Boss Gila Ku

Boss Gila Ku
S3 - Chapter 55


__ADS_3

"Kami disini."


"Ya Allah, apa aku mimpi dad." Chintya menatap Morens yang merengkuh pundaknya.


"Its real mom."


"Oh my god. Mora." Chintya berlari menghampiri Mora, kemudian dia memeluk erat tubuh sang putri yang sudah 4 tahun ini berpisah.


"Mom..." keluh Mora, karena Chintya menciumi seluruh wajahnya tanpa terlewat seperti anak kecil.


"Mommy kangen sayang."


"Aku juga, tapi mom membasahi wajahku. Liat, make up ku luntur kena liur mommy." canda Mora.


Chintya mencubit lengan kiri Mora. "Dasar anak nakal, masih mikirin make up. Kamu gak sayang sama mommy, kami sangat khawatir dan mencemaskan keadaan kalian. Tapi kamu, lebih mementingkan make up. Mom kecewa sama kamu." Chintya terisak karena ucapan Mora.


"Sssttt, im sorry mom. Aku bercanda, kami juga sangat rindu dengan mom dan dad. Dengan Zemi dan yang lainnya. Maaf mom, karena udah bikin kalian cemas." Mora memeluk tubuh Chintya yang sudah terlihat sedikit menua.


"Udah-udah, kalian masuk dulu." sela Morens menghampiri mereka.


"Oh iya mommy lupa, kalian pasti capek. Tapi, apa kalian kenal dengan anak ke... Loh mana anak kecil tadi?" Chintya menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan anak kecil tadi.


"Itu." tunjuk Morens ke arah taman, dimana Eren sedang berinteraksi dengan Dany. Seekor macan jantan keturunan dari Rossi.


"Oh ya ampun. Apa dia itu?..."


"Yes mom, dia anak kami. Namanya Eren Cloud Manson." jawab Xander seraya mencium punggung tangan Chintya dan Morens.


"Oh ya Allah, pantas saja dia begitu mirip Mora kecil. Sangat lincah dan kritis, tapi wajahnya lebih dominan padamu." jawab Chintya menatap Xander.


Xander hanya tersenyum menanggapi ucapan dari ibu mertuanya itu. Kemudian mereka masuk kedalam rumah, sementara Eren asik bermain dengan Dany yang entah mengapa mereka langsung terlihat akrab.

__ADS_1


Mereka duduk di ruang keluarga, Dimana Chintya duduk berdampingan dengan Mora. Dia masih sangat merindukan putri kesayangannya itu, terbukti sejak datang dia tidak melepaskan Mora sedikitpun. Sedangkan Morens duduk di sofa tunggal, dan Xander di sofa yang lain.


"Dad, tolong telpon Zemi. Suruh dia kesini, dan jangan lupa kabari mommy dan daddy Richard." pinta Chintya pada suaminya.


"Iya sayang." jawab Morens sembari berjalan ke ruang baca untuk mengambil ponselnya.


"Oh ya, mom mau tau kenapa 2 tahun terakhir ini kalian gak ada kabar sama sekali. Bahkan Nina dan Mark juga gak bisa kasih tau keberadaan kamu, mom benar-benar cemas sama kalian." tanya Chintya.


"Em,,, begini mom. Awalnya kami tiba disana menuju rumah yang sudah disediakan khusus untuk kami, memang di tahun pertama misi kami berjalan dengan lancar. Ya walaupun memang situasi disana sangat membahayakan.


Sampai dimana, mereka tau markas dan tempat tinggal kami selama disana. Untuk mengacaukan pencarian mereka, kami pindah dari sana dan sengaja memisahkan diri. Aku dan Mora, sedangkan Mark bersama Nina.


Kami bersembunyi di atas bukit dan hanya berkomunikasi lewat saluran telepon lokal yang hanya bisa digunakan disaat tertentu tanpa tau lokasi kami masing-masing, aku dan Mora berhasil mengelabui mereka serta menghancurkan camp mereka satu persatu.


Di awal tahun kedua sebenarnya kami ber empat sudah berniat untuk pulang ke tanah air, namun ternyata kami mendapat laporan bahwa keadaan kembali memanas dan mereka memblokade akses menuju ke bandara ataupun pelabuhan. Apapun yang bisa membawa kami keluar dari negara itu, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke tempat persembunyian kami semula.


Di saat itu, Mora selama 2 Minggu terus saja merasakan tidak enak badan. Dia berkata perutnya terus saja mual dan kepalanya pusing. Aku sudah mencoba segala pengobatan alami yang aku tau, karena selain jarak ke rumah sakit sangat jauh, keadaan juga tidak mendukung kami untuk kesana.


Tapi aku bersyukur, setelah itu kondisi Mora jauh lebih baik. Dia bahkan lebih terlihat segar dan aktif, selama hamil Mora sama sekali gak menunjukan adanya gejala yang biasa disebut morning sickness dan sebagainya.


Jadi aku memutuskan untuk mengundurkan kepulangan kami ke tanah air, meskipun saat itu kondisi sudah mulai kondusif. Saat Mark dan Nina memutuskan untuk kembali, aku cuma berpesan padanya untuk mengatakan bahwa keadaan kami baik-baik saja.


Seminggu yang lalu pihak intelijen pusat, mengutus suruhannya untuk menjemput kami kembali kesini. Dan akhirnya kami bisa pulang dengan selamat." jelas Xander panjang lebar.


"Ya Tuhan!!, seperti itu penderitaan kalian. Bahkan Mora harus menjalani kehamilan di kondisi yang sulit." Chintya menangis mendengar cerita dari Xander.


"Its ok mom, disana gak terlalu buruk kok. Aku lebih banyak berinteraksi dengan alam luar dan juga hewan liar." sela Mora.


"Oh my God."


"Itu sebabnya Eren langsung akrab dengan Dany." timpal Mora lagi.

__ADS_1


"Oh ya ngomong-ngomong dimana cucuku yang unik itu?, Daddy juga kok lama banget gak muncul lagi." Chintya mencari keberadaan suami dan juga cucunya.


"Kami disini." jawab Morens yang tengah berjalan sambil menggandeng tangan imut Eren.


"Im hele Oma." jawab Eren dengan suara cadelnya.


"Aku udah telpon Zemi, dia masih di luar kota. Mungkin ntar sore sampai. Kalau untuk mom Lexi dan daddy Richard mereka gak bisa datang, aku melarang mereka kesini. Kau taukan sayang bagaimana kondisi mereka." ucap Morens menjelaskan pada Chintya.


"Yah i know. Aku juga cuma minta kamu kasih kabar ke mereka, supaya mereka gak khawatir lagi."


"Its ok dad, memang sebaiknya mereka istirahat aja. Biar kami yang kesana." jawab Xander.


"Mommy." panggil Eren pada Mora.


"Yes, my prince."


"Can i take Dany?" tanyanya lagi.


"For what honney?"


"I want making my partner."


"Oh my God." jawab Mora dan Chintya bersamaan seraya menepuk kening mereka masing-masing. Sedangkan Morens dan Xander hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala mereka.


...----------------...


...----------------...


Next


😘😘

__ADS_1


__ADS_2