
"Pagi sayang." sapa Xander dengan senyum menawan.
"Hm." jawab Mora seraya keluar dari pintu gerbang rumahnya.
Xander memang sengaja menjemputnya pagi ini, sebenarnya Mora sudah menolak, tapi Xander tidak bisa di ganggu gugat.
"Kok cuma hm sih." protes Xander seraya mencium pipi Mora sesaat berhenti di hadapannya.
Mora memutar bola matanya mendengar protes dari Xander "Maksud aku hm ya pagi sayang, cuma tadi iklan sedikit kepotong."
"Bisa aja ngelesnya kaya bajai kamu."
"Mang kamu udah ngerasain naik bajaj?"
"Belum sih."
"Kamu mau ngerasain gak naik bajaj?" tawar Mora dengan wajah menyeringai.
"Gak ah, gak tertarik. Aku lebih tertarik buat nyoba naikin kamu." jawab Xander berbisik dan meniup telinga mora lembut.
Mora memalingkan wajahnya menahan malu sekaligus kesal, bisa-bisanya pagi-pagi begini Xander sudah mulai mengaktifkan mode gombal. "Cabul."
Xander terkekeh dan membuka pintu mobil mempersilakan Mora untuk masuk, setelahnya dia menuju bagian kemudi dan melajukan mobilnya.
"Kita sarapan dulu ya." ajak Xander.
"Boleh."
Xander memberhentikan mobilnya di sebuah kedai 24 jam untuk menikmati sarapan lebih dulu.
Setibanya di dalam, mereka langsung memesan 2 porsi roti bakar dan 2 gelas kopi dengan varian yang berbeda.
"Xan,,, kamu udah terima laporan dari Oxen tentang kolega baru kita kemarin?" tanya Mora.
"Udah, tapi aku belum sempat liat spesifikasi laporan itu."
"Em, ya udah gak papa. Trus hari ini kamu ada rencana keluar gak?"
"Kenapa?"Xander menyeruput kopi yang ada di mejanya.
" Gak!, belakangan ini banyak banget kerjaan dan juga kejadian yang menguras tenaga dan pikiran. Jadi aku mau sedikit refreshing, aku mau berkuda hari ini mumpung gak ada meeting penting. Lagian udah lama aku gak Quality time. "
"Emm,,, sebenarnya sih aku ada janji mau ketemu sama Nina." ucap Xander ragu-ragu.
"Nina!!, mau ngapain?" tanya Mora sedikit ketus.
"Ada deh.." goda Xan melihat raut wajah tidak senang Mora.
"Ya udah sih kalau gak mau ngomong, gak penting juga. Aku bisa pergi sendiri kok." Mora membuang muka acuh.
"Jangan sendiri, ntar aku gak tenang lagi."
"Dari dulu juga aku sendiri sebelum kamu ngerecokin aku terus. Kalau kamu mau pergi ya pergi aja."
"Idih ngambek nih ye, cemburu ya." goda Xander seraya mengedip-ngedipkan matanya sebelah.
__ADS_1
"Sorry ya aku cemburu, yang biasanya cemburu siapa?"
"Ya, ya aku ngaku kalah. Sebenarnya, aku akan ke Perancis lusa."
"Lusa!!"
"Ya."
"Sama Nina."
"Hm."
"Ada urusan apa?"
"Aku gak bisa cerita disini."
"Ya udah, ntar aku tanya Zemi apa dia bisa ikut main sama aku." Mora berucap pasrah.
"Maaf ya, aku benar-benar gak tenang nih. Bisa gak lain kali aja, ntar aku temenin." pinta Xander. Entah mengapa kali ini dia merasa sangat berat membiarkan Mora pergi tanpa pengawasan darinya.
"Its ok, aku ngerti kok. Tapi awas ya kalau kamu macem-macem disana." Mora menatap tajam Xander.
"Mana mungkin aku berani macam-macam sama induk semang."
"Bagus."
"Ya udah yuk."
...****************...
Sementara di belahan dunia lain
"Alhamdulillah udah banyak kemajuan." Sandi mengucek matanya yang baru saja terbangun dari tidur.
"Syukurlah, nih papih sarapan dulu. Tadi aku mampir beli makanan buat papih."Mariene memberikan sekotak makanan yang dia bawa untuk Sandi.
" Makasih sayang."
"Sama-sama."
"Maaf ya sayang, karena masalah ini kamu jadi harus kehilangan kontrak kerja kamu." sesal Sandi menggenggam tangan Mariene.
"Its ok pih, Sebenarnya aku juga ada niat untuk berhenti jadi model dan membuka agensi sendiri."
"Itu bagus sayang."
"Permisi." tiba-tiba terdengar suara perawat yang datang untuk pemeriksaan rutin.
"Ya sus."
"Waktunya pemeriksaan rutin tuan."
"Silahkan."
Setelah selesai memeriksa, sang perawat keluar dari ruangan. Tak lama kemudian dokter jaga masuk ke ruangan.
__ADS_1
"Selamat pagi tuan Sandi."
"Selamat pagi dokter."
"Perkenalkan saya dokter Reiner, hari ini saya akan menggantikan dokter yang menangani nyonya Serena. Karena hari ini beliau berhalangan hadir." ucap dokter yang baru saja masuk itu."
Sandi memicingkan matanya, benarkah ini dokter pengganti. Kenapa dokter yang sebelumnya tidak memberitahukan terlebih dahulu.
"Maaf, saya akan bertanya kepada beliau terlebih dahulu. Dokter tidak keberatan bukan?"
"Silahkan tuan."
Sandi mengambil ponselnya dan mencari kontak yang dimaksud. Setelah beberapa kali panggilan terdengar suara sahutan dari sana.
"Hallo tuan Sandi."
"Hallo dokter, apa anda hari ini tidak hadir ke rumah sakit. Dan apa dokter juga menyarankan dokter Reiner sebagai pengganti?" ucap Sandi sambil melirik ke arah dokter Reiner yang sedang menatapnya sambil tersenyum.
"I... Iya tuan. Itu be...Benar."
jawabnya sedikit bergetar.
"Kenapa suara dokter gemetar begi tu?" tanya Sandi menyelidik.
"I... Ini saya,,, sedang tidak enak badan tuan."
"Apa serius?"
"Tidak tuan, hanya kelelahan penyakit tua."
"Kalau begitu nanti saya akan ke tempat dokter."
"Tidak perlu tuan, maaf. Saya harus beristirahat."
"Oh baiklah, sebaiknya anda istirahat. Terima kasih atas informasinya, maaf sudah mengganggu anda dokter."
"Tidak apa tuan."
Panggilan pun terputus.
"Bagus, kalau kau macam-macam kau akan tau akibatnya. Keluargamu, ada di tanganku." ucap seseorang pada dokter yang menangani Serena.
"Tapi jangan sampai keluargaku terluka sedikitpun, atau aku akan melaporkan semuanya."
"Kau mengancamku!!, hahahaha." ucap pria yang tak lain adalah Bernard.
...----------------...
...----------------...
Part selanjutnya akan diceritakan tentang siapa Bernard dan hubungannya dengan Serena dan Mora.
So stay tune ya.
TBC
__ADS_1
LOVE U ALL MMMUUUAAACCHHH
💜💜💜