Boss Gila Ku

Boss Gila Ku
S3 - Chapter 29


__ADS_3

3 hari sudah Xander dirawat di rumah sakit dengan Mora yang setia menemani disana.


Mora bahkan tidak pergi ke kantor, untuk sementara pekerjaannya diserahkan kepada sekertaris jomblonya itu. Mora hanya menghadiri rapat yang dinilai sangat urgent, selebihnya dia menghadiri rapat secara virtual.


Untuk berkas yang membutuhkan tanda tangan Mora, Oxen mengantarkan berkas itu ke rumah sakit. Seperti siang ini, lagi dan lagi dia harus menyaksikan pemandangan merusak mata bila menghadapi pasangan abnormal ini.


Karena memang hanya Oxen yang tau kalau tentang keadaan Mora dan Xander. Dia juga hanya tau bahwa Xander mengalami kecelakaan saat akan menyelamatkan Mora yang akan tertimpa lemari.


Sedangkan untuk para pegawai yang lain, Mora beralasan bahwa dia dan asistennya sedang berada di luar negri karena urusan pekerjaan.


Bagaimana tidak merusak mata, saat ini di dalam hanya ada Mora, Xander dan Oxen. Tapi seolah-olah disana hanya ada mereka berdua, Xander berbaring setengah duduk di ranjang dan Mora yang duduk disebelahnya berbagi ranjang dengan memangku sebuah laptop.


Mora tengah asik memeriksa dokumen yang diberikan Oxen untuk ditanda-tangani, sedangkan Xander asik bersandar di bahu Mora. Dengan tangan yang satunya berada dibelakang pinggang Mora dan merangkulnya, sedangkan tangan satunya yang sudah tidak terpasang jarum infus. Kini dengan bebas memainkan kancing baju milk Mora dan sesekali memeluk bahu wanita disampingnya.


Sedangkan Oxen yang bernasib tragis, hanya bisa melihat sambil menelan salivanya dan mengumpat kesal atas kelakuan para atasan mereka yang tak berprikepegawaian.


"Dasar asisten mesum, kepala di perban tapi otaknya masih jalan ya. Sempat-sempatnya ambil kesempatan dalam baju kesempitan." batin Oxen kesal karena harus selalu melihat mereka berposisi ekstrim seperti sekarang.


"Nih, apa masih ada lagi?" ucap Mora membuyarkan lamunan Oxen yang penuh dengan pujian paling bagus pada Mora dan Xander.


"Gak ada."


"Ya udah, cepat balik kantor sana." usir Mora, karena dia ingin segera tidur. Dia sudah sangat mengantuk, karena semalam Xander sangat membuatnya kewalahan dengan meminta yang aneh-aneh.


"Besok saya kesini lagi boss."


"Kenapa?, apa ada berkas lagi!. Kenapa gak sekalian dibawa!."


"Bukan boss, tapi besok saya bawa penghulu."


"Buat apa?, kamu mau nikah!.. Ya kalau mau nikah kenapa mesti disini, kamu tenang saja saya ijinin kok.... Eh, tapi mang kamu punya pacar, setau saya kamu gak punya pacar. Kan gak ada yang mau sama kamu." ejek Mora dan Xander hanya tersenyum sambil tetap melanjutkan aktivitas yang tadi.


"Wah sembarangan, biar begini saya ini mantan cover boy majalah."


"Majalah apa?"


"Majalah dinding di sekolah SMP." jawabnya kesal "Lagian besok bukan saya yang mau dinikahkan."


"Terus siapa?"


"Ya 2 orang makhluk di hadapan saya ini, biar gak sembarangan bermesraan di depan para manusia jomblo berkualitas seperti saya. Bisa merusak mata saya."

__ADS_1


"Maksud kamu?" Mora mulai menatap tajam Oxen.


"Ya kalian lah, biar kalian gak sembarangan menebar keromantisan dimana-mana. Saya yang sesak boss." keluh Oxen.


"Oh,,, kamu udah bosen kerja sama saya."


"Belum sih, tapi kalau boss mau ngasih pesangonnya duluan gak papa kok."


Mora melempar sebuah gulungan kertas yang tergeletak disebelahnya tepat mengenai wajah Oxen.


"Aww, boss. Saya belum dapat pacar, tapi modal saya udah berkurang ini." gerutu Oxen seraya mengusap pipinya yang terkena lemparan tadi.


"Saya akan ganti muka nyebelin kamu dengan muka Rosie."


"Wah parah sih boss, masa iya muka saya disamain sama Rosie."


Oxen menunduk dan tak sengaja melihat kertas yang di lemparkan Mora tadi, seketika dia membelalakkan matanya saat tau itu kertas apa. Dia mengambilnya lalu membuka gulungan bola kertas itu.


"Boss, inikan proposal buat perusahaan Sehati Farma. Mana belum di ACC lagi." keluhnya.


"Itu urusan kamu, bikin baru lagi dan hasilnya segera saya tunggu."


"Ya udah sana, dari tadi kan udah disuruh pergi."


"Nasib Nasib."


...****************...


Seminggu kemudian


Xander sudah diperbolehkan untuk pulang, namun dia harus beristirahat total selama 2 Minggu lagi untuk memastikan luka di kepalanya benar-benar sudah kering.


Mora memutuskan agar Xander dirawat dirumah pribadinya dibantu dengan Bu As ARTnya dan Nina orang kepercayaan Xander.


"Sayang." panggil Xander yang baru saja selesai sarapan bubur di meja makan.


Mora mengusap bibirnya dengan tisue "Hm."


"Aku punya kabar bagus dan kabar buruk. Kamu mau denger yang mana dulu."


"Gak usah pake pilah-pilih kaya orang belanja. Tinggal ngomong aja susah banget sih." ketus Mora yang tidak suka berbasa-basi.

__ADS_1


Xander hanya bisa menghela nafas


"Ok, we start from a good news."


"Hm."


"Keadaan auntymu sudah mulai membaik, walaupun masih jauh dari kata sembuh tapi terus ada progres yang baik."


"Bad news."


"Musuh makin keras berusaha untuk melukai nyonya Serena dan mereka juga lagi mencari celah untuk nyerang kamu. Untung saja aku sudah siapin anak buah terbaikku untuk menjaga mereka, karena aku yakin mereka pasti bakal terus bergerak dan aku udah memperhitungkan hal ini."


Mora menatap haru pada Xander, ternyata dia adalah laki-laki yang sangat bisa diandalkan. Dia juga bertanggung jawab dan menepati janjinya.


Mora semakin yakin bahwa pria inilah yang benar-benar cocok dan mengerti bagaimana dirinya.


Mora bangun dari duduknya dan berpindah ke atas pangkuan Xander, dia mengalungkan tangannya pada leher pria itu dan menatapnya dengan tersenyum manis.


"Xan, thank you so much. Kamu benar-benar udah melindungi keluarga aku, kamu juga sangat bisa diandalkan.


Walaupun kamu itu nyebelin dan mesum banget, tapi aku suka itu. Dan entah kenapa aku gak bisa nolak dan marah sama kamu." Mora memainkan jari telunjuknya di rahang tegas Xander.


"Aku juga gak tau kenapa bisa suka dan cinta banget sama kamu, padahal kamu itu cewek super aneh, galak, dan sedikit gila. Tapi aku benar-benar cinta kamu pada pandangan pertama. I LOVE YOU my Queen Mora." Xander mengecup pipi Mora sambil memeluk pinggang Mora.


"Me too Xan."


"So, Will you be my special friend." mereka saling bertatapan dengan intens dan menyalurkan rasa cinta mereka lewat tatapan lembut yang mereka miliki.


"Ya, kita bisa mencobanya." lalu mereka pun saling memagut bibir dengan mesra.


Sedangkan di ujung ruangan, 2 pasang mata sedang menyaksikan mereka dengan rasa haru dan bahagia. Akhirnya para majikan dan atasannya sudah menemukan pawang cinta mereka. Mereka adalah Nina dan Bu As.


......................


......................


TBC


LOVE U ALL MMMUUUAAACCHHH


💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2