
Hari ini adalah hari terakhir Chintiya bekerja disini, dia sudah sangat tidak berselera untuk berangkat ke kantor namun dia harus pergi untuk membereskan barang-barang yang ada di kantornya.
Setelah sampai di depan gedung RENS CORP, dia berdiri sejenak memandangi gedung yang dia tempati selama ± satu tahun. Banyak suka duka yang dia rasakan, dan di gedung ini pula akhirnya dia bisa membuka hatinya kembali setelah sekian lama dia kunci dengan rapat untuk hadirnya seseorang, namun dia kembali mengingat bahwa kisah cinta yang baru saja hadir itupun juga akan segera berakhir.
Akhirnya Chintiya masuk dengan lemas dan tidak bersemangat. Begitu sampai di ruangan dia hanya duduk saja dengan tatapan kosong hingga dia tidak menyadari Morens masuk. Morens melihat Chintiya yang sedang melamun .
"Ehemm" deheman Morens membuyarkan lamunan Chintiya
"Oh pagi Morens" sapa Chintiya.
"Iya pagi, kamu kenapa?"
"Enggak, enggak apa-apa"
"Oh"
Keadaan hening kembali, kekecewaan melanda Chintiya. Hingga hari terakhir Chintiya bekerja pun Morens tidak bertanya apapun, apakah dia sangat tidak penting bagi Morens, sungguh euforia yang terlalu awal bagi Chintiya dan kini dia mendapati akhir yang berbeda.
"Chintya"
"Ya"
Chintya nampak begitu senang, akhirnya Morens membuka suara dan mau bertanya padanya.
"Bagaimana dengan jadwal ku hari ini?"
Lagi dan lagi, Chintiya hanya mendapat kekecewaan. Karena ekspektasinya tidak sesuai dengan realita yang di dapat. Dengan sisa semangat yang dia punya, Chintiya menyebutkan apa saja yang harus dikerjakan Morens hari ini.
"Jam 10 ada pertemuan dengan perwakilan dari distributor pusat, lalu jam 3 diadakan audit evaluasi pertahun dan bapak harus hadir untuk mengecek secara langsung"
"Oh ok"
"Satu lagi, tadi ibu Devia menelpon ingin bertemu dan makan siang bersama" ucap Chintiya, Morens menarik nafas panjang.
"Tadi dia bilang, tidak bisa menghubungi ponsel bapak jadi dia menelpon ke kantor" Chintiya mengatakan itu dengan lemas dan tersenyum kecut.
"Ok, terima kasih."
Morens kembali berkutat dengan laptopnya sambil sesekali melirik Chintiya. Waktu menunjukkan jam 09.45, Morens bangkit dari duduknya dan menyambar jasnya yang dia gantung di kursi, dia melihat Chintiya yang sedang bekerja namun terlihat tidak fokus, kemudian dia melangkah menuju ke arah pintu, sesaat sebelum membuka pintu dia berbalik dan berkata.
"Chintya"
"Ya"
"Jangan berpikir yang aneh-aneh, cukup nikmati saja"
Chintya terdiam mencoba memahami maksud ucapan Morens, namun tak kunjung jua menemukan hasil. Dia hanya terfokus pada hatinya saat ini, sekarang Morens memanggil Chintiya dengan namanya dan bahkan di hari terakhir dia bekerja Morens nampak tak acuh.
Setelah menyelesaikan semua pekerjaan dan merapihkan barang-barangnya, Chintiya menemui Rena untuk berpamitan.
"Ren sorry ganggu bentar"
"Hei kenapa tuh muka kusut banget kaya baju belum di setrika" ejek Rena
"Iya ren, gue mau pamitan sama lu. Hari ini w terakhir kerja, w dah resign"
__ADS_1
"WHAT!!, resign. Kok lu gak bilang ma gue, dadakan banget sih mang ada masalah?"
Chintya hanya tersenyum hambar menanggapi pertanyaan Rena.
"Ada apa sih?, cerita sama gue Chin"
"Jangan sekarang ya gue lagi gak mood. Kapan lu ada waktu kerumah gue aja nanti gue cerita"
"Ya udah deh, lu yang sabar. Moga keluar dari sini lu makin sukses"
"AAMIINN"
Setelah itu Chintiya langsung mengambil barang-barang dan langsung pulang.
❤️❤️❤️
Seminggu kemudian
Chintya belum berencana melamar pekerjaan lagi, dia masih sibuk menata hidup dan hatinya. Jadi hari hari dia sibukan dengan pekerjaan rumah tangga seperti hari ini, saat tengah bersantai terdengar suara ketukan pintu, Chintiya langsung beranjak membuka pintu namun dia terkejut melihat 2 orang bertubuh kekar berdiri di depan pintu.
"Nona bisa ikut dengan kami"
"Siapa kalian?" ketus Chintiya.
"Tidak perlu tau siapa kami, boss kami ingin bertemu dengan nona"
"Siapa boss kalian?"
"Nanti nona juga akan tau"
"Aku tidak akan ikut sebelum kalian beritahu siapa boss kalian"
"Aku tidak mau"
"Jangan buat kami bertindak kasar"
"Kalian mengancam ku"
"Dengan terpaksa nona"
Salah satu dari pria itu langsung membekap mulut Chintiya menggunakan sapu tangan yang sudah diberi obat bius, setelah Chintiya tidak sadarkan diri mereka membawanya ke dalam mobil dan melajukan mobilnya ke sebuah hotel.
Setelah beberapa saat Chintiya tersadar dan dia melihat bahwa dirinya berada di sebuah kamar yang sangat mewah dengan beberapa orang wanita dan satu orang pria yang terlihat seperti pimpinan mereka.
"Nona sudah sadar" tanya salah satu wanita.
"Ya. Dimana aku sekarang?"
"Nona ada di hotel sekarang, apa sudah bisa dimulai?"
"Mulai!!.... Mulai apa maksud kalian" bentak Chintiya
"Mulai bersiap-siap, kami yang akan membantu nona. Membuat nona menjadi istimewa"
"Siap-siap untuk apa?, aku tidak mau"
__ADS_1
"Pernikahan anda nona"
"Tidak ada yang akan menikah, jangan sembarangan kalian. Mana boss kalian aku ingin bertemu dengannya"
"Nona pasti bertemu, jadi sekarang menurut lah. Atau..." ucap pria yang dari tadi hanya memperhatikan percakapan mereka.
"Atau apa?" Sarkas Chintiya
"Teman anda yang jadi taruhannya"
"Teman!!.... Siapa maksudmu?"
Pria itu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. Setelah tersambung pria itu memberikan ponselnya kepada Chintiya dan menyuruhnya berbicara.
"Hallo,, siapa ini?"
"Chintya tolong aku" jawaban dari sebrang telepon.
"Rena ini kamu!!, apa yang terjadi?"
"Chintya tolong aku, aku tidak tau. Tiba-tiba ada yang menculikku dan aku tidak kenal dengan mereka"
"Tenanglah, aku akan menolongmu"
Setelah itu pria tadi menarik ponsel di tangan Chintya dan memutuskan panggilan itu.
"Bagaimana nona?, apa keputusanmu!!"
Chintya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan secara kasar.
"Baiklah, tapi setelah ini kalian harus membebaskan wanita tadi"
"Tentu saja, jadi bisa di mulai sekarang waktunya sudah menipis"
"Tapi tunggu, apa aku boleh bertemu dengan orang yang akan menikah denganku!"
"Tidak bisa sekarang nona"
Chintya pasrah pada keadaan, yang ada dipikirannya sekarang adalah Rena harus selamat, dia tidak mau karena dirinya seseorang menjadi korban.
Biarlah dia saja yang berkorban, karena tidak ada yang akan mengkhawatirkan dirinya. Chintya di make up sambil menitikkan air mata dan dengan pandangan kosong.
Mungkin ini memang takdirnya yang tidak bisa merasakan kebahagiaan, dia sudah ikhlas menerima ini semua. Mungkin dengan dia menikahi pria yang tidak dia kenal, kehidupannya bisa berubah.
Setelah selesai Chintiya dibawa keluar kamar, sesaat setelah hampir tiba di tempat akad mereka yang membawa Chintiya menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya salah satu dari mereka.
"Kita harus menunggu terlebih dahulu sebelum disuruh masuk"
Setelah menunggu 5 menit dan mendengar suara SAH, akhirnya terdengar suara MC memanggil mempelai wanita untuk masuk. Ketika masuk Chintiya tidak peduli dengan keadaan sekitar, tatapannya hanya terfokus pada sosok pria yang duduk di depan penghulu membelakangi dirinya. Dia sangat penasaran dengan sosok pria yang sangat ingin menikah dengannya.
Begitu Chintiya duduk disamping pria itu, pria itu menoleh dan memberikan senyum terbaiknya. Chintya begitu terkejut melihat sosok pria yang menikah dengannya.
"KAMU" bentak Chintiya di depan tamu undangan.
__ADS_1
LANJUT BESOK YA KAK
LOVE U ALL ❤️❤️❤️❤️ MMMUUAAACHHH