Boss Gila Ku

Boss Gila Ku
S3 - Chapter 25


__ADS_3

"Kamu kenapa sih?, cemberut aja. Ngerusak pemandangan tau." cibir Mora.


Pasalnya, sedari awal keberangkatan mereka ke Amerika, Xander memasang wajah masam pada Mora.


Dia lebih memilih untuk duduk menjauh di dalam pesawat, mereka terbang ke Amerika menggunakan helikopter yang biasa digunakan Xander untuk bertugas karena lebih cepat dan efisien.


Mereka memilih memajukan jadwal keberangkatan mereka kesana, karena Sandi mengatakan kondisi Serena yang semakin melemah. Mora bahkan mengatakan kepada Morens dan Chintiya bahwa mereka kesana karena ada urusan pekerjaan.


"Hei Mr X, ngomong dong jangan diem aja." ucap Mora lagi, karena Xander masih tak kunjung bicara.


Mora berdecak, ini bukanlah gayanya yang harus merayu laki-laki, dan ini pertama kalinya dia melakukan itu. Karena sepertinya kali ini Xander benar-benar merajuk dan dia tidak suka didiamkan seperti itu.


"Mr X, bagaimana kalau kita mengobrol." ucap Mora lembut mencoba meluluhkan pria itu.


Namun Xander masih bergeming, dia masih tetap fokus memandang keluar jendela samping heli.


"Xander yang tampan, minum ini dulu ya. Kamu pasti haus kan." tawar Mora memberikan sebotol air mineral dan menggeser duduknya lebih dekat pada Xander.


Xander hanya meliriknya sekilas lalu mengambil botol yang ada di tangan Mora tanpa menatap Mora.


"Terima kasih." ucap Xander singkat.


Mora menghembuskan nafas kasar, dia membuka 2 buah kancing kemejanya bagian atas dan menggulung lengan kemejanya sedikit. Kemudian dia berpindah dan duduk diatas pangkuan Xander yang masih diam tak bergeming.


"Sayang, mari kita bermain game." rayu Mora sambil menyodorkan ponselnya pada Xander dan bicara dengan setengah berbisik.


Merasakan sapuan nafas Mora di telinganya, Xander menatap tajam Mora dengan tatapan lapar.


"Aku gak mau main."


"Trus kamu maunya apa hm?" goda Mora berbisik.


"Aku mau bersenang-senang."


"Wow, apa itu?"


"Dengan ini." Xander menarik kepala Mora dan ******* bibirnya lembut.


Mora tersenyum dalam hati, akhirnya rayuannya berhasil juga. Dia tau, Xander pasti tidak akan tahan dengan rayuan dan wajah menggodanya.


Mora membalas ciuman Xander dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Xander, dia juga membuka mulutnya agar Xander bisa leluasa memasukkan lidahnya dan bermain disana.


Mendapat sambutan hangat, Xander semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Mora hingga tak ada jarak sedikitpun antara mereka.


Xander menahan dan menekan tengkuk Mora seraya memperdalam ciuman mereka, hingga membuat Mora kesulitan untuk bernafas.


Mora menggigit lidah Xander karena pria itu tak kunjung melepaskan tautan bibir itu.


"Xan, kamu... Mau balas.. dendam sama aku." ucap Mora terbata seraya mengatur nafasnya yang masih terasa terputus-putus.

__ADS_1


"Ya, aku hukum kamu. Kamu udah berani bohongin aku ya." kesal Xander.


Karena sejak kejadian kemarin, setiap Oxen bertemu dengannya pasti memanggil dirinya dengan sebutan Si PD (Pria Dekil) seperti yang dia ucapkan kemarin.


Bahkan Mark yang notabene saingannya dalam mendapatkan Mora sempat menertawakan dirinya karena ulahnya kemari. Dan itu semua karena Mora, wanita menyebalkan yang sayangnya sangat dia kagumi.


"Maaf, aku gak sengaja kok."


"Kali ini aku maafin, tapi lain kali. Jangan harap kamu akan aku lepasin, aku akan bikin kamu gak bisa jalan dengan benar dibawah tubuh aku." ancam Xander dengan menggigit bahu Mora.


"Ah, sakit."


"Kita lanjut yang tadi."


Belum sempat Mora menjawab, Xander sudah menubruk bibir Mora dengan bibirnya. Xander menurunkan sedikit kemeja Mora pada bagian bahunya dan mencumbunya dengan mesra.


"Uggh." tanpa sengaja Mora melenguh merasakan kenikmatan itu.


Pilot heli itu yang tidak sengaja melihat dari pantulan kaca di depan, hanya bisa menghela nafas panjang.


"Ekheem." si pilot berdehem untuk menyadarkan kedua makhluk tadi. Bahwasanya bukan hanya mereka berdua yang ada disana, melainkan ada orang lain juga.


Mereka langsung memisahkan diri saat mendengar deheman dari si pilot, kemudian keadaan menjadi hening hingga mereka tiba di sana.


Mereka mendarat di roof top salah satu hotel ternama di sana, dan tentu saja dengan izin yang sudah diurus oleh orang kepercayaan Xander.


Mereka memasuki hotel, dan mengistirahatkan tubuh mereka sejenak. 2 jam kemudian Xander menjemput Mora di kamarnya untuk menuju ke rumah sakit dimana Serena dirawat selama 2 bulan ini.


"Hai sayang, kamu udah datang. Kenapa cepat banget?" tanya Sandi sedikit bingung, karena dia tidak menyangka Mora akan tiba secepat itu.


"Kami menggunakan helikopter."


"What!, heli?" tanya Sandi menyelidik.


"Punya seorang teman."jawab Mora asal.


" Oh, trus siapa dia?" tunjuk Sandi pada Xander yang berdiri di belakang Mora.


"Dia asisten ku."


"Hallo tuan Sandi, saya Xander Cloud." ucapnya memperkenalkan diri.


"Cloud!, kayanya aku pernah dengar nama itu." Sandi seperti mengenal siapa Xander.


"Nanti juga uncle akan tau, sekarang gimana keadaan aunty?" Mora mengalihkan pembicaraan.


"2 hari ini kondisinya semakin melemah, bahkan kemarin jantungnya sempat berhenti. Tapi untung saja dokter masih bisa menanganinya, cuma dokter bilang. Sera akan sulit untuk sembuh." jelas Sandi frustasi.


"Apa 2 hari kemarin, ada yang mengunjungi aunty?" tanya Mora.

__ADS_1


"Seingat uncle enggak."


"Apa uncle yakin?"


Sandi mengangguk "Karena 2 hari ini uncle tidak pergi kemanapun, bahkan makanan dan pakaian diantar oleh suruhan uncle."


Mora sejenak berpikir dan menatap Xander yang juga tengah berpikir.


"Tapi.."


"Tapi apa?"


"2 hari yang lalu ada seorang dokter wanita pengganti yang menangani Sera." sambung Sandi teringat sesuatu.


"Lalu apa yang dokter itu lakukan?" selidik Xander yang curiga dengan dokter itu.


"Dia menyuntikkan sesuatu kedalam botol infus Sera, dia bilang itu adalah obat penguat jantung, dan dia juga bilang kalau dia adalah dokter spesialis yang didatangkan khusus dari pihak rumah sakit." jelas Mora.


"Apa hari ini dokter itu sudah memeriksa nyonya Serena."


"Aku hanya melihatnya satu kali, dan aku belum melihatnya lagi hingga kini."


"Kalau begitu, kita harus bertindak cepat." ucap Xander serius.


"Sebenarnya ada apa ini?" tanya Sandi yang bingung dengan Xander dan Mora.


"Nanti Mora jelaskan uncle." timpal Mora.


"Tuan Sandi saya minta tolong, coba anda minta data dokter yang menangani nyonya Serena 2 hari yang lalu."


"Terus kamu sayang, minta recaman CCTV yang ada di lorong ini dari 3 hari yang lalu."


"Aku akan meminta seorang teman untuk mengecek kondisi nyonya Serena, dan mengambil sample darahnya untuk diteliti.


Kita harus bertindak cepat, kalau tidak nyawanya tidak akan bisa tertolong." jelas Xander.


"Aku percaya sama kamu." Mora menatap haru Xander.


"Tapi kenapa dia panggil kamu sayang Mora?" selidik Sandi.


"Gak ada waktu buat bahas itu uncle." seringai Mora berjalan keluar dari ruang rawat Serena.


"CK, kalian menyebalkan." umpat Sandi mengikuti langkah Mora keluar dari sana.


......................


......................


TBC

__ADS_1


LOVE U ALL MMMUUUAAACCHHH


💜💜💜


__ADS_2