Boss Gila Ku

Boss Gila Ku
Chapter 11


__ADS_3

Sejak kejadian itu Morens menjadi sosok yang dingin, kaku dan bahkan terkesan aneh dengan para wanita. Dia hanya bersikap lembut kepada keluarga dan orang-orang yang benar-benar dekat denganny


flashback off


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


PAGI INI


Terdengar suara ketukan pintu.


"Masuk" ucap Morens


"Apa kau sudah mendapatkan semua yang aku perintahkan?"


"Sudah boss, ini data-datanya" jawab Roby


"Chintya tolong kau antarkan dokumen ini ke bagian percetakan ya."


"Siap pak."


Setelah Chintya keluar dari ruangan, Morens dan Roby memulai pembicaraan.


"Lalu bagaimana hasil dari pantauanmu tentang Sandi Abraham." tanya Morens.


"Video dan foto sudah saya kirim ke email boss, dan menurut yang lihat tuan Sandi sepertinya menaruh perasaan pada Chintiya karena dia tidak pernah absen sekalipun untuk keperluan Chintiya."


"Apa menurutmu Chintiya juga begitu terhadap Sandi?"


"Saya rasa tidak boss, karena Chintiya bersikap biasa saja."


Morens menaikkan sudut bibirnya, seraya tersenyum tipis.


"Emm, sepertinya boss tertarik dengan Chintiya. Sudah lama sekali boss tidak menghiraukan tentang seorang wanita." batin Roby.


Kemudian Morens membuka map yang berisikan tentang data-data MENTARI GROUP lalu membaca dengan seksama.


"Oh jadi pemilik sebenarnya adalah SURYA ATMAJA, dia memiliki istri bernama RANCY ATMAJA. hhhmmm" ucap Morens.


"Apa sekarang istrinya yang memimpin?" tanya Morens.


"Benar boss, karena Surya Atmaja meninggal 2 tahun yang lalu akibat serangan jantung."


"Tapi bukankah perusahaan mereka bergerak di bidang industri tapi kenapa mereka ingin bekerja sama dengan kita?"


"Menurut pantauan, nona Rancy ingin melebar kan sayap ke bidang yang lain "


"Ok, akan ku pelajari lebih dalam lagi."


"Apa boss belum membaca proposal tentang mereka!"


"Aku membaca tapi belum secara detail, kemarin aku sedang sibuk."


"Oh... Apa ada yang lain lagi boss?"


"Tidak"


"Jalau begitu saya kembali ke ruangan saya boss."


"HM." jawab Morens.


Ketika Roby keluar hendak menutup pintu, Chintiya datang.


"Apa boss masih sibuk, pak Roby?" tanya Chintya.


"Tidak, kau masuk saja."


"Ok" Chintiya langsung mengetuk pintu.


"Masuk" ucap Morens

__ADS_1


Ketika pintu terbuka Morens melihat siapa yang masuk ke ruangan ini.


"Kenapa kok lama sekali?, apa di percetakan jalannya macet?, apa karena ada sikomo lewat?" tanya Morens


"Maaf pak, tadi ketika saya mengantarkan dokumen ke percetakan. Saya bertemu DONI, dia ingin memberikan sample perawatan wajah ke bapak untuk di uji ulang sama bapak. Tapi karena Doni sendirian di ruangannya jadi dia menitipkan kepada saya, nih barangnya pak, bapak mau tes dulu?"


"Kamu coba diwajahmu" ucap Morens.


"Tapi bukankah sudah ada bagian uji coba."


"Aku ingin melihat secara langsung, bagaimana reaksi mu, cocok atau tidak?"


"Nanti kalau tidak cocok, terus wajah saya yang cantiknya paripurna ini merah-merah bagaimana?"


"Itu sih derita kamu."


"Ih bapak jahat." jawab Chintiya sambil mengerucutkan bibirnya.


Morens tersenyum tipis, dia merasa gemas dengan ekspresi dari Chintya.


"Sudah cepat pakai, kalau ada apa-apa saya tanggung jawab."


"Bener ya pak."


"Iya,,, dasar bawel."


"Ok deh, eh tapi saya butuh cermin nih."


"Pakai handphone saya aja ya, lihat di kamera."


"Ok, tapi bapak pegang ponselnya saya ga bisa kalau sendiri."


"Huh kamu itu"


Chintya hanya tersenyum kemudian dia mengaplikasikan krim itu kewajahnya sambil terus menatap layar ponselnya seraya bercermin. Morens yang memegang ponsel itu, memandangi chintiya dari dekat yang sedang serius dengan krimnya. Morens merasa teduh ketika menatap wajah cantik Chintya dengan terpukau sambil berfikir.


"Rasanya aku tidak ingin melepaskan tatapan ku darinya, rasanya begitu teduh dan damai dihati. Dia juga berbeda dari yang lain, dia tidak terlalu mencolok dan berlebihan dia amat sederhana." batin Morens.


"Pak... Pak... Bapak!!"


"Eh ada apa, kamu ngagetin saya tahu"


"Lagian bapak kok malah ngelamun sih."


"Bagaimana, apa yang kamu rasakan?" tanya Morens.


"Rasanya sangat sejuk, nyaman dan juga teduh" jawab Chintiya.


"Aku pun merasakan hal yang sama"


"Loh memang bapak ikut mencoba!" tanya Chintiya sambil mengerutkan dahinya.


"Emm maksudku, pasti rasanya seperti itu. Karena produk ini produk yang berkualitas"


"Ya.. Ya.. Saya percaya"


Kemudian Morens langsung beranjak ke meja kerjanya menaruh ponselnya dan mengambil beberapa lembar tissue.


"Kalau begitu sini aku bantu membersihkan wajahmu"


"Biar saya saja pak"


"Sudah jangan protes, kau ini cerewet sekali", "tapi aku suka" batin Morens


Chintya menurut, Morens langsung memegang dagu chintiya, sementara tangan yang satunya mulai membersihkan wajah Chintya. Chintya menahan gelisah ketika wajah mereka sangat dekat, dan semakin lama Chintiya semakin gugup, jantungnya pun tidak kalah berdetak dengan cepat.


"*A*duh kelamaan seperti ini tidak bagus untuk kesehatan jantungku, please ku mohon jangan berdetak terlalu kencang, aku takut dia mendengar"batin Chintya.


Dengan cepat chintiya langsung menyambar tissue yang ada di tangan Morens.

__ADS_1


"Sudah pak biar saya saja, sekalian saya ingin merapikan makeup saya"


Chintya langsung mengambil tasnya dan menuju ke toilet. Morens hanya tersenyum-senyum melihat tingkah chintiya.


Waktu menunjukkan jam makan siang tiba


"Kamu ikut saya sekarang"


"Kita mau kemana pak?"


"Saya akan bertanggung jawab"


"Loh memangnya apa yang terjadi!!, saya kan tidak kenapa-kenapa"


"Anggap saja saya membayar pekerjaanmu yang tadi"


"Saya sudah digaji bekerja di sini"


"Sudah jangan banyak bicara"


"Tapi pak"


"Tidak ada tapi-tapi"


Morens langsung menarik tangan Chintya keluar dari ruangan, sepanjang berjalan Morens tidak melepaskan genggamannya.


"Pak, tapi"


"Apa lagi Chintya?" tanya Morens dengan nada yang sedikit kesal, sambil membalikan badannya menghadap ke Chintya.


"Bisa tidak tangannya di lepas"


"Memangnya kenapa?"


"Saya tidak enak dengan pegawai yang lain, nanti apa kata mereka"


"Kalau mereka berani bicara macam-macam akan saya pecat mereka" jawab Morens sambil mengedipkan matanya dan kembali berjalan.


"Ih kumat lagi" gerutu chintiya, Morens yang mendengarpun hanya tersenyum.


Setelah menyelesaikan makan siang mereka, Morens tetap memegang tangan chintiya hingga masuk ke ruangan mereka, entah mengapa hari ini Morens merasa tidak ingin jauh-jauh dari Chintya.


"Pak ini sudah sampai di ruangan, saya ingin melanjutkan pekerjaan saya"


"Terus!"


"Ya jadi lepasin tangan saya dong pak"


"Kalau saya tidak mau bagaimana!"


"Jangan aneh-aneh deh Pak"


"Kan saya sudah bilang sama kamu, keanehan saya ini bakal bikin kamu tertarik sama saya"


"Aduh bapak makin ngaco aja deh, udah deh pak lep ..."


CUP


Morens mengecup pipi chintiya


Chintya langsung terdiam dan tidak berkata apa-apa untuk beberapa saat, sedangkan Morens langsung melepaskan tangannya dan duduk di kursi kejayaannya.


"Ih bapak apaan sih, seenaknya aja cium-cium jangan bikin saya marah deh"


Chintya pergi menuju ke mejanya sambil terus mengomel, sementara Morens masih tetap tersenyum tanpa berkata apa-apa.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


DILANJUT LAGI SORE YA KAK...

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, KOMENTAR, DAN VOTENYA...


LOVE U ALL


__ADS_2