
"Oxen, apa kamu belum dapat pengganti asisten?" tanya Mora di sela jam makan siang.
"Belum boss."
"Aku bosan Oxen, aku ingin bermain. Tapi kalau ngajak kamu, pasti deh alasannya banyak kerjaan lah, ada deadline lah. Gak asik, sebenarnya kamu itu sibuk apa sih!, aku aja yang boss santai aja." gerutu Mora.
"Wah Benar-benar sableng nih orang, kan dia yang ngasih gue kerjaan banyak. Trus kalau gue telat kasih laporan, dia juga yang marah-marah. Ya tuhan beri aku kesabaran menghadapi makhluk cantik nan menyebalkan ini." umpat Oxen dalam hati.
"Emang boss mau main apa sekarang?" tanya Oxen sedikit mengikuti kemauan Mora.
"Udah lama aku gak latihan menembak, gimana kalau kamu anterin aku latihan. Aku males kalau harus latihan cuma berdua dengan couch, gak asik."
"Gimana kalau boss datang ke lapangan tembak di daerah J---k---a. Disana banyak para pemula dan juga profesional yang sedang berlatih, siapa tau boss bisa lebih terhibur." usul Oxen.
"Ah benar juga, hari ini udah gak ada meeting lagi kan."
Oxen menggelengkan kepalanya
"Bagus, kalau begitu aku pergi ya."
Mora langsung melajukan mobilnya ke arah yang dimaksud, setelah tiba disana, dia melihat orang-orang yang sedang berlatih. Dia merasa lebih tertantang dari pada berlatih dengan couch yang biasa mengajarinya.
Mora langsung menuju ke meja reservasi, untuk memilih senjata mana yang akan dipakai olehnya.
Namun sayangnya, senjata yang dia inginkan sedang tidak bisa digunakan karena pasokan pelurunya sedang habis. Terpaksa dia menggunakan senjata yang tersedia saat ini, yaitu pistol berjenis standar. Biasanya dia lebih suka menggunakan senapan Laras panjang seperti yang biasa dia gunakan saat berburu bersama Morens.
Mau tidak mau dia berlatih dengan menggunakan senjata seadanya, mood yang tadi begitu menggebu-gebu langsung menciut karena tak sesuai dengan ekspektasinya.
Itu sebabnya Mora jadi tidak fokus dalam mengenai sasaran, dan alhasil tembakannya banyak yang meleset, dan itu membuat dia menggeram kesal. Hingga tiba-tiba seorang pria datang dan berdiri tepat disampingnya.
"Apa kau butuh pelatih?" tanya pria itu.
Mora sontak melihat kearah suara tersebut, tampaklah seorang pria bertubuh tegap dengan memegang 2 buah pistol ditangannya dan memandang ke arah papan tembak.
"Gak perlu." tolak Mora.
"Tapi ku lihat, kau itu amatir."
Mora memutar bola matanya malas
__ADS_1
"Jangan bicara sesuatu yang tidak kau ketahui, Do not ever talking about something, if u not see about that mean."
"So will see." tantang pria itu.
Mendengar ucapan dari pria itu yang terasa mengejek, Mora tiba-tiba menjadi bersemangat dan menggebu-gebu.
"Ok, lets start the game."
Mereka kini telah bersiap-siap dengan memegang pistol masing-masing, dan mereka mengajak salah satu petugas disana untuk menjadi juri permainan mereka, dan permainan pun dimulai.
Awalnya Mora sempat kewalahan karena memang dia tidak terbiasa menggunakan pistol, dia lebih suka menggunakan senapan.
Namun karena dia menyetujui permainan itu, mau tidak mau Mora harus membiasakan diri dengan senjata itu, perlahan Mora dapat mengimbangi pria itu. Mora tersenyum smirk kearah pria itu, saat pria itu menatap tak percaya kala Mora berhasil mengimbangi nilainya. Dan akhirnya Mora dapat memenangkan permainan itu.
"Bagaimana?, apa kau butuh pelatih?" tanya Mora mengejek.
"Ternyata kau boleh juga ya. Bagaimana bila kita bermain lagi?" tawar pria itu, dia merasa dengan Mora yang terlihat galak namun sangat cantik.
"Aku sibuk." Mora lalu melengos pergi.
"Menarik." ucap pria itu.
Setelah itu Mora mulai bersiap-siap untuk pulang, karena waktu memang sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dia langsung berganti pakaian dan segera pulang kerumah orang tuanya.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam. Tumben kamu kesini sayang." jawab Chintiya yang sedang berjalan setelah mengantarkan kopi untuk Morens di ruang keluarga.
"Mommy, emangnya aku gak boleh kesini." ucapnya manja.
"Boleh, cuma biasanya kamu kan disuruh kesini aja susah banget. Bilangnya jadwalnya padat, udah kaya artis aja kamu."
"Ih mommy, emang aku sibuk mom."kilah Mora.
"Sibuk apa?"
"Sibuk ngelayap. hehehe." Mora tersenyum menampilkan sederet gigi putihnya.
"Dasar." cibir mommy.
__ADS_1
"Mom, gimana kabar Rosi?. Udah lama aku gak jenguk dia." tanya Mora sambil menggandeng Chintiya menuju ke ruang keluarga, dimana Morens sedang berada.
"Baik, sekarang dia jadi makin malas. Tiap hari cuma makan tidur, paling main cuma sebentar trus masuk lagi ke kamarnya." ungkap Chintiya menjelaskan.
"Masa sih, kalau gitu harus Mora latih lagi nih dia. Biar gesit lagi."
"Iya, tuh sapa dulu daddy kamu." Chintiya menunjuk ke arah Morens yang tengah asik menyaksikan berita tentang olah raga.
"Hai dad." sapa Mora mencium pipi morens dan duduk disampingnya.
"Tumben kamu kesini!" tanya Morens.
"Ih gak mommy, gak daddy, kenapa sih ngomongnya gitu."protes Mora.
" Ya kan emang kamu kesini pas ada maunya doang."
"Ih nyebelin, udah ah mending Mora liat Rosi aja."
Rosi adalah seekor macan betina Sumatera yang dia pelihara sejak Rosi masih berumur 10 bulan.
Mora beranjak dari duduknya, namun baru selangkah dia kembali membalikkan badannya dan menatap keluar televisi yang menampilkan sebuah berita tentang diadakannya kompetisi Berkuda. Mora menatap antusias dengan berita itu.
"Wow, kayanya asik tuh. Aku mau ikut ah." Mora mulai mencari kontak Oxen di ponselnya, dia ingin meminta Oxen agar mendaftarkan dirinya dalam kompetisi tersebut.
Morens dan Chintiya hanya saling menatap saat mendengar keantusiasan Mora untuk ikut dalam kompetisi tersebut.
Mereka tidak menyangka, bahwa gadis cantik mereka tumbuh menjadi wanita cantik yang mandiri dan menyukai tantangan.
"Hallo, Oxen. Daftarkan aku pada kompetisi berkuda yang akan dilaksanakan 1 bulan lagi." ucap Mora langsung saat Oxen baru saja menekan tombol hijau.
Panggilan telepon langsung diputus oleh Mora, sebelum Oxen sempat menjawab.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
TBC
__ADS_1
LOVE U ALL MMMUUUAAACCHHH
💜💜💜💜💜