
Hari pernikahan Sandi dan Serena pun tiba, mereka sangat bahagia akhirnya hari ini mereka bisa bertemu dan terbebas dari tradisi pingitan yang telah mereka jalani.
Saat ini waktu menunjukan pukul 8 pagi, kedua keluarga sudah terlihat mendatangi lokasi pesta pernikahan yang dilaksanakan di sebuah hotel yang terdapat di sebuah desa kecil namun menyediakan pemandangan yang sangat luar biasa.
Hotel tersebut berada di tepi bukit dengan disuguhkan dengan loby yang lebih mirip seperti taman bunga, karena loby hotel itu terbuka dan ditanami banyak jenis bunga-bunga yang cantik.
Jadi konsep pernikahan yang diusung para tetua bisa terlaksana, yaitu penggabungan antara indoor dan outdoor.
Sedangkan di dalam 2 kamar yang berbeda, terdapat 2 makhluk yang sedang dirias oleh para makeup artis profesional. Sandi yang sudah sangat tidak tahan untuk bertemu dengan calon istri tercintanya itu keluar dari kamar rias setelah sebelumnya berhasil mengelabui orang-orang disana dengan beralasan ingin pergi ke toilet.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Sandi, karena sedari tadi sang ibu yang bernama Ayu dengan setia mendampingi Sandi dirias. Ayu tau Sandi akan berbuat segala cara untuk bertemu Serena, karena sedari tadi Sandi sudah merengek ingin bertemu dengan calon istrinya pada Ayu, Sandi persis seperti seorang bocah yang ingin menaiki sebuah komedi putar tapi tidak diizinkan oleh ibunya.
Sandi yang terus mengamati pergerakan sang bodyguard yang tak lain adalah ibunya dari pantulan cermin itu melihat suatu peluang saat sang ibu terlihat sedang berbicara serius di telepon yang entah dengan siapa Sandi tidak peduli.
Yang dipikirkan Sandi saat ini adalah bagaimana caranya dia bisa menemui Serena. Sandi langsung berakting sakit perut agar diijinkan untuk ke toilet, Sandi langsung bergegas pergi begitu ada kesempatan sebelum sang bodyguard tersadar.
Sandi berjalan dengan cepat menuju ke ruang make up yang digunakan Serena, Tuhan seperti sedang mendukung dirinya.
Lorong yang ia lewati nampak begitu sepi jadi dia bisa lebih cepat tiba di tempat yang dituju. Begitu tiba Sandi membuka pintu itu secara perlahan untuk melihat situasi, dan rasanya lagi-lagi semesta mendukung dirinya.
Saat membuka pintu, dia hanya melihat Serena yang sedang berdiri seorang diri dengan menggunakan kebaya modern yang sangat cantik dan Serena terlihat sedang merapihkan beberapa bagian yang terlihat belum pas.
Serena tidak menyadari siapa orang yang masuk, ya Serena memang sadar ada seseorang yang masuk tapi dia tidak sadar siapa orang yang masuk itu.
Serena dikagetkan dengan tangan yang tiba-tiba memeluknya dari belakang dan mencium ceruk lehernya dengan posesif. Serena sempat berteriak sekilas sebelum Sandi membekap mulut Serena dengan tangannya.
Sandi tidak ingin teriakan Serena membuat orang-orang datang kesini. Serena terbelalak saat mendengar pemilik suara orang yang membekap mulutnya.
"Jangan teriak sayang, ini aku."
__ADS_1
Sandi melepaskan tangannya dari mulut Serena dan membalik tubuh Serena hingga berhadapan dengan dirinya.
"Sandi."
"Ya baby, kamu kaget ya?, sampai melotot begitu." ucap Sandi masih merangkul pinggang Serena.
"Kamu bikin aku takut, aku pikir itu orang lain yang berniat buruk sama aku."
"Maaf ya aku udah bikin kamu takut. Sayang kamu makin cantik aja sih."
"Gak usah mulai deh gombalnya." Serena memutar bola matanya malas.
"Bener sayang. Kamu kok gitu sih!, emang kamu gak kangen sama aku?. Aku tuh kangen banget sama kamu tau."
"Enggak, aku cuma mau cepat-cepat nikah sama kamu."
"Sama aku juga." Sandi merangkul wajah Serena dan mencium bibir Serena dengan lembut.
Saat tengah asik memagut bibir, pintu terbuka dan menampilkan sosok yang tidak kalah menyebalkan seperti Ayu.
"Wah wah wah, rupanya ada pengantin yang kebelet kawin." ucap Lexi.
Mereka menghentikan kegiatan mereka dan tersenyum ke arah Lexi yang sedang menatap mereka dengan tatapan mengintimidasi.
"Hai mom." sapa Sandi sambil nyengir kuda.
"Sedang apa seorang pengantin pria berada disini?" tanya Lexi sambil bersedekap.
"Sorry mom, tadi Sandi habis berkeliling dan pas mau balik ke kamar ternyata Sandi salah masuk kamar." elak Sandi.
__ADS_1
"Apa karena efek pingitan jadi bikin matamu juling, atau mungkin jadi buta huruf."
"Maksudnya mom?"
"Apa kamu gak bisa baca, kalau didepan pintu itu terdapat tulisan kamar rias Wanita." Ucap Lexi menyindir.
"Hah." Sandi sudah tidak bisa berkelit lagi dan mengakui tujuan nya datang ke kamar ini.
Lexi tak menjawab apa-apa, dia hanya mengambil ponselnya dari dalam tasnya dan terlihat menghubungi pattner.
"Hallo, apa kau kehilangan pengantinmu itu?" tanya Lexi sengaja memperbesar suaranya agar di dengar oleh Sandi.
"......."
"Kalau begitu jemput dia diruang make up"
"MOM"
...----------------...
...----------------...
Makasih ya dikit.
Asli ngantuk banget deh.
TBC
LOVE U ALL MMMUUUAAACCHHH
__ADS_1
💜💜💜💜💜