Boss Gila Ku

Boss Gila Ku
S2 - Chapter 81


__ADS_3

Sementara di Hotel, Morens merasa ada yang disembunyikan dari Serena tentang Sandi.


"Ser, apa yang kamu sembunyikan?, aku akan cari tahu ada apa antara kalian?, Sandi awas saja kalau kamu berani macam-macam sama Serena" Morens bermonolog.


Morens mengambil ponselnya hendak menelpon Roby, namun ponsel Roby sedang tidak aktif . Karena itu dia memanggil Rena.


"Rena. "


"Iya bos."


"Coba kamu cari Roby, kalau sudah ketemu suruh dia temui saya. Saya telpon dia tapi ponselnya tidak aktif."


"Iya."


Rena segera pergi untuk mencari keberadaan Roby, saat ini waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam dan para tamu undangan pun sudah meninggalkan tempat acara. Kini hanya tinggal para pegawai yang sedang merapikan tempat itu.


Setelah bertanya kepada para pegawai yang sedang bersih-bersih, akhirnya Rena menemukan Roby sedang berada di aula. Saat Rena masuk terlihat Roby sedang bicara dengan seorang wanita, namun wajah wanita itu tidak terlihat karena terhalang badan Roby.


"Permisi, maaf mengganggu."ucap Rena sopan.


Roby yang mendengar suara yang sangat dikenal itu, lantas menengok. Disitu terlihat Rena sedang berdiri di depan pintu dan melihat ke arahnya dengan tatapan datar. Roby menghembuskan nafas kasar dan menyisir rambutnya dengan sedikit kasar.


"Ada apa?"


"Bos sedang menunggu anda."


"Kenapa dia tidak menelpon saja?"


"Ponsel bapak tidak aktif."


Roby langsung mengecek ponselnya, dan benar saja ternyata ponselnya kehabisan daya. Dia memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya.


"Gaby, kamu tunggu disini. Jangan kemana-mana, ntar aku antar kamu ke hotel."


Roby langsung berjalan keluar dari aula melewati Rena, kemudian Rena mengikutinya dari belakang.


"Apa yang kamu lihat dan dengar barusan, itu gak seperti yang ada di pikiran kamu." ucap Roby tanpa menoleh dan tetap berjalan.


"Saya tidak memikirkan apapun, karena itu bukan urusan saya. Terserah bapak mau melakukan apapun, tidak ada sangkut pautnya sama saya."jawab Rena enteng.


Mendengar jawaban Rena, Roby lantas berhenti dan menatap ke arah Rena dengan tatapan tajam. Namun Rena hanya menanggapi dengan santai. Bagi Rena saat ini, Hatinya sudah kebal dan mati rasa dengan tingkah Roby.


"Rena, kamu. Ah sudahlah, saya malas berdebat. "


"Terima kasih." jawab Rena enteng.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan, setelah sampai di hadapan Morens ternyata disana ada Boy yang sedang bicara dengan Morens.


"Bos, apa masih ada yang harus saya kerjakan? " tanya Rena.


"Enggak, kamu boleh pulang dan istirahat. "


"Terima kasih, kalau begitu saya pulang dulu bos. Pak Boy, Pak Roby saya pergi dulu.


"Morens, gue balik dulu ya. Sekali lagi selamat atas peluncuran produk baru lu, Semoga laris di pasaran ya." ucap Boy.


"Thanks ya."

__ADS_1


"Pak Roby saya duluan ya." pamit Boy pada Roby.


"Silahkan pak Boy."


Boy langsung berlari menyusul Rena sebelum jauh, Roby hanya melirik dari ekor matanya. Namun Morens mengetahui itu semua.


"Roby."


"Ya bos."


"Aku mau kamu ikuti segala kegiatan Serena, apapun itu jangan sampai ada yang terlewatkan. "


"Serena!, kalau boleh tau ada apa sama Serena? "


"Aku curiga kalau Sandi sedang mendekati Serena."


"Sandi,,,, Sandi Abraham maksudnya? "


"Iya, aku khawatir Sandi mendekati Serena karena mau balas dendam padaku. Karena Chintiya lebih memilihku dari pada dia."


"Ok bos."


"Kalau begitu kamu boleh pulang." ucap Morens, namun Morens kembali berkata "Apa kamu gak mau susul dia? "


"Siapa? "


"Gak usah belaga bego. Kamu tau siapa yang aku maksud? "


"Gak, buat apa! "


"Kalau gitu kamu udah siap buat kehilangan "


"Bagus. Kalau begitu jangan sampai nyesel. Karena nyesel adanya diakhir, kalau diawal itu namanya pembukaan. "


Roby tidak menjawab lagi perkataan Morens, dia pergi dengan sejuta pikiran yang berputar di kepala.


...****************...


...****************...


Sementara itu di dalam apartemen, masih terjadi pembicaraan serius antara sepasang makhluk yang sama-sama merindu.


"Ser, aku kangen banget banget banget banget banget sama kamu. Kamu tuh hampir bikin aku gila." ucap Sandi manja sambil merangkul pinggang Serena dan menyandarkan kepalanya di lengan Serena.


"Baru hampir kan, kenapa gak gila sekalian."


"Kamu kok jadi ketus gini sih. Masih ragu sama aku?"


"Udah deh gak usah ngerayu, aku lagi gak mau denger yang begituan."


"Ya tuhan, kamu kalau galak gini kenapa tambah cantik ya!"


"Sandi"


"Yes baby"


"Kalau masih belum mau cerita aku bakal..."

__ADS_1


"Bakal apa hm?"


"Aku bakal diem selamanya sama kamu."


"Eits, jangan dong. Iya iya aku cerita, tapi kamu jangan emosi ya denger cerita aku."


"Hm"


"Kok cuma hm"


"Mau ngomong gak nih!"


"Eh iya cerita, aduh galak nyonya Abraham. "


"Whatever" ucap Serena malas berdebat.


"Dulu itu waktu aku masih tinggal di daerah gudeg, ibu adalah seorang janda yang bekerja di sebuah rumah makan. Saat itu aku masih kuliah dan ibu yang bekerja, ibu bekerja dari jam 10 pagi sampai jam 10 malam.


Biasanya ibu pulang bersama 2 orang temennya yang tinggal satu arah sama ibu, tapi hari itu satu temannya gak masuk kerja dan satu lagi dijemput sama bapaknya karena dia mau langsung pergike suatu tempat.


Mau gak mau ibu harus pulang sendiri, dan hari itu aku sudah ijin sama ibu pulang telat karena mau mengerjakan skripsi ku bersama-sama teman-teman. Jadinya ibu gak minta aku buat jemput dia, padahal kalau ibu bilang pasti aku bakal jemput ibu. Tapi ibu gak mau ngerepotin aku.


Akhirnya ibu memilih untuk pulang naik becak, biasanya ibu pulang jalan kaki bersama teman-temannya karena memang jarak tempat kerja ibu itu dekat.


Begitu ibu turun dari becak, keadaan saat itu memang gerimis. Jadi jalanan yang biasanya ramai, saat itu mendadak sepi karena orang-orang memilih diam di dalam rumah karena cuaca yang dingin.


Kondisi jalan yang sepi, dimanfaatkan oleh para pemuda mabuk untuk mengganggu ibu, mereka mempermainkan dan hampir melakukan hal yang tidak senonoh pada ibu, untung saja Bennita lewat dan dia menolong ibu.


Entah bagaimana kejadiannya, pria-pria mabuk itu malah memukuli Nitta. Ibu berlari meminta pertolongan dan saat kembali para pria mabuk itu sudah pergi dan meninggalkannya Nitta yang sudah pingsan.


Ternyata karena kejadian itu Nitta mengalami patah tulang punggung dan kaki. Sejak kejadian itu ibu dan aku berjanji untuk membahagiakan Nitta dan kebetulan dia adalah yatim piatu yang tinggal di rumah kontrakan kecil.


Waktu itu aku sempat mau menikahinya, tapi dia menolak dan memilih pria lain. Aku sempat kecewa saat itu, tapi di sisi lain aku juga senang kalau dia bahagia meskipun dia menikah dengan orang lain.


Karena itu, waktu kemarin aku tau dia mau bunuh diri, aku syok banget sampai aku lupain kamu ada di restoran tunggu aku."


"Apa kamu cinta sama dia waktu itu? " tanya Serena.


"Mungkin bisa di bilang gitu, cuma yang aku tau, karena kedekatan kami akhirnya ada rasa ketergantungan terhadap Nitta."


"Lalu bagaimana sekarang? "


"Kalau sekarang rasa itu sudah berganti sama rasa tanggung jawab dan tanggung jawab itu gak harus nikah sama dia kan."


"Tapi aku rasa dia berharap seperti itu sama kamu, dan mungkin aja masih ada sedikit rasa yang tertinggal di hati kamu. "


"Enggak Ser, sekarang rasa cinta ini cuma buat kamu. "


"Mungkin aja rasa yang kamu rasain ke aku itu, sama seperti rasa kamu ke Nitta waktu itu. Rasa yang timbul cuma karena kita beberapa kali pergi bareng."


"Enggak Ser ini beda. Beberapa kali aku ditinggal oleh seorang wanita, namun aku dengan mudah melupakan mereka. Tapi waktu kemarin kamu tinggalin aku selama satu tahun lebih, aku sama sekali gak bisa lupa sama kamu meskipun aku udah coba berkali-kali. Saat itulah aku sadar bahwa hati aku ikut terbawa pergi sama kamu waktu itu, dan sekarang aku gak mau ditinggalkan kamu lagi."


"Kayanya itu susah deh, karena di depan nanti akan banyak halangan untuk kita. " ucap Serena yang mengingat perkataan Morens.


"Kita hadapi sama-sama ya, percaya sama aku. Aku sayang sama kamu. "


TBC

__ADS_1


LOVE U ALL MMUUAACCHH


💖💖💖💖💖


__ADS_2