Boss Gila Ku

Boss Gila Ku
Chapter 74


__ADS_3

"Assalamualaikum"


"Walaikumsalam" jawab Morens lesu.


"Ya ampun kak, kamu jelek banget ih. Enggak kaya kakak aku yang biasanya."


"Bawel."


"Ayolah kak, biar bagaimanapun kakak juga harus menjaga dan merawat diri sendiri. Emang kakak mau, pas kakak ipar sadar trus liat suaminya jelek, kurus, berantakan dekil pula. Yang ada kakak ipar bakal cari daddy baru buat Mora." ucap Serena.


Saat ini Serena sedang bergantian dengan Richard menemani kakak dan kakak iparnya di rumah sakit. Sedangkan Lexi dibantu dengan bi Susi sedang menjaga putri kecil Morens dan Chintiya yang sudah 7 hari ini berada di rumah.


Bayi mungil nan cantik yang diberi nama Zimora Rachael Hadinata itu, sangat mengerti dengan keadaan orang tuanya saat ini. Mora jarang sekali menangis dan lebih banyak tersenyum kepada setiap orang yang menyapa, seperti sedang memberi ketenangan bagi semua.


"Oh ya kakak udah makan belum?" tanya Serena.


"Belum."


"Kalau gitu kakak makan dulu, mommy bawain makanan buat kakak." Serena menyodorkan kotak bekal nasi kepada Morens.


"Ntar aja, kakak belum lapar." tolak Morens.


"Ayolah kak, jangan kaya gini terus. Kakak gak sayang sama Mora ya, kalau kalian berdua sakit, pasti Mora juga merasakannya kak. Ikatan orang tua dengan anaknya itu sangat kuat, mereka bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang tuanya." ucap Serena panjang lebar.


Morens terdiam dan berfikir, membenarkan semua yang diucapkan oleh adiknya itu. Dia tidak menyangka, adiknya yang sangat terlihat manja itu ternyata bisa berpikir dengan sangat bijak.


"Ya sudah, bawa kesini makanannya." pinta Morens.


"Nah gitu dong, dari tadi kek. Kan aku gak usah ngomong panjang kali lebar kali tinggi sama dengan luas."


Morens makan dengan sangat lahap, karena memang sudah berapa hari ini Morens makan dengan tidak teratur. Kalau biasanya Chintiya yang super berisik selalu mengingatkan Morens untuk makan, namun bagaimana untuk saat ini.


Serena melihat kakaknya makan dengan sangat lahap, membuat senyumannya merekah indah. Dia berharap semoga keadaan cepat kembali seperti sediakala.


Entah kenapa tiba-tiba Serena teringat dengan Sandi, kenangan indah saat mereka bersama sangat berkesan, walaupun hanya sebentar. Dia tersenyum mengingat semua itu, namun senyumannya mendadak hilang saat dia mengingat saat terakhir dia menghabiskan waktunya bersama Sandi. Kejadian yang tidak akan pernah terlupakan oleh Serena, bahkan sampai saat ini kejadian itu masih menjadi bumerang bagi Sandi dan Serena.


Flashback on


"Apa masih mau berkeliling?" tanya Sandi.


"Enggak ah aku capek, mendingan kita cari resto. Soalnya penghuninya sudah menabuh genderang perang. Abis itu kita pulang aja, karena aku gak mau bikin kerjaan kamu terbengkalai karena sibuk nemenin aku jalan-jalan."


Saat ini Serena dan Sandi sedang duduk di kursi sebuah taman yang ada di pinggir jalan, setelah mereka merasa puas berkeliling kota Jakarta.

__ADS_1


"Kamu yakin udah gak mau kemana-mana lagi."


"Iya."


"Ya udah, sekarang kita cari resto yang enak ya."


"Lets go."


Mereka beranjak dari taman tersebut dan naik ke mobil, Sandi segera melajukan mobilnya ke sebuah resto untuk mengisi perut mereka yang dimana penghuninya sudah mulai menabuh genderang perang.


Kini mereka sudah sampai di sebuah restoran yang menyediakan menu makanan khas Indonesia, mereka segera turun dan kemudian mereka mencari tempat yang dirasa paling nyaman untuk mereka tempati.


Setelah itu mereka memesan makanan, saat sedang menunggu pesanan tiba-tiba Sandi tersadar bahwa ponselnya tertinggal di mobil.


"Ser, aku keluar dulu ya. Ponselku ketinggalan di dalam mobil."


"Oh, ya udah tapi jangan lama. Ntar makanannya keburu datang dan dingin lagi."


"Ok."


Sandi keluar menuju ke tempat parkir, saat sudah sampai di samping mobilnya dan hampir memegang handle pintu mobil itu. Sandi melihat banyak warga berlarian dan berkerumun.


Karena penasaran dengan apa yang terjadi, Sandi mendatangi kerumunan itu dan melupakan niat awalnya untuk mengambil ponselnya.


Sandi melihat seorang wanita dengan posisi tertelungkup dan sudah bersimbah darah, namun entah kenapa para warga hanya menyaksikan saja tanpa ada yang berniat membawa ke rumah sakit. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak ingin dan takut kalau sampai nanti mereka harus berurusan dengan pihak kepolisian.


Akhirnya Sandi berinisiatif membawa wanita itu ke rumah sakit, karena jika di biarkan terlalu lama bisa-bisa wanita itu meninggal karena terlalu banyak mengeluarkan darah.


Saat mengangkat wanita itu, Sandi melihat wajahnya. Betapa terkejutnya dia saat mengetahui siapa wanita yang saat ini ada di dalam gendongannya.


"Nitta, benarkah ini kamu. Astaga!! apa yang terjadi sama kamu?"


Sandi langsung membawa Nitta ke rumah sakit, dan karena letak tempat parkir resto lumayan jauh. Jadi mereka yang ada di dalam tidak tau apa yang terjadi di luar, begitupun dengan Serena.


Sandi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia begitu panik akan terjadi sesuatu pada Nitta. Begitu sampai di rumah sakit, Sandi langsung turun dan menggendong Nitta sambil berteriak.


"Some body help me!!"


Saat mendengar teriakan Sandi beberapa orang petugas rumah sakit datang dengan membawa brankar untuk membawa tubuh Nitta ke ruang IGD, kemudian Sandi memarkirkan mobilnya terlebih dahulu lalu segera menyusul ke ruang IGD, bahkan dia juga melupakan ponselnya yang tergeletak di dashboard mobilnya. Sandi sangat khawatir dengan kondisi Nitta saat ini, sampai-sampai dia melupakan bahwa Serena sedang menunggunya di restoran.


DI RESTORAN


Serena sabar menunggu Sandi, tapi 30 menit berlalu namun Sandi belum kembali. Dia mencoba menghubungi ponsel Sandi, tapi tidak ada jawaban.

__ADS_1


1 jam, 2 jam sudah Serena menunggu, tapi Sandi belum juga kembali. Makanan yang mereka pesan pun hanya terabaikan dan tidak disentuh sama sekali, dia sudah kehilangan selera makan. Serena sangat khawatir takut terjadi sesuatu pada Sandi.


Akhirnya 3 jam berlalu, kesabaran Serena sudah di puncak. Tubuh yang lelah dan rasa khawatir juga marah yang menyelimutinya membuat Serena tidak bisa berfikir jernih. Untuk yang terakhir dia mencoba menghubungi Sandi, namun hasilnya masih tetap sama. Akhirnya Serena memilih pulang setelah membayar makanan yang sama sekali tidak berkurang isinya itu.


KEMBALI KE RUMAH SAKIT


Sandi terus mondar-mandir menanti kabar dari dokter yang masih menangani Nitta di dalam, dia tidak peduli dengan penampilannya saat ini. Bajunya sudah penuh dengan darah yang mengalir dari tubuh Nitta, rambut yang acak-acakan dan wajah yang lesu menjadi tampilannya saat ini.


Karena lelah dia memilih duduk di kursi tunggu, dia menopang dagunya dengan kedua tangannya yang bertumpu pada pahanya sambil memejamkan matanya mencoba untuk menenangkan dirinya. Namun tiba-tiba dia teringat dengan Serena.


"Astaghfirullah, Serena."


Sandi langsung berlari menuju ke tempat parkir dan masuk ke dalam mobil lalu mencari ponselnya, dia juga baru teringat kalau dari tadi dia tidak membawa ponsel.


Sandi berniat menghubungi Serena, namun rasa bersalahnya semakin besar setelah melihat banyaknya pesan dan panggilan dari Serena.


Dia langsung melajukan mobilnya meninggalkan area rumah sakit dan menuju ke resto dimana dia meninggalkan Serena disana. Si sepanjang perjalanan dia terus berusaha menghubungi Serena tapi tidak ada jawaban sama sekali. Rasa bersalah yang dia rasakan makin bertambah banyak kala mengingat sudah berapa lama dia meninggalkan Serena tanpa kabar.


"Dasar bodoh kamu Sandi, bodoh bodoh bodoh. Bagaimana bisa kamu lupa kalau kamu tadi bersama Serena, hanya karena melihat Nitta wanita yang aaargghh." umpat Sandi pada dirinya sendiri, sambil memukul stir mobil.


Begitu sampai di restoran tadi, dia memarkirkan mobilnya secara asal. Dia tidak perduli keamanan akan memarahinya, dia juga tidak peduli dengan penampilan tubuhnya saat ini, hingga dia menjadi pusat perhatian para konsumen yang sedang berada di sana.


Sandi mencari-cari ke setiap sudut restoran, bahkan dia juga mencari Serena sampai ke depan pintu masuk toilet wanita. Andai saja masuk kedalam toilet wanita tidak melanggar norma, pasti dia sudah mencarinya kedalam.


Setelah menunggu selama 30 menit di depan toilet dan orang yang dicari ternyata tidak ada. Sandi keluar dari sana dengan satpam yang mengusirnya karena dia sudah membuat keributan dan membuat para pengunjung restoran tidak nyaman.


"Ser, kamu dimana?, aku gak tau siapa kamu?, aku juga gak tau dimana kamu tinggal?, satu-satunya yang aku tau cuma no ponsel kamu. Tapi kamu gak angkat telpon dari aku. Sera maafin aku, maaf maaf maaf, aku tau kamu pasti kecewa dan marah banget sama aku. Tapi please Sera, tolong jawab panggilan dari aku." ucap Sandi bermonolog, sambil mencoba menghubungi Serena untuk yang kesekian kalinya dan sambil terduduk di lantai dengan bersandar pada mobilnya.


Flashback off


Info sedikit buat kalian. Jangan lupa mampir ke cerita aku yang berjudul Takdir Cinta Andrea.


Kisah ini adalah kisah nyata yang 85% adalah kisah kehidupan yang aku alami dan ditambah 15% bumbu-bumbu kehaluanku, yang membuat ceritanya dijamin bikin meleleh bin luber seluber lubernya.


Nama tokoh dan latar tempat kejadian aku samarkan ya, demi menjaga privasi. Tapi untuk konflik semua real nyata, cus ya baca dulu deh pasti penasaran.


Untuk BOSS GILA KU chapter ini 2 part jadi satu, total 1720 kata. Sebagai rasa terima kasih aku buat kalian yang sudah bersedia mberi dukungan buat aku.


Kalau mencapai 50 like dan 50 komentar sampai jam makan siang, aku tambah up lagi.


Ahai ngarep banget ya.


TBC

__ADS_1


LOVE U ALL MMMUUUAAACCCHHH


__ADS_2