
Info dikit genks.
Untuk beberapa part ke depan, aku akan lebih mengisahkan tentang S couple ( Sandi dan Serena). Karena Morens dan Chintiya sudah bahagia, tapi tetap mereka yang utama dan tetap kisah S couple ini menyangkut pautkan kepada mereka.
Lalu untuk R couple (Roby dan Rena), aku berencana akan.aku buatkan kisah sendiri. Kisah dengan konflik yang lebih rumit.
Jadi jangan ngambek dulu ya.
Cus
...----------------...
...----------------...
...----------------...
SANDI POV
Malam ini aku tengah berada di acara launching produk terbaru milik RENS CORP yang tidak lain adalah milik Morens Hadinata. Saat aku datang, Morens menyapaku. Namun aku tau, kalau sebenarnya senyum itu adalah senyum terpaksa demi sikap profesional dalam dunia bisnis.
Aku bisa melihat di matanya, bahwa masih terlihat raut wajah kesal atas apa yang telah terjadi dulu. Aku bisa mengerti dengan sikap Morens kepadaku, dan aku pun tidak masalah. Selagi dia tidak membuat ulah.
Malam ini aku membawa Nitta ke acara ini. Sebenarnya aku sangat malas mengajaknya, tapi berhubung dia terus merengek minta ikut dan mamahku yang menyuruhku untuk mengajaknya. Mamah juga tidak mau pusing mendengar rengekan nya yang seperti anak kecil.
Kami berbincang-bincang, Morens mengira bahwa Nitta adalah kekasihku. Aku membiarkannya saja Morens berpikir seperti itu, karena aku enggan menjelaskan dan lagi pula Morens tidak ada urusan dengan masalah pribadiku, pikirku saat ini. Itu juga lebih baik karena Morens jadi bersikap biasa padaku, mungkin dia berpikir bahwa aku bukan lagi ancaman untuk Chintiya. Padahal sudah sejak lama aku mengaku kalah dan sudah mengikhlaskan Chintiya. Lagi pula sekarang ini, ada nama gadis lain yang sudah mengganggu pikiranku.
Saat sedang berbincang-bincang, tatapan ku tertuju pada seorang wanita yang baru saja datang. Wanita cantik nan elegan, wanita yang selama 1 tahun ini aku cari-cari, wanita yang mendadak no ponselnya tidak aktif, wanita yang mengacaukan pikiran dan hatiku belakangan ini dan dia juga wanita yang hilang dari kehidupan ku dan saat ini ada di hadapanku.
"Serena" aku berucap lirih.
Aku melihat dia menyapa dan berpelukan dengan Morens, dia juga bersikap sangat manja pada Morens, dan anehnya Morens juga bersikap sangat lembut pada Serena.
Aku sangat penasaran dengan mereka, sebenarnya apa hubungan Morens dan Serena?.
Serena benar-benar bersikap seolah-olah kami belum pernah kenal, bahkan dia juga bicara sangat formal. Saat kami berjabat tangan, aku tak menyia-nyiakan kesempatan emas. Ku genggam tangannya dan tidak ku lepas walaupun dia memberontak minta di lepas, aku juga terus menatap wajahnya yang selama satu tahun ini 'sangat ingin aku temui. Sampai Morens menyadarkanku dan aku dengan berat hati melepas tangan Serena.
SANDI POV END
__ADS_1
Serena terlihat terus saja mengekor kemana Morens pergi, sedangkan Richard, dia memisahkan diri dan berkumpul dengan para kolega sejawatnya yang sudah cukup lama tidak bertemu.
Sandi terus memperhatikan pergerakan Serena dengan ekor matanya. Dia tidak memperdulikan keberadaan Nitta bersamanya, dia hanya terus menunggu adanya kesempatan untuk bicara berdua dengan Serena.
Serena terlihat berjalan sendiri meninggalkan Morens yang masih berbincang dengan koleganya yang lain, Serena berjalan menuju ke toilet berniat untuk merapihkan make upnya.
Serena berdiri sejenak di depan cermin, sebelum keluar dari toilet.
"Kenapa aku harus ketemu dia lagi?, padahal udah susah payah aku coba lupain dia. Tapi kini rasanya semua usahaku sia-sia.
Lalu siapa wanita itu?, tapi tadi kakak bilang itu adalah calonnya. Apa benar dia mau menikah?. Ah. Terserah dia, itu bukan urusan aku. Tapiiii, kayanya aku pernah liat cewek itu dimana ya?" Serena terdiam sejenak mencoba mengingat kembali, sampai akhirnya dia "Ah iya, bukannya itu cewek yang di butik waktu itu kan. Berarti tante Ayu adalah ibunya Sandi. Berarti cewek itu benar calonnya, karena tante Ayu juga bilang gitu waktu di butik kemarin."
Kemudian Serena keluar dari toilet, saat baru saja dia keluar dari pintu toilet, dia terkejut karena ada sebuah tangan kekar meraih tangan kanannya dan menarik dirinya secara paksa. Secara kebetulan saat itu toilet sedang sepi, jadi tidak ada yang tau apa yang terjadi.
"Sandi lepas, kamu mau bawa aku kemana?" tanya Serena.
"Aku mau ngomong sama kamu berdua." jawab Sandi sambil tetap berjalan dan menarik tangan Serena menuju ke arah tempat parkir dan masuk ke dalam mobilnya.
"Kalau mau ngomong, ya tinggal ngomong aja. Gak usah pake tarik-menarik segala."
"Nah ini udah gak ada orang, sekarang kamu bisa ngomong kan." ucap Serena dengan lembut, berharap Sandi mau melepaskannya.
"Enggak, bukan disini. Mending kamu diem, atau kamu mau aku bertindak kasar." ucap Sandi mencoba menakuti, supaya Serena mau menuruti keinginannya tanpa berontak.
"Kamu ngancem aku."
"Ya kalau kamu mau coba." ucap Sandi dengan menyeringai.
Akhirnya Serena diam dan mengikuti kemauan Sandi, dia berpikir yang penting urusan cepat selesai dan dia bisa segera kembali ke hotel tadi. 30 menit kemudian mereka sampai di tujuan.
"Loh ngapain ke apartemen kamu?"
"Ikut aja, kamu tenang aja aku gak bakal macem-macem kok. Aku cuma mau ngomong berdua sama kamu dengan bebas." mereka bicara sambil berjalan ke arah pintu masuk.
Mereka masuk kedalam apartemen dan tak lupa Sandi juga mengunci pintu. Serena duduk di sofa, dan Sandi duduk tepat disebelah Serena dan menarik pinggang Serena agar mereka lebih dekat.
"Lepas San, jangan kaya gini." Serena mendorong dada Sandi mencoba memberi jarak antara mereka, tapi itu semua tidak berguna.
__ADS_1
"Enggak mau, aku mau kaya gini aja. Malam ini kamu cantik banget, aku kangen kamu Ser. Kemana kamu selama ini?, apa kamu tau, selama 1 tahun ini aku terus cari kamu."
"Bukan urusan kamu, aku pergi kemana. Lagian siapa suruh kamu cariin aku hah."
"Kenapa kamu ngomong kaya gitu?, segitu bencinya kamu sama aku!, bahkan aku gak tau apa yang udah bikin kamu benci sama aku. Kamu juga menghindar dari aku kan!, sampai no ponsel kamu pun diganti."
"Aku gak benci sama kamu, aku cuma coba terima kenyataan. Aku menghindar supaya aku gak sakit hati di suatu hari."
"Apa karena kejadian di resto itu, ah atau mungkin karena cewek tadi iya. Aku bakal jelasin ke kamu, tapi kalau aku belum selesai bicara kamu jangan potong dulu ya."
Serena hanya diam mendengarkan tanpa berkomentar apapun.
Sandi mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya si resto waktu itu, sebelum Sandi meninggalkan Serena lama sekali disana.
Sandi juga mengatakan siapa wanita yang bersamanya di acara tadi.
"Ser, ayo ngomong sesuatu jangan diem aja." ucap Sandi sambil mencubit hidung Serena.
"Udah kan ngomongnya!, aku mau pulang. udah malam."
"Tidur sini aja ya."
"Apa?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Makasih buat yang udah baca dan kasih LIKE juga hadiahnya, moga kalian makin lancar dalam usahanya dan sehat selalu.
TBC
LOVE U ALL MMMUUUAAACCHHH
💓💓💓💓💓
__ADS_1