Boss Gila Ku

Boss Gila Ku
Chapter 73


__ADS_3

Permisi kakak, adek, encang, encing, nyak, babe, teteh, mbak, nyai, tante, om, abang dan yang lainnya.


Harap biasakan menjadi pembaca yang budiman, jangan menjadi pembaca gelap.


Mohon beri suntikan vitamin dengan menekan tombol like, ataupun tulis komentar. Mau yang pedas, manis, asem, kecut, asin, hambar aku terima kok. Yang penting masih normal, jangan sampai abnormal bisa buahaya.


Trims trims...


Morens dengan sabar dan setia menemani sang istri menjalani proses operasi caesar untuk melahirkan buah cinta mereka, dan itu berarti keringat yang mereka keluarkan tidak sia-sia. Hasil dari olahraga ranjang siang dan malam bahkan kapanpun mereka ada waktu.


Seorang bayi perempuan yang sangat cantik dengan berat badan 3,4 kg dan panjang 52 cm terlahir dengan selamat. Morens sangat terpukau dan takjub karena dapat melihat secara langsung bagaimana istrinya itu berjuang sekuat tenaga dan bertaruh nyawa demi melahirkan putri cantik mereka. Morens berkaca-kaca saat melihat dan mendengar tangisan pertama dari putri mereka, Chintiya tersenyum tipis dan terharu melihat semua itu.


Suster membawa anaknya untuk dibersihkan dahulu sebelum diberikan kepada sang ibu dan sebelum Morens mengadzaninya.


Saat para dokter tengah melakukan proses penutupan luka, tiba-tiba tubuh Chintiya mendadak kaku dan sesaat kemudian dia mengalami kejang-kejang di susul dengan bola mata Chintiya yang mendelik dan hanya menyisakan warna putih di bola matanya.


"Sayang hei,,, sayang kamu kenapa?, dokter ada apa dengan istri saya?" tanya Morens panik.


"Tenang ya pak, kami cek dulu. Sebaiknya bapak tunggu di luar saja, kami akan menangani istri bapak." ujar dokter.


"Saya tidak mau keluar, saya mau tau kondisi istri saya." ucap Morens dengan nada sedikit meninggi.


"Kami tau bapak mengkhawatirkan kondisi istri bapak, tapi kami mohon kerjasamanya." jawab dokter dengan sabar.


"Tapi saya tidak mau keluar, saya mau disini menemani istri saya." bentak Morens.


"Kami mohon bapak tenang, kami akan berusaha semaksimal mungkin."

__ADS_1


Mendengar suara keributan dari dalam ruang operasi, membuat Richard dan Lexi saling pandang. Sebenarnya apa yang terjadi di dalam?, bukankah ruang operasi memerlukan ketenangan.


Karena penasaran Richard menerobos masuk ruang operasi tersebut, dia tidak perduli bila nanti pihak rumah sakit menegur atau memarahinya. Dia hanya ingin tau apa yang terjadi?, dia khawatir terjadi sesuatu pada menantu dan juga cucunya.


Begitu di dalam Richard disuguhkan dengan pemandangan Morens yang sedang berdebat dengan salah satu dokter yang menangani Chintiya, sedangkan dokter yang lain dan beberapa perawat tengah sibuk menangani menantunya yang terlihat tergeletak sambil terpejam dan sesekali mengalami kejang.


"Ya Allah, apa yang terjadi dengan menantu dan juga cucuku?, apa mereka baik-baik saja?, ya Allah tolong selamatkan mereka." batin Richard.


Dia langsung mendekati Morens dan menyentuh bahu Morens mencoba menenangkan. Karena dia tau Morens tidak akan bisa berhenti selain oleh keluarga dan orang-orang yang dia sayangi.


"Morens, sudah cukup nak. Tenangkan dirimu, jangan buat keributan disini.


Morens menoleh, dia ingin tau siapa yang sudah berani menyentuhnya saat sedang kalut seperti saat ini.


" Dad." ucap Morens melemah.


"Tenangkan dirimu."


"Mereka benar nak, sebaiknya kita menunggu di luar. Biarkan mereka bekerja tanpa ada gangguan dan tekanan. Mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengobati istrimu."


"Tapi aku gak percaya sama mereka dad, bisa-bisa Chintiya... Aaargghh." Morens berteriak frustasi.


"Kita berdoa saja supaya enggak terjadi apa-apa sama istrimu, daddy yakin Chintiya kuat. Kalau kamu terus begini, itu akan semakin memperlambat mereka untuk menangani istrimu."


Morens menghembuskan nafas secara kasar.


"Ok, aku keluar. Tapi awas kalau sampai istriku kenapa-kenapa, kalian tanggung akibatnya."

__ADS_1


"Baik pak." jawab sang dokter gugup, karena melihat raut wajah Morens yang diselimuti emosi.


Morens dan Richard keluar dari ruang operasi, kemudian duduk disamping Lexi yang sedari tadi menunggu dengan harap-harap cemas.


"Ada apa Morens?" tanya Lexi sambil membelai kepala Morens yang bersandar di bahunya.


"Chintiya mom." jawab Morens lirih.


"Kenapa Chintiya?"


Lalu Morens menceritakan semua kejadian yang terjadi di dalam ruang operasi.


"Sudah nak, kita berdoa supaya semuanya lancar. Ngomong-ngomong apa putrimu sudah diadzani?" tanya Lexi.


"Ah iya, aku sampai lupa." ucap Morens merasa bersalah. Karena terlalu mengkhawatirkan istrinya, dia sampai lupa dengan anaknya.


"Ya sudah sana, adzani dulu putrimu." ujar Richard.


"Kalau begitu aku kesana dulu ya mom, dad."


Morens menuju ke ruang perawatan bayi untuk diadzani, 30 menit kemudian Morens kembali menghampiri kedua orang tuanya.


"Mom, dad sebaiknya kalian pulang saja. Ini sudah malam, kalian harus istirahat."


"Tapi nak, bagaimana denganmu?"


"Tenang saja dad, aku gak papa kok."

__ADS_1


"Ya sudah kami pulang dulu, kalau ada sesuatu cepat kasih tau ya. Ntar biar Serena yang temenin kamu disini."


"Ok mom."


__ADS_2