Boss Gila Ku

Boss Gila Ku
S3 - Chapter 41


__ADS_3

"Aaarrrgghh. Asgar!!" teriak Mariene yang terjatuh dan melihat Asgar tertembak di bagian perut.


Morens berlari dan menembak balik pria yang menembak Asgar hingga langsung meregang nyawa saat itu juga.


Mariene menghampiri Asgar yang sedang terkapar, dia memangku kepala Asgar yang terlihat lemas dan sudah berwajah pucat.


"Hei, wake up." Mariene mengusap wajah Asgar.


"Stay with me, don't sleep." bentak Mariene.


"Cepat bawa dia ke mobil." ucap Morens pada beberapa anak buahnya.


Mereka segera mengangkat tubuh lemah Asgar ke dalam mobil yang terparkir di luar gedung. Morens berjalan di belakang mengikuti mereka untuk mengantar Asgar ke Rumah sakit.


"Uncle, biar aku saja yang menemaninya." pinta Mariene.


"Tapi.."


"Please uncle!!"


Morens menghela nafas panjang "Baiklah, segera kasih kabar begitu sampai di rumah sakit. Uncle akan menyusul kalian membawa mommy dan daddymu."


"Terima kasih uncle, aku tunggu di sana." Mariene berlari mengejar mereka yang lebih dulu berlalu ke arah mobil.


Morens dan sisa beberapa anak buahnya segera membawa Sandi yang pingsan dan Serena untuk mendapatkan pertolongan medis, setelah itu tak lupa Morens memerintahkan kepada anak buahnya untuk membakar tempat yang digunakan untuk menahan adiknya dan keluarganya.


Setelah melewati jalanan yang cukup sepi selama 20 menit dengan mengendarai mobil dalam kecepatan tinggi, Morens dan yang lainnya tiba di Rumah sakit.


Tim medis segera memberikan pertolongan darurat kepada Asgar, Serena dan juga Sandi.


Di tempat lain.


Sebuah mobil yang berisikan 6 orang pria bertubuh kekar tiba di sebuah pabrik bekas pengolahan limbah yang sudah sangat lama terbengkalai, dimana disitu terdapat sebuah gudang penyimpanan bahan baku di ruang bawah tanah.


Xander bersama timnya mencoba membagi beberapa tim untuk mencoba masuk dari berbagai sudut untuk menggeledah tempat itu.


Xander bersama 1 orang yang lain mencoba masuk melalui pintu belakang, dimana mereka melewati tempat pembuangan limbah pembakaran sisa produksi bahan baku. Aroma busuk dan pengap menguar di setiap sudut jalan yang dia lewati.


"Kita harus hati-hati dan waspada." ucap Xander pada anak buahnya.


"Baik kapten."


Mereka terus berjalan sampai ke sudut paling ujung tempat itu, keadaan semakin gelap karena tempat itu benar-benar tanpa adanya penerangan, hanya mengandalkan cahaya yang masuk dari sela-sela dinding yang mulai berlubang.

__ADS_1


"Kapten, di sana ada beberapa orang yang berjaga." lapor sang anak buah saat melihat disudut ruangan nampak beberapa orang yang berjaga di depan sebuah pintu seperti menuju ke sebuah ruangan rahasia atau bawah tanah.


"Kita tunggu disini, amati mereka dulu dan cari celah untuk masuk. Aku yakin ada sesuatu di dalam sana."Xander bersembunyi dibalik sebuah dinding.


" Apa nona Mora ada di sana?"


"Mungkin saja, bisa juga ada sesuatu yang lain. Kita harus bertindak dengan terencana."


"Siap."


Mereka mengamati pergerakan ruangan itu, setelah beberapa saat mereka menunggu, nampak seorang pria datang dari arah lain yang sangat tersembunyi.


Pria itu nampak berbicara kepada orang yang berjaga di sana, tak lama kemudian para penjaga itu pergi dan pria itu masuk ke ruangan tersebut.


Setelah memastikan bahwa para penjaga benar-benar pergi, Xander dan timnya menuju ke ruangan dimana pintu besi itu tertutup rapat.


Xander mencoba membuka pintu itu, namun terkunci dari dalam. Mau tidak mau, dia harus mencari cara lain agar bisa masuk.


Saat sedang berdiskusi dengan timnya, Xander mendengar suara barang yang di lemparkan dan tak lama terdengar kembali suara teriakan suara letusan pistol disertai dengan jeritan seorang wanita yang nampak tidak asing.


"Mora!!" Xander terbelalak mendengar suara jeritan wanita yang dia yakini adalah suara kekasih hatinya.


Amarah Xander mencuat, dia sangat marah jika sesuatu terjadi pada cintanya.


"Ok."


"1 2 3." Xander memberi aba-aba.


Beberapa kali mendobrak, namun pintu itu tetap tidak bisa terbuka.


"Kapten, sepertinya kita harus gunakan cara lain."


"Ya, kau benar. Kau bawa alat peledak itu kan!!"


"Pasti."


"Cepat pasang."


Anak buah Xander memasang sebuah alat peledak yang direkatkan di daun pintu itu, terpaksa Xander menggunakan alat itu.


Walaupun ledakannya dapat memicu yang lainnya mendekat, namun Xander tidak punya pilihan lain. Dia tidak bisa membuang waktu lagi, dia khawatir terjadi sesuatu pada Mora jika dia tidak segera masuk kedalam ruangan yang belum dia ketahui itu.


Saat alat berhasil di pasang, dalam hitungan beberapa detik alat itu meledak dan membuat pintu yang terbuat dari besi itu terbuka dan terpental.

__ADS_1


Xander segera melangkah masuk.


"Kau berjaga disini, bila terjadi sesuatu diantara kita, beri siulan sebagai tanda."


"Ok."


Xander masuk seorang diri, di dalam sana ruangan begitu gelap tak ada tanda-tanda adanya seseorang. Namun dia yakin ada sesuatu tempat tersembunyi di dalam sini, karena tadi dia melihat seorang pria masuk kesini dan bahkan dia mendengar suara jeritan.


Xander memukul-mukul dinding atau apapun yang berada di sana, siapa tau dia menemukan sebuah tombol atau apapun itu sebagai akses.


Xander juga mencoba menyingkirkan semua benda yang menempel di dinding guna berharap menemukan sesuatu, namun tidak ada satu hal yang dapat dijadikan sebagai petunjuk.


Xander menghela nafas panjang, dia mengusap wajahnya dengan menggunakan sebelah tangan, dan tangan sebelahnya dia gunakan untuk bersandar pada sebuah tiang yang biasa digunakan untuk menggantung jaket atau topi.


Secara tidak sengaja dia menggoyangkan tiang itu dan membuat sepetak papan di lantai bergeser dan menampakan sebuah tangga menuju ke sebuah ruangan bawah tanah.


Xander perlahan melangkah menuruni tangga tersebut, hingga di pijakan terbawah dia melihat seorang wanita tengah berdiri dalam keadaan terikat, dan seorang pria berdiri di belakangnya sedang mencengkram dagu wanita itu.


Dalam keadaan yang remang-remang, Xander masih dapat mengenali dari pakaian dan sisa aroma parfum yang berasal dari tubuh wanita itu.


"Mora!!"


Xander memperhatikan kondisi Mora yang nampak kacau, rambutnya berantakan, pakaiannya yang sedikit terkoyak, wajahnya pucat dan ada aroma darah yang menetes dari tangan kanannya.


"Kurang ajar!!, kau apakan dia?" bentak Xander.


"Kami hanya sedikit bermain-main."


"SIALAN!!, Sebenernya kau ini siapa?. Apa maumu?" hardik Xander mengacungkan pistol pada pria itu.


"Aku,,, aku orang yang selama ini kau cari. Aku Bernard Alfonso."


"APA!!!" kaget Xander tak percaya.


......................


......................


TBC


LOVE U ALL MMMMUUUAAACCHHH


💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2