
"Hallo." jawab Mora tanpa melihat nama di layar ponselnya.
"My princess." jawab yang disebrang sana.
Mora melihat nama yang tertera di layar "Uncle."
"Yes princess."
"Uncle, bagaimana kabar uncle?. Kenapa beberapa Minggu ini nomor uncle susah di hubungi, dan uncle juga gak kasih kabar ke Mora." cerocos Mora, karena memang sudah beberapa waktu ini Mora sulit menghubungi Sandi ataupun Serena.
"Uncle baik sayang. Uncle baru sempat sayang."
"Lalu bagaimana sama aunty Sera?"
Tak ada jawaban dari Sandi, dan itu membuat Mora penasaran.
"Uncle, kamu masih disitu kan!"
"I...Iya sayang."
"Bagaimana kabar aunty?" tanyanya lagi yang masih belum mendapat jawaban dari Sandi.
"Uncle." bentak Mora.
Sandi menghela nafas berat
"Mora, aunty Sera sudah satu Minggu ini koma. Uncle sudah berusaha semaksimal mungkin dan mencari dokter terbaik, tapi sampai sekarang belum ada hasil yang membaik."
Sandi menjeda ucapannya sesaat
"Aunty Sera mungkin gak bisa diselamatkan, tapi uncle tetap usaha semaksimal mungkin."
"Denger uncle!!, Mora yakin aunty akan sehat terus. Lusa Mora akan kesana, selagi Mora belum datang, jangan pernah membiarkan orang yang gak dikenal bertemu dan mendekati aunty selain dokter yang khusus menangani aunty." jelas Mora dengan tegas.
Sandi menautkan alisnya "Emangnya kenapa sayang?" tanya Sandi heran.
"Pokoknya ikutin yang Mora bilang, kalau mau aunty Sera selamat."
Sandi bertambah bingung, dia semakin penasaran. Sebenarnya apa yang terjadi dengan istrinya itu, dan kenapa sepertinya Mora mengetahui sesuatu.
"Tapi kenapa?"
"Percaya sama Mora uncle, Mora akan cerita ke uncle saat disana nanti."
Sandi menarik nafas dalam-dalam, rasa penasarannya membuat dadanya serasa sesak.
"Ok, uncle percaya sama kamu."
"Tunggu Mora ya, inget apa pesan Mora."
"Ya sayang, uncle tutup dulu ya."
__ADS_1
Setelah panggilan itu terputus, Mora menyuruh Oxen untuk memanggil Xander ke ruangannya.
10 menit kemudian, Xander tiba di hadapannya dengan senyum sumringah.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?, situ waras gak!" Mora mencibir Xander yang terlihat aneh hari ini.
"Aku emang udah gak waras."
"Pantes."
"Gak waras, karena aku bisa tergila-gila sama kamu. Sebenarnya, kamu apain hati aku?" goda Xander mendekat ke Mora.
Mora mengangkat kedua bahunya, sambil mencebikan bibirnya.
"Mana aku tau!, tapi aku gak heran sih. Secara aku kan cantiknya Paripurna." ucapnya berdiri dan bersedekap dada.
"Ya, dan aku si tampan rupawan."
"Hilih, rupawan. Dari Baghdad sana liatnya."
"Alah gengsi, buktinya ini kamu cari aku pagi-pagi begini. Biasanya juga aku yang kesini duluan, sekarang kamu yang panggil duluan. Pasti kangen kan." ucap Xander percaya diri seraya menaik turunkan alisnya.
"Dasar PD (Pria dekil)."
"WHAT!!, apa itu dekil?" tanya Xander yang belum paham apa arti dari kata dekil. Memang dia belum terlalu fasih berbahasa Indonesia, apalagi bahasa yang jarang digunakan.
"Dekil same like a Handsom." jawab Mora dengan mimik muka serius.
"Thats right."
"Jadi, akulah pria dekil." ucap Xander bangga, dia sangat senang. Akhirnya Mora mengakui juga kalau dia tampan.
"Ya, kamulah pria terdekil di seluruh pegawai RENS CORP." Mora menimpali seraya menahan tawa karena sudah mengerjai Xander.
"Oh ya, kenapa kamu panggil aku kesini?" Xander kembali ke mode serius.
"Lusa temani aku ke Amerika."
"Lusa!!, kenapa mendadak sekali?. Ada apa sayang?" Xander memeluk erat pinggang Mora yang berdiri dihadapannya.
"Kondisi aunty semakin memburuk, aku yakin ini karena ulah mereka itu."
"Kami yakin mau kesana sayang?"tanyanya lagi memastikan sambil mengendus ceruk leher Mora yang sangat menggairahkan.
"Hm, bukannya kamu pernah bilang kalau orang suruhan kamu udah menemukan obat yang bisa menyembuhkan aunty." Mora menjawab, namun dia masih belum tersadar akan posisi Xander yang sangat tidak menguntungkan.
"Ya, tapi kita harus mengecek dulu kondisi tantemu secara langsung."
"Kalau begitu, kita memang harus kesana."
"Hm, terserah kamu sayang. Aku ikut aja."jawabnya asal masih dengan menikmati keintiman mereka saat ini.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Mora baru tersadar kalau saat ini posisi mereka begitu intim dengan posisi Xander duduk bersandar di meja kerja Mora dengan memeluk erat wanitanya yang berdiri. Sedangkan kepalanya berada di ceruk leher Mora sambil menikmati aroma tulip yang berasal dari Mora.
" Hei kau X-men, sedang apa kamu?. Lepas!!" bentak Mora yang kesal karena Xander masih bisa-bisanya mengambil kesempatan.
"Kenapa?, dari tadi kamu diem aja. Sekarang baru berlagak gak mau." cibir Xander yang makin mengeratkan pelukannya.
"Sembarangan!!"
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Siapa?" tanya Mora setengah berteriak.
"Ini saya boss." ucap Oxen dari luar, biasanya dia langsung masuk ke dalam. Tapi karena dia tau kalau ada X-men di dalam, maka dari itu dia mengetuk pintu.
Dia takut kalau kedatangannya yang tidak tepat waktu, membuat dia harus melihat adegan uwu dari boss dan asistennya itu seperti yang beberapa kali dia alami.
"Xan, lepas." pinta Mora lirih.
"Enggak, biarin aja Oxen masuk. Dia kan sudah biasa liat kita begini."
"Tap..." Mora belum sempat menyelesaikan ucapannya, Xander sudah lebih dulu bersuara.
"Masuk."teriak Xander pada Oxen yang masih menunggu di luar.
Mendapat perintah masuk, Oxen pun melangkahkan kakinya menuju ke dalam ruangan Mora. Alangkah terkejutnya dia begitu melihat pemandangan di dalam, yang ternyata Xander tengah memeluk erat Mora, sedangkan yang di dalam juga tak kalah kaget. Karena ternyata Oxen datang tidak seorang diri, melainkan bersama seseorang yang mereka kenal yaitu Mark Lincoln.
" Boss." ucap Oxen canggung. Sedangkan Mark hanya menatap datar Mora dan Xander.
Xander tersenyum senang, karena Mark datang di waktu yang tepat. Dia berpikir dengan begini, Mark akan tau kalau Mora adalah miliknya dan tak akan mengganggu wanitanya lagi.
Sedangkan Mora berdecak malas melihat reaksi Xander yang tersenyum sinis pada Mark, dia tau apa yang sedang dipikirkan oleh pria yang sedang memeluk posesif dirinya ini.
"Lepas!, kalau gak. Aku bakal panggil dia sayang." bisik Mora seraya melirik ke arah Mark.
Mau tak mau Xander melepaskan pelukannya, dari pada dia harus mendengar Mora memanggil Mark dengan sebutan sayang.
"Selamat pagi tuan Mark." sapa Mora biasa seperti tidak terjadi apa-apa.
"Selamat pagi nona Mora, tuan Xander." jawab Mark tersenyum manis.
Xander berdecih "Aku Xander si pria dekil." ucapnya bangga memperkenalkan dirinya pada Mark.
"HAH!!"
...----------------...
...----------------...
TBC
LOVE U ALL MMMUUUAAACCHHH
__ADS_1
💜💜💜