Boss Gila Ku

Boss Gila Ku
S3 - Chapter 34


__ADS_3

"Oxen, bagaimana hasil pertemuanmu kemarin dengan kolega baru kita?" tanya Mora saat dia baru saja tiba dan sudah disambut oleh Oxen.


"Semuanya lancar, ini datanya." Oxen memberikan sebuah map kepada Mora. Namun Mora hanya membukanya sekilas dan mengembalikannya lagi.


"Kasih data ini ke Xander, biar dia yang urus proyek ini."


"Ok."


Oxen keluar setelah memberitahukan agenda Mora hari ini. Tak lama kemudian Oxen kembali datang bersama Mark.


"Selamat pagi nona Mora." sapa Mark dengan tersenyum manis.


Mora menatap Mark sekilas, kemudian menatap Oxen "Kamu boleh pergi."


"Baik."


Setelah Oxen keluar, Mora meletakkan pena dan kertas yang ada ditangannya, lalu dia berpindah duduk disofa yang berhadapan dengan Mark. "Ada apa tuan Mark?"


"Aku mau ketemu kamu, aku rindu."


Mora mengernyitkan dahinya "Maaf, apa kita seakrab itu!"


"Bisakah kita seperti sebelumnya?, jangan seperti ini." Mark menatap dengan tatapan memohon.


"Memang sebelumnya kita seperti apa?, bukankah dari awal kita hanya partner bisnis." Mora bersedekap dada.


"Bukannya sebelum ini kau begitu mengkhawatirkan aku?."


Mora mengerut dahi.


"Kamu datang ke kantor ku untuk mengetahui keadaanku bukan!"


Mora tersenyum sinis "Benar!, tapi itu hanya sebagai ungkapan rasa bersalah. Karena anda masuk rumah sakit karena menolong saya kemarin, ya walaupun sebenarnya saya tidak membutuhkan pertolongan."


Mark menghela nafas panjang "Baiklah!, aku kesini juga untuk menepati janjiku. Aku mau memberikan ini."? Mark menyodorkan sebuah amplop pada Mora.


Mora menerima amplop itu dan membukanya, dia mengeluarkan semua isi yang ada di dalamnya. Disana terdapat foto dan identitas dari seorang Bernard Alfonso.


Mora membacanya dengan seksama, dia tersenyum smirk setelah membaca informasi yang diberikan oleh Mark.


" Terima kasih atas informasinya." Mora berucap tulus.


"Ku harap kita bisa lebih dari sekedar rekan bisnis."


Mora menyeringai "Aku harap tidak, karena aku tidak mau tertipu untuk yang kedua kali."


"Maaf."Mark tertunduk lesu.

__ADS_1


"Oh itu sudah biasa." jawab Mora skeptis.


"Apa aku boleh memelukmu?" pinta Mark ragu-ragu.


"Tidak!!" jawab seseorang yang baru saja masuk.


Mora dan Mark sontak menatap pada seseorang yang baru saja tiba, Mora berdecak sebal karena dia datang tidak tepat waktu.


Sedangkan Mark memberikan tatapan membunuhnya, karena orang itu sudah mengganggu waktunya dengan Mora.


"Kenapa kau datang sekarang?" tanya Mora dengan wajah kesal.


"Kenapa?, apa aku mengganggu kalian!"


"Tentu saja tuan Xander, anda menganggu kesenangan kami!" Mark menimpali dengan memberikan tatapan tatapan yang tidak bersahabat.


Xander menatap Mora tajam "Apa kau sedang bersenang-senang sayang?"


"Menyebalkan!" gerutu Mora yang tidak senang karena Xander datang di waktu yang tidak tepat. Karena sebelumnya Mora berniat untuk merayu Mark memperlancar rencananya pada Bernard.


"Sayang!!" Mark nampak bingung kenapa Xander menyebut Mora dengan panggilan sayang.


"Ada apa tuan Mark?, ada yang salah jika saya memanggil kekasih saya dengan kata sayang!"


"Kekasih!!, bukannya anda adalah asistennya!!"


"Apa itu benar nona Mora?" tanya Mark yang masih tidak percaya.


"Itu benar tuan Mark." Mora menatap Mark sesaat lalu beralih menatap Xander.


Seperti yang sudah dia duga, Xander pasti menampakan raut wajah menyebalkan dengan seringainya kepada Mark sebagai tanda kemenangan dirinya atas Mora.


Mark tidak dapat berkata apa-apa, pantas saja Mora begitu sulit didekati. Rupanya Xander Sudah lebih dulu mendapatkan Mora, Mark yakin Xander bukanlah orang sembarangan dilihat dari caranya melindungi Mora dan perkataannya kemarin.


Tadinya Mark pikir, Xander adalah asisten sekaligus bodyguard. Tapi kenyataannya, Xander lebih dari pada itu.


"Baiklah nona Mora, saya pergi dulu. Semoga kedepannya kita bisa lebih banyak bekerja sama." pamit Mark yang hanya ditanggapi senyuman oleh Mora.


"Semoga saja tidak." celetuk Xander.


Setelah kepergian Mark, Mora bangkit dari sofa hendak kembali ke kursi kerjanya. Namun cekalan tangan Xander lebih dulu menghentikan langkahnya.


"Kenapa?"


Tanpa menjawab, Xander mengangkat tubuh Mora dan melingkarkan kaki Mora di pinggangnya. Dia membawa Mora ke dalam kamar pribadi rahasia Mora.


Begitu di depan pintu kamar itu!.

__ADS_1


"Masukan kodenya." perintah Xander.


"Hei!, disini aku bossnya." protes Mora.


"Kalau gak mau buka, aku bawa ke toilet nih!" ancam Xander.


"Mau ngapain sih?" kesal Mora sambil menekan kode password kamar itu.


Xander masuk begitu pintu terbuka, setelah itu dia menutupnya dengan menggunakan kakinya. Xander meletakkan Mora di ranjang King size tempat biasa dia istirahat bila malas bekerja.


Xander mendukung tubuh Mora yang ada di bawahnya. "Aku kesal, kamu ketemu sama dia tanpa bilang ke aku." Xander berkata dengan sorot mata yang tajam.


"Aku gak tau kalau dia tiba-tiba datang, masa sih harus aku usir!" Mora berucap lembut sambil mengalungkan tangannya ke leher Xander.


Dia tau kalau saat ini Xander benar-benar cemburu, jadi dia berusaha untuk meluluhkan Xander dengan merayunya. Walaupun sejujurnya sangat berat, karena itu bukan gayanya.


Mora tidak pernah merayu, biasanya dia yang selalu dirayu oleh pria. Dia juga biasa bicara dengan ceplas-ceplos dan sedikit ketus. Jadi ini adalah pertama kalinya dia akan merayu pria.


Do'akan Mora ya man teman...


Xander kesal melihat Mora yang hanya diam saja sambil menatapnya. "Kenapa diam?, kalau tadi aku gak datang pasti si brengsek itu bakal peluk-peluk kamu."


"Berisik!" Mora malas menjelaskan kepada Xander yang sedang cemburu karena mendengar permintaan Mark yang sebenarnya Mora juga tidak akan mengabulkan.


Mora menarik tengkuk Xander dan mencium bibirnya, Xander yang awalnya ingin marah malah berbalik tersenyum senang.


Setelah ini, dia pasti akan terus menerapkan cara seperti ini agar Mora berinisiatif lebih dulu menciumnya.


Xander memeluk erat tubuh Mora hingga sedikit terangkat di bagian punggungnya, dia mencium Mora dalam menikmati gumpalan kenyal nan **** bibir wanitanya. Mora memejamkan matanya menikmati kelembutan perlakuan Xander sambil meremas rambut si pria.


"I LOVE YOU." ucap Xander di sela-sela ciuman mereka.


Xander sedikit beralih menyusuri leher jenjang nan putih milik Mora, dia mensesap dalam kulit itu hingga menimbulkan suara kecapan yang terasa nyaring disertai pekikan kesakitan dan kenikmatan yang meluncur dari bibir Mora.


"Aaahhh Xan."


Sambil tetap mengeksplor leher Mora, tangannyapun tidak tinggal diam. Dia membuka dua buah kancing kemeja Mora dan sedikit menurunkannya di bagian pundak, hingga menampakan bahu putih mulus di depannya.


Xander menciumi bahu itu dengan lembut dan penuh kasih sayang, seraya menyalurkan rasa kasih yang menautkan hatinya dengan Mora.


"Uuhhh." Mora melenguh seraya meremas bahu kokoh Xander.


"Kamu milikku sayang."


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


TBC


__ADS_2