
"Im sorry sir."
"Kenapa dengan putri saya?" Morens mengguncang sedikit bahu dokter yang menangani Mora.
"Begini tuan!!, putri anda memang sudah melewati masa kritis. Beruntung sekali karena dia sempat mendapatkan pertolongan pertama disaat yang tepat, dan setau saya. Cara seperti itu hanya bisa dilakukan oleh para tentara terlatih.
Namun ada sedikit berita buruknya, karena terlalu banyak mengeluarkan darah dan mengali hidrasi akut. Nona Mora untuk sementara tidak dapat berjalan, karena pengaruh dari asupan pendukung bagi tubuhnya tidak tercover dengan baik selama beberapa hari ini." ucap dokter menjelaskan.
"Sampai berapa lama Mora akan mengalami kelumpuhan?"
"Tergantung dari fisik dan tekad nona Mora sendiri untuk sembuh, juga dukungan dan terapi yang harus di jalankan oleh nona Mora."
"Tolong lakukan yang terbaik untuk putri saya."
"Itu pasti tuan, kalau begitu saya pamit dulu. Sebentar lagi nona Mora akan di pindahkan ke ruang perawatan."
"Terima kasih."
"Sama-sama tuan."
Setelah kepergian dokter, tak lama kemudian terdengar suara derap langkah kaki yang sedikit terburu-buru ke arah dimana Morens berada saat ini.
"Om, bagaimana kondisi Mora?. Apa dokter sudah keluar dari ruangan itu." tunjuk Xander pada ruang IGD.
"Sudah."
"Terus!!, kondisi Mora sekarang bagaimana?"Xander mencecar Morens dengan pertanyaan.
Morens tersenyum sekilas melihat kekhawatiran pemuda yang sangat mengkhawatirkan putrinya ini. "Santai nak, duduklah dulu." Morens mengajak Xander untuk duduk.
"Maaf om, tapi saya benar-benar khawatir dengan Mora." Xander mengusap wajahnya dengan kedua tangan yang bertumpu pada kedua pahanya.
"Mora sudah ditangani oleh dokter, dan sebentar lagi dia akan dipindahkan ke ruangan perawatan."
"Lalu keadaannya bagaimana?"
Morens menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Xander, dia menceritakan apa yang dikatakan oleh dokter tadi.
"Tenang saja om, saya yakin Mora pasti bisa cepat pulih. Dia adalah wanita spesial, dia kuat dan tangguh. Saya akan terus menemani dan membantunya dalam proses penyembuhannya nanti."
__ADS_1
"Aku tau... Apa aku boleh bertanya sesuatu?" Morens menepuk bahu kanan Xander.
"Tentu!!, apa yang mau om tanyakan?" Xander mengalihkan pandangannya dan menatap Morens dengan yakin.
"Apa sebenarnya niatmu mendekati Mora?"
"Niat... Saya tidak punya niat apa-apa om."
"Kalau kau tidak punya niat tertentu, kenapa kau mau menjadi asisten pribadi Mora?. Aku tau siapa kau sebenarnya?, dengan latar belakangmu yang sangat hebat, aku rasa kau tidak harus menjadi seorang asisten untuk bisa mendapatkan uang.
Lagi pula, warisan dari keluargamu kurasa itu lebih dari cukup dan bahkan lebih dari yang dimiliki oleh Mora saat ini. Kalau tidak ada niat tertentu, kau pasti punya alasan lain kan!"
"Baiklah, saya rasa saya tidak bisa lagi menutupi jati diri saya yang sebenarnya dari anda." Xander menghela nafas sejenak "Saya memang mendekati Mora karena satu kasus kriminal yang menyangkut dirinya, saya berencana menjadikan Mora sebagai umpan agar pelaku yang sebenarnya keluar dari markasnya." jelas Xander pada Morens.
"Apa kau sudah bosan hidup?" Morens mencengkeram kerah baju Xander.
"Saya akui saya salah, tapi itu dulu. Setelah beberapa kali bertemu dengan Mora secara tidak sengaja, sekarang apa yang saya rasakan berubah, dan niat saya sekarang adalah karena saya benar-benar menyayangi dan ingin melindungi Mora dari orang yang berniat jahat padanya." ucapa Xander sesal.
"Lalu sekarang apa yang kau rasakan?"
"Saya sangat mencintai dan menyayangi putri anda tuan, saya bertekad untuk menjadikan Mora sebagai ratu hati saya. Ya walaupun sampai saat ini, kata resmi belum pernah terlontar dari mulut putri anda yang galak itu."
"Oh benarkah!!"
"Ya, dan aku berpesan padamu. Kau harus bersiap-siap menghadapi 2 macan betina nanti."
"Apa ini kode alam?" Xander tersenyum manis.
"Aku mempercayakan Mora padamu, aku tau kau bukan orang jahat. Karena baru padamu Mora bisa sangat penurut dan bersikap manja. Tapi ingat!!, jika sampai Mora merasa tersakiti dan menangis karenamu, kau pasti tidak akan bisa melihat matahari lagi." ucap Morens tegas seraya menatap tajam mata Xander.
"Aku jamin hal seperti itu gak akan pernah terjadi."
"Ku pegang ucapanmu."
"Silahkan.... Oh ya om, bagaimana dengan nyonya Serena dan keluarganya?, apa mereka baik-baik saja?" Xander baru teringat tentang keluarga Abraham yang kemarin juga disekap di lokasi yang berbeda.
"Keadaan Sera masih kritis, untung saja Asgar masih sempat memberikan penawar racun pada tubuh Sera, sehingga bisa memperlambat penyebaran racun lebih dalam. Namun sayangnya!!!" Morens menjeda ucapannya.
"Sayangnya kenapa om?"
__ADS_1
"Kini Asgar dan Sandi juga terluka." Morens tertunduk lesu.
"Ya Tuhan!!!, lalu siapa yang menemani mereka disana, jika om ada disini?"
"Ada Mariene disana, aku tidak bisa tenang sebelum memastikan keadaan Mora juga baik-baik saja. Jadi aku memutuskan untuk menyusul kalian dan menitipkan mereka pada Mariene."
"Kalau begitu, lebih baik om menemani nona Mariene saja. Siapa tau dia butuh bantuan om, biar saya yang menjaga Mora disini."
"Baiklah." Morens berdiri seraya menepuk pundak Xander "Aku titip Mora padamu." Morens berjalan meninggalkan rumah sakit tempat Mora dirawat bersama 2 orang pengawalnya.
Setelah kepergian Morens, beberapa perawat mendorong ranjang Mora untuk di pindahkan ke ruang perawatan. Xander dengan sigap mengikuti kemana perawat itu membawa Mora.
Begitu tiba di kamar rawat, para perawat meninggalkan ruangan dan menyisakan Xander dan Mora yang masih setia memejamkan mata.
Xander mengamati wajah cantik Mora yang nampak pucat dan sedikit lebih kurus, dia mengecup kening wanita itu sangat lama.
"Baby, bangunlah. Kalau kamu gak bangun, siapa yang akan memarahiku dan berkelahi denganku. Kau tau sayang, aku sangat cemas melihatmu seperti ini, lebih baik aku saja yang berada di posisimu sekarang.
Lagi pula, apa kamu gak takut!. Kalau kamu kelamaan bangun, Nina bakal godain aku terus, aku kan juga bisa khilaf kalau Nina godain aku terus.
Bangun ya sayang, aku disini selalu menunggumu. Love U darling."
Setelah puas menikmati wajah Mora dan bicara padanya, Xander memilih untuk duduk di sofa yang berada di ruang rawat VIP yang sudah di pesan oleh Morens sebelum dia pergi.
Xander sedikit merebahkan diri, sebenarnya dia juga amat merasa kelelahan. Setelah dari Perancis dan tiba di Amerika, Xander langsung bergegas mencari informasi tentang keberadaan Mora dan keluarga Abraham.
Bahkan hingga saat ini, dia sama sekali belum beristirahat. Tanpa terasa dia terlelap di sofa, dan saat dirinya terbangun, dia tersadar bahwa kini dirinya tidur dengan menggunakan selimut.
Dia melihat ke arah ranjang, dan betapa terkejutnya dia dengan apa yang dia lihat.
...----------------...
......................
TBC
LOVE U ALL MMUUAACCHH
😘😘😘
__ADS_1