Boss Gila Ku

Boss Gila Ku
CHAPTER 48


__ADS_3

"MORENS"


Mereka semua terbelalak melihat situasi di dalam kamar hotel tersebut, dimana saat itu terlihat Morens duduk di sofa yang berhadapan dengan ranjang dengan kaki menyilang, dia hanya menggunakan celana panjang dan bertelanjang dada dengan tangan yang mengeluarkan darah di bagian telapak tangan, nafas yang memburu dan tatapan yang membunuh tanpa ekspresi memperhatikan ke arah Flo yang berada di atas ranjang.


Sedangkan kondisi Flo sendiri sangat memprihatikan, dia terbaring dengan tangan terikat pada kedua sisi ranjang dengan hanya menggunakan bra dan ****** *****, rambut yang acak-acakan muka lebam dan beberapa bagian tubuhnya yang terlihat membiru.


Chintya langsung menghampiri Morens dan meminta kepada pegawai hotel untuk membawakan kotak p3k, Morens tidak menghiraukan keberadaan Chintiya dia masih tetap bertahan pada posisi awal, Chintiya tidak peduli karena yang terpenting saat ini adalah memberhentikan darah yang mengalir dari tangan Morens.


Sedangkan Roby, dia langsung mendekat ke arah ranjang dan melepaskan ikatan tali di tangan Flo. Rena mengambilkan selimut yang terjatuh di lantai untuk menutupi tubuh Flo yang hampir polos.


Setelah Chintiya selesai memasangkan perban pada tangan Morens, barulah dia mulai bertanya.


"Sebenarnya ada apa Morens?"


Morens tidak menjawab dia hanya melirik tajam sekilas, lalu kembali menatap tajam ke arah Flo, sambil berucap.


"Roby, urus wanita sialan itu. Bawa ketempat biasa"


"Ok boss"


"Rena, ajak Chintiya pulang"


"Tapi boss"


"Aku tidak mau berucap 2 kali"


"Aku gak mau, aku mau sama kamu Morens. Kenapa kamu ngusir aku" Chintiya menyela pembicaraan


"Buat apa kemari, sudah terlambat" sarkas Morens tajam


"Maafin aku, aku udah berusaha untuk datang tepat waktu. Tapi"


"Tapi apa?, tapi kamu keenakan berada di luar sampai lupa sama aku. Kamu juga lebih mentingin usaha kamu dari pada suami kamu ini" Morens bicara tanpa menatap Chintiya


Chintya tidak dapat berkata apa-apa, dia hanya tertunduk lesu. Dia menyadari kalau memang dirinya salah, sudah seharusnya dia menomorsatukan keluarga dari pada yang lainnya.


Sedangkan Rena dan Boy hanya terdiam menyaksikan perdebatan sepasang suami istri tersebut, mereka tidak ingin meninggalkan suami istri tersebut karena khawatir terjadi sesuatu, mengingat situasi yang sedang tidak kondusif.


Morens menengok kepada pria yang datang bersama Chintiya. "Lalu kenapa kamu bisa datang kesini dengan dia, apa kalian habis kencan sampai lupa sama aku, hmm!"


"Kamu ngomong apa sih, dia itu Boy temen yang aku ceritain ke kamu dan dia juga pemilik gedung yang mau aku sewa" Chintiya berkata ketus merasa tidak terima dengan perkataan Morens.


"Oh jadi Boy yang kamu maksud itu dia"


"Maksud kamu!, apa kamu kenal sama Boy?"


Morens menyeringai "Apa pertemuan kalian sangat penting sampai memakan waktu berjam-jam. Aku rasa kalau cuma soal sewa menyewa gak akan selama itu, kecuali ditambah urusan pribadi".

__ADS_1


"Jangan sembarangan Morens, aku tidak seperti itu. Trus kamu sendiri kenapa bisa didalam kamar berdua bersama cewek tadi, bukankah dia sekertaris barumu yang sexy itu."


Morens tertawa "Hahahaha kamu benar sayang, dia memang sexy dan kamu bisa liat sendiri kan kalau aku habis bersenang-senang dengan dia"


"Morens, kamu gila ya" bentak Chintiya.


"Ya, aku memang gila dan kamu sudah tau itukan. Tapi seenggaknya aku jujur gak sembunyi-sembunyi kaya kalian"


"Cukup Morens" Hardik Boy menyela pembicaraan mereka.


"Kenapa?" jawab Morens dengan tatapan dingin


"Dari tadi gue diam dengerin omongan lu yang gak guna itu, dan sekarang lu harus tau apa yang sebenarnya terjadi sama istri lu"


"Boy" Chintiya menatap Boy mengisaratkan agar tidak menceritakan kejadian yang menimpanya tadi siang.


"Enggak Tia, Morens harus tau yang sebenarnya. Biar dia gak asal mangap lagi"


"Lu mau ngomong apa?, lu mau bilang kalau kalian berdua memang ada hubungan gitu" sinis Morens


"Otak lu dari dulu gak jauh dari prasangka buruk, gue pikir makin tua otak lu makin bener, tapi nyatanya nihil"


"Banyak omong lu, udah cepet cerita pala gue udah mulai pusing"


Boy menatap sekilas Chintiya yang menundukkan kepalanya, lalu dia mulai menceritakan kepada Morens.


FLASHBACK ON


"Apa kue ini untuk suamimu?"


"Ya, dia sangat suka dengan strawberry cheese cake. Aku yakin dia pasti enggak makan dengan benar kalau lagi sibuk."


"Beruntung banget Morens dapet istri cantik, ramah, perhatian lagi" batin Boy


Chintya mengeluarkan ponselnya dan menghubungi supirnya untuk menjemput, kemudian dia segera pergi menuju hotel A.


Ketika diperjalanan dia melihat dari kejauhan Seperti ada kecelakaan, maka dari itu dia langsung meminta supirnya untuk mencari jalan pintas guna menghindari kemacetan.


Setelah itu Chintiya mengeluarkan ponselnya hendak menghubungi Morens, namun sebelum sempat menekan tombol ponselnya lebih dulu berdering, dan itu panggilan dari Boy.


"Hallo"


"Hallo Chintiya kuemu tertinggal"


"Ya Allah iya, aku lupa"


"Ya udah aku antar ya, kamu udah dimana?"

__ADS_1


"Aku lewat jalan pintas, aku share lacation ya"


"Ok"


Chintya menutup panggilan telepon tersebut.


"Pak, berhenti dulu sebentar ya"


"Kenapa non"


"Barang saya tertinggal, teman saya lagi menuju kesini buat anter. Jadi kita tunggu sebentar ya"


"Oh ya non"


Saat sedang menunggu Boy, tiba-tiba sebuah Pajero sport hitam berhenti di depan mobil yang Chintiya tumpangi, kebetulan daerah tempat Chintiya berhenti terbilang cukup sepi, karena bila mencari tempat yang lebih ramai, itu akan membuat Boy lebih jauh menyusul Chintiya.


Dari dalam mobil itu turun 2 orang pria berbadan besar dan berwajah sangar, mereka menggedor kaca mobil Chintiya. Awalnya Chintiya melarang pak Diman supirnya untuk membuka kaca, juga melarang untuk turun. Namun karena salah satu dari mereka hendak memecahkan kaca mobil, akhirnya pak Diman bertekad untuk turun, tentu saja Chintiya melarang namun pak Diman tetap bersikeras.


Chintya mencoba menghubungi Morens berkali-kali namun tidak ada jawaban sama sekali, dia tersentak kaget ketika salah satu dari mereka membuka paksa pintu mobil Chintiya dan menarik Chintiya untuk keluar.


"Lepas, siapa kalian?, apa mau kalian?"


Chintya melihat pak Diman yang sudah tidak sadarkan diri tergeletak dikursi kemudi.


"Cepat ikut, gak usah banyak tanya"


"Kalian mau duit, nih gue kasih. Kalian butuh berapa bilang"


"Jangan banyak omong lu"


"Siapa yang nyuruh kalian, cemen banget" bentak Chintiya, entah mengapa dia merasa tidak merasakan takut. Dia malah semakin penasaran dengan siapa orang yang membayar mereka.


Saat tarik menarik terjadi, tiba-tiba salah satu dari mereka tersungkur. Kami langsung melihat apa yang terjadi, ternyata Boy yang memukul pria itu.


Pria yang satunya melepaskan Chintiya dan menyerang Boy, baku hantampun terjadi. Saat tengah terjadi perkelahian warga mulai berdatangan, pria itu langsung melarikan diri tapi tidak dengan yang satunya.


Boy menghubungi seseorang dan meminta mengurus pak Diman agar dibawa ke rumah sakit, dan pria yang satu lagi diamankan untuk dia interogasi nanti.


*FLASHBACK OFF


TERIMA KASIH BUAT YANG MASIH SETIA BACA CERITA INI.


WALAUPUN AKU SIBUK DI DUNIA NYATA, TAPI AKU SEMPETIN UNTUK TETAP HADIR DI DUNIA HALU.


UNTUK KENYAMANAN KITA BERSAMA AKU HARAP KAKAK SEKALIAN TIDAK LUPA UNTUK LIKE, VOTE, DAN KOMEN.


BILA BERKENAN DAN BERMURAH HATI MUNGKIN SEKITARNYA MEMBERI TIPS😁😁✌️✌️

__ADS_1


SALAM DARI AKU VHE


LOVE U ALL ❤️❤️❤️ MMMUUAAACHHH***


__ADS_2