Boss Gila Ku

Boss Gila Ku
S3 - Chapter 47


__ADS_3

"Apa ini yang kau cari?" ucap seseorang yang sedari tadi berdiri di balik pintu.


"Kau?" Bern terkejut dengan kedatangan seorang kakek Riddick.


Karena setau Bern, kakek Riddick telah lama pensiun. Setelah dia pensiun, kabarnya kakek Riddick menghilang dari dunia luar dan lebih memilih tinggal di pedalaman dan pegunungan.


Bahkan pernah sesekali, ada seseorang yang mencari keberadaan kakek. Namun tidak ada yang tau dimana keberadaan lelaki tua itu. Data dan informasi lainnya tentang kakek Riddick juga sudah dihapus dari database kemiliteran untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


Tidak ada yang tau dimana dia tinggal?, siapa keluarganya dan apa saja yang dilakukan oleh pria tua itu. Hal itu disebabkan, selama dia menjadi seorang anggota elit militer. Riddick sudah begitu banyak menangkap dan melenyapkan para kelompok ataupun organisasi kriminal kelas kakap. Tidak tanggung-tanggung, Riddick bahkan kerap kali membumi hanguskan markas berikut barang bukti milik kelompok yang dia tangkap. Bilamana dia merasa kelompok itu sangat membahayakan, dan untuk menghilangkan jejak dan bukti maka dia melenyapkan semua yang ada sangkut pautnya dengan itu.


Oleh sebab itu, bukan rahasia lagi bila nyawanya menjadi incaran para penjahat yang tidak terima dengan ulahnya. Dan salah satu kelompok yang pernah di porak porandakan olehnya adalah kelompok yang diketuai oleh Bernard Alfonso atau Dominic.


Riddick menyeringai melihat raut wajah terkejut yang ditampilkan oleh Bernard.


"Kau terkejut dengan kedatangan ku disini?"


"Kau,,,, bagaimana kau bisa ada disini?. Apa hubungan masalah ini dengan mu kakek tua?" tanya Bern terbata.


"Masalahku hanya satu, kau sudah mengganggu ketenangan ku." Riddick berjongkok di depan tubuh Bern yang terduduk lemah di lantai yang dingin dan kotor.


"Ta... Tapi aku tidak mengganggumu?"


Riddick tersenyum sinis "Kau tidak menggangguku, tapi kau sudah mengganggu calon cucu menantuku."


"Si...siapa yang kau maksud?"


"Heh!!, siapa lagi kalau bukan Mora Hadinata."


"Apa!!, bukankah di,,, dia sedang dekat dengan..." Bern melihat ke arah Xander yang sedang menatap tajam dirinya "Jadi, dia adalah orangmu?"


"Ya... Dia adalah cucuku.. Komandan Xander Cloud Manson."


"****!!!" umpat Bern merutuki diri sendiri, dia terlalu ceroboh karena tidak menyelidiki identitas pria muda satu ini.


Dia hanya terfokus pada Mora saja, dan tanpa menyelidiki lebih detail siapa pria yang selalu melindunginya itu. Bern hanya berpikir bahwa Xander hanyalah seorang bodyguard biasa seperti info yang dia dengar.


Bahkan Bern juga baru tau nama asli Xander, dia hanya tau pria itu terkenal dengan nama Mr X. Sekarang dia merasa sudah sangat salah membuat masalah kali ini, jika dulu dia masih bisa bernafas karena Riddick hanya menghancurkan bisnis gelapnya dan mengambil semua berkas kejahatannya. Tapi kini rasanya dia sudah tidak bisa bernafas lega lagi karena, dia sudah mengganggu orang terdekat pria tua yang terkenal kejam dan tegas di jamannya.

__ADS_1


"Bagaimana?, apa sekarang kau menyesal salah berurusan dengan orang." Riddick menyeringai "Kuberi saran, sebelum kau menghadapi musuhmu, sebaiknya selidiki dulu siapa lawanmu. Tapi kurasa saran ini sudah tidak ada gunanya sekarang."


Riddick mengeluarkan pisau lipat yang dia simpan di dalam jasnya.


"Karena kau sudah mengganggu orang-orangku, maka berdoalah agar kematianmu berlangsung cepat."


"Tunggu." Xander menahan tangan sang kakek yang hampir saja menggores wajah Bern.


"Kenapa?"


"Grand pa boleh bermain-main, tapi biar aku yang menyelesaikan ini. Karena dia sudah berani membuat Mora tidak bisa berjalan saat ini." Xander menatap nyalang Bern yang lemas tak berdaya.


"Oh,,, ok." Riddick menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya.


"To... Tolong lepaskan aku terakhir kali ini, a...aku tidak akan berulah lagi."Bern memohon.


"Sudah terlambat, terakhir kali aku memberimu kesempatan. Tapi kau malah mengabaikan peringatan dariku, apa kau pikir sekarang aku akan percaya?"


"Aku mohon, kali ini aku benar-benar serius. Tolong lepaskan aku, setelah ini aku tidak akan menampakkan wajahku lagi."


"Nah, kalau begitu biar aku bantu agar wajahmu tidak nampak lagi dimanapun." Riddick menyeringai dengan memainkan pisau di tangannya.


"Benarkah!!"


"Grand pa." panggil Xander yang sudah tidak sabar untuk mengakhiri ini semua. Karena dia sudah berjanji untuk segera menyusul Mora ke Indonesia.


Dia tidak mau membuat wanitanya menunggu terlalu lama, dan memberikan hukuman padanya.


"Ada apa?" Riddick menoleh sekilas ke arah Xander.


"Cepatlah, aku tidak punya banyak waktu. Aku tidak mau membuat Mora menunggu."


"Ck, tidak sabaran. Dasar kebelet kawin." Riddick menatap tajam Bern dan kini dia terlihat tidak main-main "Kau dengar Bern, aku tidak punya waktu banyak untuk bersenang-senang. Jadi segera kita mulai permainan ini."


"Ja,,, jangan!!!. Lepaskan aku." Teriak Bern yang kini tangan dan kakinya di pegang erat oleh anak buah Xander.


"Teriaklah dengan kencang, ini akan semakin menyenangkan."

__ADS_1


"Sial!!, lepaskan aku tua Bangka."


"Uh, berani mengumpatku. Aku suka itu." bisik Riddick seraya tangannya menyayat telinga kiri Bern secara perlahan.


"Aaarrgghhh." jeritan Bern menggema di dalam ruangan.


Riddick kini berpindah ke wajah Bern "Kita akan melukis disini, kira-kira gambar apa yang bagus ya?"


"Jangan!!, lepaskan aku. Aku janji aku akan berbuat baik setelah ini dan tidak akan mengganggu siapapun lagi."pinta Bern dengan mengiba sambil menahan pedih akibat telinganya yang tersayat.


"Aha!!, kita menggambar sisik ikan." Riddick mulai menggores wajah Bern secara horizontal sebanyak tiga baris di pipi kanan dan kirinya.


"Tolong,,, arrggghhh." darah segar mengalir dari wajahnya.


"Kita akan liat hasilnya." Riddick mundur beberapa langkah dari hadapan Bern. "Bersihkan wajahnya." perintahnya pada anak buahnya.


Tak lama kemudian, seorang anak buahnya membawa seember air dan langsung disiramkan ke wajah Bern. "AAARRGGHHH." lengkingan suara jeritan yang menyayat hati memenuhi ruangan itu.


"Apa salahku!!, aku tidak merugikan siapapun." Bern terbata seraya meringis menahan perih akibat siraman air yang ternyata sudah diberi garam.


"Heh!!, kau pikir aku tidak tau. Selain bisnis minuman keras dan bisnis ilegal penggelepan dana, kau juga memperdagangkan anak dibawah umur untuk dijadikan budak se*s dan kau edarkan ke benua Eropa dan Afrika. Kau juga bahkan menerima pasokan penjualan organ tubuh dari pemasokmu di beberapa negara.


Aku sudah tidak bisa mentolerir hal itu, pihak intelijen dari negara asalmu tidak bisa menangkapmu karena mereka tidak punya cukup bukti. Tapi aku, aku tidak perlu bukti untuk melenyapkan orang sepertimu. Aku cukup menggunakan kekuasaan yang ku punya untuk menghilangkan jejak dan identitasmu dari peradaban manusia di muka bumi dan tidak akan ada yang tau kemana kau."geram Riddick mengingat apa saja yang sudah dilakukan oleh Pria itu.


"Grand pa cepatlah." Xander kembali mengingatkan.


"Finishing aku serahkan padamu boys." ucap Riddick kepada Xander.


"Ok, its my time."


...----------------...


...----------------...


TBC


LOVE U ALL MMUUAACCHH

__ADS_1


😘😘😘


__ADS_2