Boss Gila Ku

Boss Gila Ku
CHAPTER 40


__ADS_3

Siang ini Chintiya sudah menyiapkan menu untuk makan siang sang suami yang akan dia bawa ke kantor.


"Pa Di." panggil Chintiya pada pa Diman supir pribadinya.


"Iya non"


"Siapkan mobil ya, saya mau ke kantor bapak."


"Siap non"


10 menit kemudian Chintiya telah siap dan menghampiri pa Diman yang sudah stand by di samping mobil. Mereka pun segera pergi karena waktu sudah menunjukkan jam 11 siang.


Selama di mobil Chintiya mengobrol dengan pak Diman.


"Oh ya Pak, bukannya anak bapak di desa sudah SMA ya pak?"


"Iya non"


"Bapak gak ada niat mau nikah lagi gitu?"


"Enggak non, mang kenapa?"


"Gak papa sih, cuma biasanya kan cowok itu gak bisa tahan kalau hidup sendiri"


"Saya gak kepikiran non, saya cuma mau fokus nyekolahin Ninis. Apalagi sekarang saya sudah tua, capek kalau mau rumah tangga lagi non"


"Bagus deh, kalau pa Di berpikir seperti itu. Trus Ninis kan sudah mau lulus SMA, kira-kira mau lanjut kuliah apa gak?"


"Kayanya gak deh non, bapak gak ada biaya. Sudah sampai SMA saja bapak udah bersyukur"


"Loh sayang pak, kalau gitu suruh Ninis kesini nanti saya yang bayar kuliahnya"


"Eh jangan non, saya gak mau ngerepotin. Kalau memang dia mau kuliah biar sambil kerja"


"Ya pas itu, saya rencana ada buka toko. Anggap saja dia kerja sama saya, dan biaya kuliah itu gajinya. Jadi bapak juga gak perlu khawatir sama keadaan Ninis"


"Tapi non..."


"Jangan ditolak ya pak, soalnya saya gak punya adik Atau kakak yang bisa saya bantu. Jadi saya anggap Ninis itu jadi adik saya"


"Terima kasih non"


Akhirnya mereka sampai di RENS CORP, Chintiya berdiri tepat di depan pintu masuk gedung itu, sesaat dia menarik nafas sebelum masuk.


"Tiga minggu yang lalu aku resmi tidak bekerja lagi disini dan sekarang aku kembali masuk ke sini tapi dengan status yang berbeda, kenapa rasanya aneh ya. Huft" Chintiya bermonolog.


"Selamat siang, tuan Morens ada gak?"sapa Chintiya kepada Amel si receptionis dengan tersenyum.


"Eh siang mbak, eh bu non. Aduh kok blepotan gini sih ngomong, tuan Morens ada di ruangan kok dia gak ada meeting di luar. Langsung ke dalam saja"


Chintya terkekeh "Panggil kaya biasa aja, aku geli deh kamu panggil ibu, Secara aku kan belum punya anak"


"Tapi"


"Udah santai aja kali, aku ke dalam dulu ya"


"Iya mbak"


Mereka sudah tau kalau sekarang Chintiya itu adalah istri dari boss mereka, mereka hanya agak sedikit heran kalau boss mereka bisa menikah dengan Chintiya. Ya memang Chintiya itu cantik, ramah, simple, baik tapi dia terkesan agak galak dan tomboi.


Chintya langsung naik ke lift dan menekan tombol angka 10, dimana disitu terdapat ruangan sang boss. Setelah sampai di depan ruangan itu Chintiya mengetuk pintu.


"Masuk" saut Morens tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang dia pegang.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Morens sambil tetap fokus.


Merasa tidak ada jawaban, akhirnya Morens mengangkat kepalanya dan dia langsung tersenyum senang kemudian melangkah mendekat ke Chintiya.


"Sayang, kamu sudah datang?"sapa Morens.


"Iya, apa aku mengganggu?"


"Oh no sweety, i waiting for you" mengecup pipi Chintiya.


"Lier." cibir Chintiya.


"Kamu ya, bener-bener deh gak bisa di gombalin" Morens menarik Chintiya ke sofa dan mendaratkan di pangkuannya.


"Aku gak butuh di gombalin, udah bosen. Aku butuhnya yang nyata gak pake omongan"


Morens menyeringai "Kamu maunya langsung tindakan gitu!"


Chintya mengangguk, Morens tidak menyia-nyiakan dia langsung menyeruduk bibir Chintiya dan ******* bibir itu dengan lembut. Chintya yang mendapat serangan mendadak merasa tidak siap dan kewalahan, setelah beberapa lama Morens melepaskan ciumannya dengan senyum yang mendamba.


"Bukan itu maksud aku, kamu itu ya benar-benar mau bikin aku mati" nafas Chintiya naik turun.


"Sayang, aku gak tahan. Aku mau sekarang, boleh ya" Morens memelas dengan suara parau.


"Eh gak, mana bisa gitu dasar cabul. Lagian ini di kantor" Chintiya langsung turun dari pangkuan Morens dan menuju ke arah dapur mini diruangan itu.


"Sayang mau kemana?" Morens menyusul Chintiya.


"Mau ambil piring sama sendok, bukankah kita mau makan siang"


Morens menangkap Chintiya dan menggendongnya lalu menuju ke room private Morens.


"Ahh turunin, jangan macem-macem ya"


"Makannya nanti aja, aku mau makan kamu dulu sekarang" Morens sudah menahan diri dari tadi, dia menidurkan Chintiya di ranjang


"Stop, kalau tau kaya gini mending tadi aku gak usah kesini"


Morens langsung berhenti dari aktivitas itu.


"Kenapa sayang, kamu gak suka ngelakuin itu sama aku?"


Chintya bangkit sambil merapikan pakaiannya yang sudah agak berantakan dan berjalan keluar.


"Bukan begitu, aku juga mau tapi gak sekarang. Ini dikantor, aku gak mau ada orang tau kegiatan privasi kita dan juga, kamu gak kasian sama aku, sebenarnya kaki aku tuh masih lemes buat jalan. Kamu lupa semalem 7 kali kamu ngulang dan aku harus bangun pagi-pagi, akibatnya kepala aku jadi cenat cenut. Kamu mah enak langsung pules" omel Chintiya.


"Iya sayang maaf ya, aku bener-bener gak bisa tahan kalau deket sama kamu"


"Ya udah kalau gitu, besok-besok aku gak mau dateng kesini lagi"


"Eh jangan dong, iya aku janji gak akan gitu lagi kalau dikantor"


"Bener"Chintiya menatap tajam


"Iya janji, sekertaris judesku"


Kemudian mereka makan siang bersama, setelah selesai makan mereka mengobrol.


"Sweety, tadi kamu bilang kaki kamu lemes, sini biar aku pijitin" Morens jongkok di depan Chintiya


"Tumben"


"Anggep ini buat menebus kesalahan aku udah bikin kamu kaya gini"

__ADS_1


"Alah, pasti ada maunya kan"


"Enggak, ini bener kok buat nebus kesalahan aku"


Ketika Morens sedang memijit Chintiya, dari luar Roby ingin menanyakan beberapa hal pada Morens tapi belum sempat dia mengetuk pintu, dia mendengar suara seorang wanita yang di kenal.


"Oh ada Chintiya di dalam, eh tapi kok itu.." Roby mendengar suara.


"Aww, ahh pelan pelan Morens, kamu itu kasar banget"


"Tahan sayang sebentar lagi selesai"


"Tapi ini sakit banget"


"Ini belum seberapa sayang, kamu tahan ya sebentar lagi aku selesai kok"


Roby bergidik ngilu "Dasar pasangan gila, bisa-bisanya mereka main prosotan disini"umpat Roby.


Ditengah sibuk dengan pikirannya Roby dikagetkan dengan suara Rena yang baru datang.


"Pak Roby, ngapain berdiri di sini?"


"Eh Rena, aku gak ngapa-ngapain" Roby gugup " Kamu mau ngapain kesini?"


"Ini mau anter laporan keuangan, boss adakan di dalem!"


"Ada sih, tapi kamu jangan masuk"


"Kenapa?, boss lagi ada tamu!"


"Bukan, di dalem ada Chintiya"


"Chintya di dalam, kebetulan aku mau ketemu sama dia, udah kangen nih"


"Iya, tapi"


"Tapi apa"


"Eh,,, itu,,, di dalem lagi ada adegan sadis"


"Hah, adegan sadis"


Rena panik, dia mengira Chintiya sedang bertengkar dan mendapat KDRT dari Morens. Dia berniat harus membantu Chintiya.


"Kalau begitu kita masuk pak"


"Jangan"


"Tapi kita harus melakukan sesuatu sebelum terlambat"


"Tapi Ren"


Roby ingin menghentikan Rena, tapi dia terlambat Rena sudah lebih dulu masuk.


BRAAK


Mendengar pintu terbuka dengan kencang, membuat yang didalam terkejut.


"Kenapa kalian disini?" sarkas Morens menatap tajam pada Roby dan Rena.


"Eh anu..."


TBC

__ADS_1


LOVE U


JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN


__ADS_2