
Seperti yang dikatakan Xander, selama satu bulan ini dia dengan setia menemani sang istri secara rutin dalam proses terapi pemulihan dan proses berjalan.
Dia juga dengan tidak ada kata lelah selalu membantu dan mendukung tekad sang istri untuk sembuh dan bisa berjalan normal kembali, agar dapat menemaninya ke Afrika.
Hari ini adalah hari terakhir dimana sang dokter ahli terapi datang untuk mengecek kondisi dan perkembangan kesembuhan Mora.
"Selamat siang Tuan dan Nyonya Manson." sapa sang dokter yang baru saja datang.
"Siang dokter." jawab suami istri itu.
"Coba kita lihat perkembangan tahap akhirnya, apa masih ada keluhan yang dirasakan?" tanya dokter sembari mengecek kondisi kaki dan struktur tulang kaki Mora.
"Tidak ada dok."
"Baik. Dan dari yang saya lihat, Kondisi kaki nyonya sudah bagus, struktur tulang pun sudah tersusun seperti semula. Saya tidak menyangka perkembangan nyonya sangat cepat, biasanya kasus seperti ini paling cepat 6 bulan proses penyembuhan."
"Benarkah?, berarti saya sudah bisa beraktivitas seperti biasa!" tanya Mora semangat.
"Memang benar, tapi saya sarankan sebaiknya Nyonya jangan dulu beraktivitas yang berlebihan. Paling tidak untuk 3 bulan awal." jelas dokter.
"Dengar itu sayang." Xander menatap Mora yang membuang muka.
"Ya ya ya." jawab Mora malas.
Sang dokter tersenyum, dia tau siapa itu Mora. Wanita cantik nan cerdas yang terkenal dengan sikap yang enerjik dan cekatan, satu-satunya pengusaha wanita yang terkenal agresif dikalangan para pengusaha muda yang mayoritas di dominasi oleh para pria.
"Sabar nyonya, saya tau anda adalah orang yang aktif dan tidak betah bersantai-santai. Tapi alangkah baiknya, nyonya mengikuti saran saya agar tidak ada efek buruk di kemudian hari." jelas dokter.
"Saya juga tau." ketus Mora.
Dokter pun pamit setelah memastikan semuanya baik-baik dan berjalan lancar.
"Xan, kapan kamu berangkat ke Afrika?" tanya Mora saat mereka tengah bersiap untuk beristirahat.
"Lusa, kenapa hm?" Xander mengusap kepala Mora yang bersandar di dadanya.
"Kamu gak lupa kan sama janji kamu?"
"Janji!!, janji apa?" canda Xander. Jujur saja sebenarnya dia masih belum tega membawa sang istri kesana.
"Jangan pura-pura."
"Pura-pura apa sih?"
"Oh jadi kamu mau ingkar janji gitu, ok. Pergi, tapi jangan pernah harap bisa ketemu lagi sama aku." ancam Mora yang sukses membuat Xander kalang kabut.
"Ngomong apa sih kamu?, aku gak akan pernah pergi tanpa kembali sama kamu. Ingat itu!!" Marah Xander mendengar ucapan Mora.
"Ya terserah."
"Sayang, dengar aku. Aku cuma bercanda kok, aku ingat semua yang pernah aku ucapin ke kamu. Tapi apa kamu yakin?"
"Xan, berapa kali aku ngomong sama kamu?. Apa aku harus..."
__ADS_1
"Ok, aku ngerti." sela Xander ucapan Mora, melihat sang istri dengan raut wajah yang sudah tidak mengenakan.
"Good, tapi ada hal lain yang mau aku omongin sama kamu."
"Apa itu?"
"Tapi, aku minta kamu jangan menolak dan jangan marah. Karena ini semua demi kebaikan kita." ucap Mora perlahan.
"Apa sih?, jangan macam-macam ya sayang. Aku gak mau sampai kamu kenapa-kenapa!"
"Tuh kan!, belum apa-apa udah ngegas. Ya udah deh aku gak jadi ngomong."
"Loh kok gitu!, aku gak ngegas cuma mastiin aja. Ayo bilang ada apa?"
"Gak ah, gak jadi." Mora membuang muka.
"Sayang, ngomong dong. Aku penasaran nih."
"Abis kamu marah sih."
"Gak, aku gak marah."
"Janji ya."
"Hm."
"Janji dulu."
"Ya udah kalau gak mau."
"Kok gitu sih!, iya deh iya."
"Iya apa?"
"Iya janji."
"Janji apa?"
"Janji gak akan marah."
"Nah gitu dong, dari tadi kan beres."
"Ya udah cepet ngomong." kesal Xander.
"Sabar dong!!,,,, em. Jadi gini, soal keberangkatan kita ke Afrika akan ada penambahan anggota yang akan ikut."
"What!!, maksudnya?"
"Iya,, jadi selain kita berdua. Ada dua orang lagi yang akan ikut."
"Hah!!, sayang. Tapi ini tugas rahasia, kenapa sampai orang luar tau?"
"Mereka bukan orang luar, mereka juga ditugaskan untuk itu."
__ADS_1
"Oh really?"
"Yes."
"Who's thats?"
Mora tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Xander "Dia Nina, mantan pelatih anggar kamu."
"Ohhh Nina, lalu satu lagi?"
"Hehe, yang satunya adalah Mark."
"Mark!!, siapa yang kamu maksud sayang?" Xander memicingkan matanya.
"Kamu tau siapa yang aku maksud."
"Jangan,,, bilang,,,, dia,,, Mark Lincoln."
"Yes, you right."
"WHAT!!, oh no no no."
"Tak ada protes, karena ini keputusan dari pimpinan kamu sayang."
"Jangan bercanda baby, pimpinan gak ada kasih tau aku tentang ini."
"Ada kok,, ini." Mora menunjukkan sebuah surat pada Xander.
Xander mengambil surat itu dan langsung membacanya, yang ternyata isinya adalah pemberitahuan penambahan anggota.
"Kenapa surat ini ada sama kamu?" tanya Xander penasaran.
"Kemarin waktu kamu pergi ke Apartemen kamu, surat ini datang. Aku penasaran apa isinya, jadi aku buka. Maaf ya sayang aku udah lancang buka surat penting seperti ini tanpa izin dari kamu, tapi bener deh aku cuma penasaran apa isinya, aku gak mau sampai itu tambah mempersulit kamu." jujur Mora yang merasa bersalah pada Xander.
Xander menarik nafas dalam-dalam menghadapi hal ini, jujur. Disatu sisi dia marah karena sang istri dengan secara sembarangan membuka sebuah surat penting seperti itu, tapi di sisi lain. Dia mengerti tentang kekhawatiran yang di rasakan oleh Mora.
"Ya udah, itu sudah terjadi. Tapi lain kali aku minta sama kamu, tolong jangan seperti ini. Aku takut kalau sampai pusat tau kamu sembarangan membuka segel amplop tersebut, kamu akan mendapatkan masalah nanti. Bahkan aku belum tentu bisaa membantu kamu, karena memang kamu melanggar prosedur." Xander memeluk erat tubuh Mora yang perlahan mulai kembali berisi, setelah sebelumnya sempat menurun karena faktor kesehatan.
"Iya, aku janji. Sekali lagi aku minta maaf, tapi aku minta sama kamu juga, tolong jangan pernah rahasiain apapun dari aku." Mora menyembunyikan wajahnya di dada sang suami.
"Iya sayang, sekarang kita istirahat. Kamu juga harus tetap jaga kondisi kamu ok."
"Yes i am, Capten."
"Dasar Bos Gila." Xander mencium gemas pipi Mora.
......................
......................
Lanjut
😘😘😘
__ADS_1