tenaga Morens menahan agar dia tidak menangis di depan Chintiya, dia tidak mau Chintiya bertambah parah karena mendengar tangisannya.
Saat tengah menahan rasa sesak di dada, tiba-tiba terdengar suara tarikan nafas panjang yang berasal dari Chintiya, jari Chintiya bergerak perlahan saat sebuah tangan mungil menyentuh wajahnya.
Semua yang mendengar suara itu, langsung melihat apa yang terjadi pada Chintiya. Morens langsung menekan tombol panggilan dan memindahkan Mora untuk diberikan kepada Serena terlebih dahulu.
Dokter yang datang langsung memeriksa keadaan Chintiya dengan seksama, setelah beberapa saat sang dokter tiba-tiba tersenyum ke arah Morens.
"Ada apa lagi dengan istri saya dok?" tanya Morens dengan raut wajah panik.
"Alhamdulillah pak, istri bapak sudah melewati masa kritis dan sebentar lagi akan terbangun saat efek obat biusnya sudah hilang."
"Ya Allah Alhamdulillah." ucap mereka bersama.
Tak lama setelah dokter keluar dari ruang rawat itu, mata Chintiya mulai terbuka perlahan. Dia masih tampak menyesuaikan matanya dari cahaya lampu.
"Sayang, syukur Alhamdulillah kamu bangun." ucap Morens sambil memeluk dan menciumi wajah Chintiya.
"A... Aku merasakan ada sentuhan tangan kecil di wajahku." jawab Chintiya masih dengan suara yang lemah.
"Yang bener sayang!"
Chintiya mengangguk lemah, kemudian dia menatap satu persatu orang yang ada disana. Hingga tatapannya berhenti pada sosok makhluk kecil yang sangat cantik dan sedang tersenyum ke arahnya.
"Putri kecil mommy, my princess."
ucap Chintiya sambil meneteskan air matanya.
TBC
__ADS_1
LOVE U ALL MMMUUUAAACCHHH
SALAM HANGAT DARI VHE