Boss Gila Ku

Boss Gila Ku
S2 - Chapter 80


__ADS_3

"Tidur sini aja ya"


"Apa?"


"Aku bilang, kamu tidur sini malam ini" ucap Sandi enteng.


"*Are you crazy?"


"Yes, im crazy because of you*."


"Dasar gila!, cepat buka pintunya. Aku mau pulang, aku udah gak ada urusan disini." bentak Serena.


"Enggak, aku gak akan biarin kamu pulang. Ntar kamu kabur Lagi trus hindarin aku lagi."


"Kabur!, maksudnya?"


"Terakhir kamu pergi dari sini tanpa pamit sama aku, kalau bukan kabur apa namanya?"


"Aku..." ucapan Serena terhenti karena ponsel Serena berdering.


"Ok, aku gak pulang malam ini. Tapi lepasin aku dulu, aku sesak nafas tau gak!. Gak sadar apa badan kamu tuh segede gaban, meluk aku kaya gitu kan engap." omel Serena.


Sandi lalu melonggarkan pelukannya, namun dia masih menggenggam erat tangan Serena. Dia benar-benar takut Serena akan pergi lagi darinya.


Serena mengambil ponsel dari dalam tasnya, namun deringnya Sudah berhenti. Tak lama ponsel itu berdering lagi, dia melihat nama di layar ponsel itu.


"Aduh mati deh gue." ucap Serena sebelum menjawab panggilan telepon itu. "Hallo"


"Sera, kamu dimana?" tanya Morens di seberang telepon.


"Maaf, aku tadi pulang duluan. Oh ya aku juga mau kasih tau, malam ini aku gak pulang ya."


"Kenapa?, emang lagi dimana kamu?, biar kakak jemput kamu."


"Eh enggak usah, aku tadi ketemu temen lama, dia ngajak aku ngobrol dan menginap di rumahnya." ucapku jujur.


"Temen kamu siapa?, emang kamu punya teman disini?, temen kamu cewek atau cowok?" cecar Morens.


"Ya..... Cewek lah." ucapnya pelan sambil melirik ke arah Sandi, yang terus memperhatikan dan mendengarkan percakapan Serena.


"Ser, jangan bohong. Kamu gak lagi sama Sandi kan." entah kenapa Morens merasa curiga kalau ada sesuatu antara Serena dan Sandi. Apalagi dia tau saat ini Sandi juga tidak ada di hotel, Karena Nitta mencari keberadaan Sandi dan bertanya pada Morens.


"Sa... Sandi, maksudnya tuan Sandi yang di hotel tadi. Ya enggaklah, aku aja gak kenal sama dia." jawab Serena sambil melihat ke arah Sandi yang sama-sama sedang menatapnya.


"Ya udah, tapi awas ya jangan dekat-dekat dengan Sandi."

__ADS_1


"Emang kenapa?"


"Pokoknya kakak gak mau kamu deket sama dia."


"I...iya." ucap Serena lirih sambil melihat sekilas Sandi yang masih tampak setia memandangi Serena.


Panggilan pun terputus, Serena memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya.


"Siapa?" tanya Sandi dengan mata memicing.


"Morens." jawab Serena jujur.


"Apa kamu ada hubungan dengan Morens?"


"Iya."


"Kamu tau kalau dia itu sudah menikah dan istrinya baru saja melahirkan." tanya Sandi dengan penasaran.


"Tau, bahkan aku menemani istrinya saat di rumah sakit."


"Trus tadi kamu bilang kalau kamu tidak pulang malam ini, apa kalian tinggal satu rumah?"


"Enggak, cuma dia selalu mengawasi dan memperhatikanku. Dia begitu menyayangiku begitupun aku."


"Ser, kamu yakin jadi simpanan Morens?. Apa aku benar-benar gak berarti buat kamu Ser?"


"Emang gitu faktanya kan."


Serena bangkit berdiri dihadapan Sandi dan menatap tajam Sandi penuh dengan amarah.


"Kamu pikir aku serendah itu!, kamu menganggap aku cewek murahan gitu, yang dengan gampangnya mau menjadi simpanan pria yang sudah beristri. Gitu maksud kamu!, aku gak nyangka otak kamu sedangkal itu sama aku."


Sandi ikut berdiri mengimbangi Serena.


"Kalau bukan simpanan, apa namanya. Seorang wanita yang mempunyai hubungan dengan pria beristri dan tinggal di lain atap."


"Cih." Serena tersenyum sinis sebelum melanjutkan perkataannya "Aku beritahu satu hal sama kamu, dan aku harap setelah ini gak ada lagi wanita-wanita lain yang dinilai dan difitnah sebelum mereka memberi tahu faktanya. Sebenarnya aku Serena Hadinata adalah adik dari Morens Hadinata."


"Apa... A...Adik dari Morens, kamu gak bercanda kan Ser?"


"Terserah kamu mau percaya atau gak, sekarang buka pintunya aku mau pulang."


Sandi terdiam tak percaya, dia sangat terkejut dan Benar-benar merasa bodoh, kenapa dia tidak berpikir ke sana dan malah menuduh Serena menjadi simpanan Morens.


"Sandi, aku bilang buka pintunya. Urusan kita sudah selesai, dan semoga kita gak akan ketemu lagi." bentak Serena.

__ADS_1


Sandi tersadar dari lamunannya, karena bentakan Serena.


"San, buka pintunya sekarang."


"Eh, enggak, aku gak bakal buka pintunya."


"Kamu egois, sekarang mau kamu apalagi. Kamu belum puas hina aku iya."


"Iya, aku emang belum puas dan gak akan pernah puas."


"Ternyata kamu itu laki-laki brengsek ya." cibir Serena.


"Ya, aku emang laki-laki egois, brengsek dan juga paling bodoh yang mencintai seorang wanita sampai gak bisa berpikir secara jernih dan lebih mementingkan emosi. Aku takut kehilangan wanita itu, sampai aku melakukan dan berkata hal-hal yang gak masuk akal, agar wanita itu gak pergi dari aku, dan wanita yang aku cintai itu bernama Serena Hadinata."


"Oh aku begitu tersanjung tuan Sandi, aku sangat terharu karena dicintai oleh seorang Sandi Abraham. Orang yang dengan mudahnya mengatakan tuduhan tanpa adanya bukti."


"Aku minta maaf Ser, aku memang bodoh. Kenapa aku gak kepikiran kalau kalian itu adalah adik kakak, kenapa aku malah berpikir kalau kamu itu adalah,,, Ser please maafin aku, aku gak mau kamu pergi ninggalin aku lagi. Cukup satu tahun ini aku cari kamu, aku kangen banget sama kamu. Aku cinta kamu Serena."


Baru saja Serena akan menjawab perkataan Sandi, namun niatnya dia urungkan karena ponsel milik Sandi.


Sandi melihat layar ponselnya dan berdecak malas saat tau siapa yang menelpon, dengan sangat terpaksa Sandi menjawab telepon itu.


"Hallo."


"....."


"Aku ada urusan mendadak, kamu pulang saja sendiri naik taksi. Kalau perlu kamu telpon rumah minta supir Menjemputmu."


"......"


"Kamu gak perlu tau, dan bilang sama ibu malam ini sampai 3 hari ke depan aku tidak pulang. Aku keluar kota ada urusan pekerjaan mendadak."


Telpon langsung diputus oleh Sandi tanpa menunggu jawaban dari sebrang sana.


"Udah!!, sekarang buka pintunya aku mau pulang. Lebih baik kamu urus saja wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrimu itu."


"Kita duduk dulu ya, aku rasa disini banyak kesalah pahaman diantara kita berdua. Kita harus bicara secara tenang sampai semuanya jelas, aku gak mau terus menerus dalam salah paham seperti ini. Aku mau kangen kangenan sama kamu." ucap Sandi mencoba menahan Serena agar tidak pergi.


Serena diam saja tidak menjawab sepatah katapun. Dia hanya mengikuti Sandi saat dirinya kembali ditarik untuk duduk di sofa, bahkan doa tidak protes saat Sandi mendudukan nya di pangkuan Sandi.


"Ser, aku kangen."


Sama bang Sandi, othor juga kangen bingits. Kamu kenapa sih kok ngomongnya nyelekit gitu, aku sebel deh sama kamu.


TBC

__ADS_1


LOVE U ALL MMMUUUAAACCHHH


💝💝💝💝💝


__ADS_2