Boss Gila Ku

Boss Gila Ku
S3 - Chapter 43


__ADS_3

Maaf ya man teman, setelah sekian purnama dan tujuh rembulan. Othor baru menampakan wujud kembali, othor baru mendapat petuah setelah semedi di gua tujuh duda.


Secepatnya othor akan back ke dunia perhaluan mengobati rindu keuwuan Mora dan Xander. Makasih yang masih setia menunggu mereka up lagi.


Yuk ah capcus👇👇👇


...----------------...


Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah sakit. Xander bergegas membawa tubuh lemah Mora yang sudah mulai cukup membaik karena pertolongan pertama yang sempat diberikan oleh Xander sebelumnya.


Sebagai tentara elit, Xander harus bisa memberikan pertolongan pertama pada keadaan darurat seperti itu dengan bahan seadanya yang terdapat disekitarnya. Hal tersebut merupakan pencegahan agar dapat membantu bertahan dalam situasi darurat dan genting.


Para tim dokter segera membawa Mora ke ruang IGD untuk mendapatkan pertolongan secara intensif, Xander dengan pakaian yang sudah penuh dengan noda darah tampak tak menghiraukan tatapan para pengunjung lain rumah sakit.


Dia sangat merasa cemas akan kondisi wanita yang sangat dicintainya itu, dia mondar-mandir di depan pintu ruang IGD tempat dimana Mora sedang di tangani.


Sebuah tepukan tangan di bahu mengalihkan kegundahan Xander untuk sementara "Tenanglah, aku yakin Mora pasti baik-baik saja." ucap Morens mencoba menenangkan Xander.


Morens juga sebenarnya sangat khawatir atas keadaan putri tercintanya itu, hanya saja dia mencoba berpikir positif bahwa Mora akan baik-baik saja.


"Tapi om, aku takut..."


"Jangan takut, om yakin Mora selamat. Karena Mora itu kuat." sela Morens ucapan Xander.


"Ya, om benar. Mora itu wanita hebat dan kuat, dia itu istimewa." Xander tersenyum sekilas.


"Kalau begitu, lebih baik kamu pulang dulu."


"Gak!!, aku gak bisa pergi dari sini. Aku harus menemani Mora." tolak Xander.


"Ada aku, aku ayahnya. Aku yang akan menjaganya."


"Tapi om.."


"Dengar nak, kamu pulang dulu. Bersihkan dulu dirimu, kamu gak mau bukan!, kalau sampai saat Mora sadar, dia lihat penampilan kamu yang kacau kaya maling ketangkep warga terus digebukin beramai-ramai. Pasti gak mau kan!!, jadi pulanglah dulu. Bersihkan diri dan beristirahat sejenak, kalau ada sesuatu om pasti akan kasih tau kamu." rayu Morens. Dia tahu bahwa Xander pasti sangat lelah, karena dari Perancis dia langsung terbang ke Amerika untuk mencari Mora.


"Baiklah om, aku pulang dulu. Tapi kalau ada sesuatu, langsung kasih tau aku ya."


"Siap anak muda."


Setelah Xander pergi, kini tinggal Morens dan 2 orang pengawal yang menemani Mora di rumah sakit. Tak lama kemudian, ponselnya berdering dan tertera nama IBU NEGARA disana.

__ADS_1


Morens menghela nafas panjang sebelum menjawab panggilan itu, dia tau. Sepintar apapun dia menutupi tentang Mora, istrinya itu pasti akan tau.


Memang benar apa yang orang katakan, insting seorang ibu sangat tajam. Dia dapat merasakan ada sesuatu hal buruk yang menimpa anaknya, seperti saat ini, Chintya menelpon disaat yang tepat saat dia berada di tempat yang sangat tidak ingin mereka datangi.


"Hallo mom." sapa Morens lembut.


"Lagi dimana?" tanya Chintya to the point.


"Aku..."


"Iya!!, kamu dimana?" tanyanya tidak sabar.


"Aku,, di hatimu."


"Dad!!, gak usah mengalihkan perhatian. Jawab aku, kamu dimana dad?. Mora mana?"cecar Chintya. Karena memang Mora beralasan pergi ke Amerika karena urusan bisnis. Sedangkan Morens mengatakan bahwa dia akan mengunjungi Serena disana.


Namun Chintya merasa ada yang disembunyikan dari mereka semua, tentang kepergian Serena yang katanya berlibur. Tentang Mora dengan bisnis yang mendadak, juga dengan Morens yang mengatakan ingin bertemu Serena namun tidak bersedia mengajak dirinya untuk ikut menemui adik iparnya. Juga tentang sang ayah mertua dan sang mantan asisten yang sampai harus turun tangan menghandle pekerjaan Mora di kantor.


Dengan sedikit rayuan maut dan ancaman kejam, akhirnya sang mertua dan sang mantan asisten mau mengatakan apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Richard dan Roby dengan terpaksa harus mengatakan kebenaran pada Chintya, karena jika tidak. Dia akan melaporkan pada para pawang mereka, soal Chintya yang pernah melihat kedua mantan playboy ini tengah merayu 2 orang gadis cantik pelayan di salah satu restoran.


Saat itu, Chintya tengah berbelanja kebutuhan sehari-hari di salah satu pusat perbelanjaan. Saat itu pula dia melihat 2 buaya tua sedang mencari mangsa daun muda pelayan restoran. Meskipun mereka berdalih, itu hanya gurauan keisengan semata ketika menunggu relasi bisnisnya. Namun, tetap saja itu bisa dijadikan sebagai kartu As untuk mendapatkan apa yang dia mau.


"Gak usah bohong. Aku tau kamu lagi sama Mora kan!!"


"Oh ya,,, Mora lagi rapat. Aku lupa." kilah Morens.


"Dad!!, mau sampai kapan kamu bohong?"


"Bohong!!, soal apa?"


"Kamu pikir aku itu bodoh ya!!, insting seorang ibu tuh kuat. Kamu tega sembunyikan hal besar gitu dari aku." ucap Chintya sedikit meninggi.


"Gak gitu swety. Mora yang meminta aku supaya gak kasih tau kamu, dia gak mau bikin kamu cemas."


"Dan kamu turutin itu!!, apa kamu gak mikirin perasaan aku kaya gimana?. Kalau sampai terjadi sesuatu sama Mora dan aku gak tau, kamu gak mikirin gimana menyesalnya aku nanti. Kenapa kalian semua jahat." hardik Chintya dengan diiringi Isak tangis.


Mendengar istrinya menangis, Morens merasa sangat bersalah. Dia baru sadar apa yang dikatakan oleh sang istri itu memang benar adanya, kenapa dia tidak bisa berpikir sampai kesana.


"Maaf mom, maafin aku. Kami gak ada niat untuk sembunyikan apapun dari kamu, kami cuma gak mau bikin kamu khawatir."

__ADS_1


"Kenapa cuma aku?, bahkan mom Lexi juga tau tentang ini semua."


"Iya swety, aku salah. Aku minta maaf, gak seharusnya aku ikutin ucapan Mora. Maafin aku ya, udah jangan nangis. Aku jadi gak tenang disini."


Chintya menarik nafas berkali-kali untuk menstabilkan emosinya "Terus!!, bagaimana kondisi Mora sekarang?"


Morens menghela nafas panjang tanpa menjawab pertanyaan Chintya.


"Dad!!"


"Aku minta kamu tenang ya."


"Emang Mora kenapa?" tanya Chintya cemas.


"Kamu tenang dulu."


"Mora kenapa dad?"


"Tenang sayang!, kalau kamu gak tenang aku gak mau ngomong nih." ancam Morens.


Chintya menghembuskan nafas kasar "Ya ok aku tenang. Sekarang cepat bilang, Mora kenapa?"


Dengan berat hati dan berat badan, akhirnya dan ujungnya. Morens mengatakan apa yang terjadi dengan Mora dan kondisi Mora sekarang, begitupun dengan yang terjadi pada Serena adiknya.


"Astaghfirullah. Masalah seberat ini dan kalian gak ada yang kasih tau aku. Tega!!"rutuk Chintya.


"Iya mom, maaf."


Tak berselang lama, pintu ruang IGD terbuka dan menampilkan dokter dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan.


"How about my daughter?" tanya Morens penasaran.


"Im sorry sir."


...----------------...


...----------------...


TBC


LOVE U ALL MMUUAACCHH

__ADS_1


😘😘😘


__ADS_2